Monday, 5 April 2021

Pakai MyValue, Diskonnya Bikin Ngilu!


Gue adalah tipe orang yang beli barang kalau lagi butuh aja. Misalnya, waktu belanja ke Alfamart, dari rumah niat beli shampo, pulangnya ya bawa shampo. Gue jarang tergoda dengan produk-produk lain yang memang nggak butuh-butuh banget gue beli. 


Beda halnya dengan salah satu temen gue dulu. Niatnya beli cemilan, pulang-pulang bawa es krim, mie goreng, sampai sikat gigi. Gue curiga, temen gue ini memang hobi nyemilin sikat gigi.


Selain karena butuh, alasan lain yang bikin gue tertarik untuk membeli suatu produk adalah karena lagi ada promo atau diskon. Ya, jiwa hemat pangkal kaya gue lumayan menggebu-gebu tiap ada tanggal cantik.


Contoh paling baru ketika gue pengin beli buku. Kebetulan, waktu itu Gramedia lagi ulang tahun ke-47. Dalam rangka tersebut, mereka menyelenggarakan diskon besar-besaran berupa potongan harga sampai 100 ribu dengan minimal pembelian 200 ribu. Mata gue langsung berbinar-binar karena diskonnya bisa sampai 50%.


Setelah mencari tahu, ternyata diskon tersebut khusus pengguna aplikasi MyValue. Jujur, waktu itu gue nggak pernah tahu apa itu MyValue. Jangankan tahu, denger aja belum pernah kayaknya.


Nggak perlu waktu panjang bagi gue buat langsung mengetik Aplikasi MyValue di search bar Google untuk menelaah lebih dalam. 


Nah ternyata MyValue adalah aplikasi digital berupa reward program dari Kompas Gramedia Group. Sebelumnya, berbentuk kartu KG Value Card dengan 13 jenis kartu berbeda. Kartu tersebut antara lain Santika Important Person, Gramedia Card, Gramedia Kids, Miiko, Kompas, The Jakarta Post, Bentara Budaya, Klub Bobo, Klub Nova, Kontan, Kompasiana, ELTI dan UMN.


Tentu aja dengan banyaknya kartu untuk setiap pelayanan, malah bikin pusing karena harus mengoleksi beraneka ragam kartu. Belum lagi kalau lagi marah-marah, bisa juga dapet kartu…..merah. Nah dengan MyValue inilah, pelanggan bisa menikmati berbagai kemudahan. 


Seperti sempat gue bilang, MyValue merupakan reward program dari Kompas Gramedia Group, sehingga dengan aplikasi ini pelanggan dimudahkan untuk menikmati aneka promo menarik hanya dengan menukarkan Value Point di aplikasi MyValue. Mulai dari promo harga khusus hotel, buku murah, voucher gratis, diskon makanan, minuman, fashion, hiburan hingga pendidikan.


Jadi, setiap kita membeli produk atau menggunakan layanan dari Kompas Gramedia Group, bakal mendapatkan Value Point, yang nantinya bisa ditukarkan dengan macam-macam promo menarik.


Sekarang, gimana sih cara pakai aplikasi MyValue?


1. Unduh Aplikasi MyValue di Playstore atau Appstore





Langkah pertama untuk memakai aplikasi MyValue tentu aja install dulu dong. Tim android bisa mencari di Playstore. Tim apple, bisa pergi ke App Store. Tim Nokia Symbian, tinggal masuk ke mesin waktu terus pergi ke masa sekarang.


2. Daftar Akun MyValue





Setelah selesai mengunduh, maka tiba waktunya untuk membuat akun baru di aplikasi MyValue. Ada tiga pilihan yang ditawarkan, daftar lewat akun Google sehingga terverifikasi otomatis, daftar dengan Facebook, atau bisa juga daftar menggunakan email.


Kalau gue lebih prefer daftar lewat akun Google supaya terintegrasi dengan berbagai akun yang sudah gue buat.


3. Tunggu Kode Aktivasi




Setelah selesai mengisi data diri, termasuk nomor telepon. Kini giliran kamu menunggu kode aktivasi yang akan dikirim melalui SMS. Nggak perlu nunggu lama sampai akhirnya kode aktivasinya dikirim. Beda halnya sama kode gebetan yang dari dulu udah dikodein tapi masih belum respons-respons ckckc.

4. Nikmati Berbagai Keuntungan dari Aplikasi MyValue




Setelah memasukkan kode aktivasi, artinya kamu sudah sah terdaftar sebagai pengguna aplikasi MyValue. Itu artinya, kamu sudah bisa menikmati promo-promo menarik yang ditawarkan oleh Kompas Gramedia Group.

Dalam kasus gue waktu itu, gue berhasil mendapatkan diskon membeli buku di Gramedia sebesar Rp100.000. Perlu dicatat, pembelian bukunya atau produk lainnya harus dilakukan secara offline. Jadi, kamu wajib menunjukkan voucher yang ada di aplikasi MyValue ke kasir.


Semoga ke depannya, makin banyak lagi nih diskon-diskon yang dikasih Kompas Gramedia Group. Solanya kalau pakai MyValue, diskonnya bikin ngilu!


Saturday, 3 April 2021

Pengalaman Bermain Mini Soccer di Bromelia Sport Center


Tanggal 28 Maret 2021 kemarin, gue diajak temen buat main sepak bola mini atau mini soccer di Bromelia Sport Center. Ajakan itu, tentu langsung gue iyakan tanpa perlu pikir panjang. Alasannya, pertama, karena gue udah lama banget nggak olah raga. Ya, sejak pandemi, gue memang banyak mengurangi aktivitas di luar ruangan. Padahal mah memang mageran aja anaknya. Kedua, ini adalah kali pertama gue berkesempatan buat menjajal lapangan Mini Soccer di Bromelia Sport Center.

Sebagai salah satu atau bahkan satu-satunya lapangan mini soccer yang ada di daerah Bogor, membuat Bromelia Sport Center jadi tempat yang lagi banyak diomongin di scene anak-anak bola Bogor. Tentu aja, hal ini bikin gue penasaran, seperti apa sih lapangan yang letaknya di daerah puncak Bogor ini?

Akes ke Bromelia Sport Center





Meskipun berada lumayan jauh dari pusat kota Bogor, namun akses ke Bromelia Sport Center cukup mudah. Alamat lengkapnya di Jl. Hankam No.51, RT.01/03, Leuwimalang, Kec. Cisarua, Bogor. Gampangnya, kalau berangkat dari Bogor Kota, tinggal melewati jalan yang ke arah Puncak. Atau kalau mau gampangnya lagi, tinggal buka maps dan ketik Bromelia Sport Center. Soalnya, letaknya nggak di pinggir jalan, tapi harus masuk dulu ke dalam gang.

Waktu itu, gue berangkat naik motor sehingga nggak terkena macet di jalan puncak. Padahal itu adalah hari Minggu. Jadi mungkin saran dari gue sih, kalau mau naik mobil, apalagi di waktu weekend, perlu datang sedini mungkin. Amit-amit kalau taunya kena sistem buka tutup juga.

Fasilitas di Bromelia Sport Center



Sebagai tempat olahraga baru di Bogor, Bromelia Sport Center dibekali oleh kualitas lapangan yang sangat bagus. Mulai dari rumput, gawang, sampai jaring pembatas lapangan yang masih terawat dengan baik.

Salah satu keunikan dari Bromelia Sport Center, adalah adanya locker room untuk dua tim yang bertanding. Locker room ini bukan cuma berfungsi sebagai ruang ganti aja, tapi cuma tempat foto-foto yang instagramable. Kalau fotografernya jago, bisa berasa lagi di foto di locker room Old Trafford sebelum tanding

Selain itu, fasilitas penunjang lainnya seperti mushola, kafe, dan bahkan tempat nobar pun tersedia di sini. Jadi cukup nyaman kalau memang mau mengajak pacar atau keluarga nontonin kamu main.

Area parkir yang disediakan juga cukup luas. Jadi jangan khawatir kalau bawa mobil dan bingung mau parkir di mana.

Mungkin salah satu hal yang gue suka dari tempat ini adalah, suasana yang enak banget. Gimana nggak, lokasinya di sekitar puncak, bikin udara masih segar. Apalagi ditambah cuacanya yang lumayan dingin, bawaannya pengen dipeluk kamu. Padahal waktu itu, gue main jam 2 siang!

Nggak kebayang kalau main malem sekitar jam 7 atau 8an, mungkin udah kayak main di Liga Champions alias cuaca eropa banget!

Berapa Harga Sewanya?



Bromelia Sport Center buka dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam. Nah untuk biaya sewa per jamnya sendiri sebenarnya nggak mahal-mahal banget. Apalagi waktu gue main, karena tempat ini baru dibuka, jadi lagi ada promo dari Maret sampai April yang lumayan.

Daftar harga sewa lapangan Bromelia Sport Center (Harga promo Maret-April):

Pukul 08.00 - 11.00 WIB: IDR 300.000 jadi IDR 250.000
Pukul 11.00 - 14.00 WIB: IDR 250.000 jadi IDR 200.000
Pukul 04.00 - 16.00 WIB: IDR 300.000 jadi IDR 250.000
Pukul 16.00 - 23.00 WIB: IDR 350.000 jadi IDR 3000.000

Apa Perbedaan Mini Soccer dan Futsal?




Nah mungkin banyak yang belum tahu, sebenarnya apa sih yang membedakan antara mini soccer dengan futsal? Padahal kan dua-duanya main pakai bola dan tujuannya cetak gol ke gawang lawan.

Perbedaan paling mendasar dari olahraga turunan sepak bola itu adalah dari luas lapangan dan jumlah orang yang bermain. Dalam permainan futsal, luas lapangan biasanya berukuran panjang 25-42 meter dan lebar 15-25 meter. Sedangkan lapangan standar mini soccer adalah 12,5 x 25 meter.

Untuk jumlah pemain tiap tim, futsal terdiri dari lima orang termasuk penjaga gawang. Sedangkan mini soccer dimainkan 7 lawan 7 atau ada juga yang 9 lawan 9. Keduanya nggak punya aturan offside. Tapi di mini soccer, kalau bola keluar lapangan, harus dilempar. Beda halnya dengan futsal.

Perlu diperhatikan juga sepatu apa yang dipakai untuk bermain mini soccer. Pasalnya, waktu gue main di Bromelia Sport Center, gue memakai sepatu futsal. Alhasil, setiap gue berlari terus berhenti tiba-tiba, akan otomatis terpeleset. 

Jadi, kalau kamu pengen main mini soccer di Bromelia Sport Center, harus pakai sepatu bola dengan pull supaya nggak licin. Terutama kalau lapangan habis kehujanan sehingga rumput jadi basah.

Bonus foto-foto waktu main. Karena main bola zaman sekarang tujuan utamanya bukan nyari keringet, tapi nyari pose foto yang bagus buat dipost di Instagram!















Thursday, 1 April 2021

Buku-buku Gue di Bulan Maret 2021



Bulan Maret jadi bulan paling produktif bagi gua dalam hal membaca buku. Kurang lebih ada 9 buku yang berhasil gue tamatkan. Malah beberapa bukunya sempat gue bikin reviewnya di blog ini.

Sebenarnya, gue lagi membangun kebiasaan untuk rajin membaca buku. Hal ini berawal ketika gue lagi berjelajah di Quora, dan menemukan sebuah thread tentang profil Elon Musk. 

Siapa sih yang nggak tahu Elon Musk? Bagi gue Elon Musk adalah Tony Stark in real life. Dia pencipta mobil super canggih yang dinamakan Tesla. Punya roket Starship SpaceX yang diharapkan kelak jadi alat transportasi ke Mars. Juga punya anak yang diberi nama X Æ A-12 Musk yang bikin pegawai kelurahan kebingungan waktu bikin akte kelahiran.


Salah satu fakta yang menarik tentang Elon Musk adalah kebiasaannya membaca buku kurang lebih 10 jam setiap hari. Bayangin, 10 jam loh! Nggak heran kepala Elon Musk isinya ilmu semua bukan info-info gosip dari Lambe Turah.


Menurut gue, membaca itu adalah salah satu kebiasaan yang effortless alias gak perlu membebani tubuh. Kita bisa sambil rebahan, dengerin musik, garuk-garuk punggung. Beda halnya kayak hobi olahraga yang membutuhkan gerak seluruh badan. Duh gak cocok buat anak-anak mageran seperti gue. Apalagi perintah pertama Tuhan kepada umat muslim adalah Iqro a.k.a bacalah. 


Jadi gue mau urutin, daftar buku-buku yang gue baca selama bulan Maret kemarin.


1. Laut Bercerita


Laut Bercerita merupakan buku karangan Leila S. Chudori yang rilis tahun 2017. Jujur, pertama kali lihat cover buku ini, gue pikir bergenre fantasi yang ringan untuk dibaca. Tapi, setelah gue tahu, Laut Bercerita adalah buku yang lumayan dalem, baik itu dari sisi cerita maupun makna yang disampaikan.


Bergenre His-Fi, Laut Bercerita mengangkat kisah para mahasiswa Indonesia yang hilang secara misterius di era orde baru. Perjuangan mereka yang menuntut keadilan atas kepergian 13 orang yang sampai saat ini tidak ada kejelasannya, menjadi pesan penting yang ingin disampaikan oleh Laila.


Laut Bercerita berhasil membawa gue menyelami bagaimana kelamnya sejarah hitam bangsa Indonesia di bawah pimpinan Soeharto.


2. Keajaiban Toko Kelontong Namiya


Mungkin Keajaiban Toko Kelontong Namiya karya Keigo Higashino jadi buku favorit yang gue baca di bulan Maret. Cukup satu kata untuk menggambarkan seluruh isi dari buku ini, Heartwarming. Premisnya unik, ceritanya menyenangkan, dialog antar karakternya juga bikin hati adem kayak lagi tiduran di lantai mushola.


Menceritakan tentang sebuah toko kelontong bernama Namiya yang menjadi tempat curhat orang-orang melalui surat. Tapi siapa sangka, kalau toko itu punya daya magis. Pasalnya, aliran waktu di dalam toko tersebut seolah berhenti. Bahkan mereka yang di dalam, bisa berinteraksi dengan dunia masa lalu melalui surat.


Hal lain yang bikin buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya istimewa adalah adanya keterkaitan dari setiap tokoh diceritakan meskipun mereka berada di lini waktu yang berbeda. Jadi saran gue kalau mau baca buku ini, jangan terlalu buru-buru dan harus ingat setiap karakter yang diceritakan.


3. Tuhan Ada di Hatimu


Alasan kenapa gue membaca buku ini tak lain tak bukan karena sosok Habib Husein Ja'far Al-Hadar. Dijuluki sebagai imam pemuda tersesat, The Light of the Darkness, The Protector level 3.


Habib Husein dikenal sebagai pendakwah yang sedang naik daun di kalangan anak muda. Apalagi dengan kontennya bersama Coki dan Muslim yang diberi tajuk Pemuda Tersesat. Tayangan itu sukses menyita atensi banyak anak muda tersesat, termasuk gue, untuk kembali ke jalan yang lurus. Karena menurut Habib Ja’far, tersesat di jalan yang benar lebih baik daripada benar di jalan yang tersesat.


Di buku Tuhan Ada di Hatimu, Habib Ja’far mencoba memberi banyak perspektif baru terhadap Islam. Banyak kutipan-kutipan menarik yang mungkin bisa mencerahkan isi hati seseorang. Salah satu kutipan favorit gue adalah “Dakwah itu memberikan kabar gembira bukan ketakutan, memudahkan bukan mempersulit, mempersatukan bukan mencerai-beraikan”


Tersesat oh tersesat, Astagfirullah!


4. Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia


Baca buku ini terasa lagi main game Civilization VI. Buku Sapiens karangan Yuval Noah Harari nyeritain tentang proses sejarah manusia yang berasal dari sebuah zat hingga menjadi “Tuhan” di muka bumi.


Ya, meskipun terkesan pelajaran biologi banget, tapi Sapiens menjelaskan banyak bidang keilmuan seperti ekonomi, sosial, budaya, geografi, fisika, kimia. Mungkin hanya satu ilmu yang gak ada di buku ini yaitu:


Ilmu Agama. Chaaaks!!


5. Re:


Judul bukunya memang hanya Re:, tapi jangan harap isinya sesingkat dua hurut tersebut. Re: adalah buku karya Maman Suherman yang diangkat dari hasil skripsinya tentang industri prostitusi di Jakarta. Re: sendiri adalah nama samaran untuk seorang pelajar yang dijadikan objek penelitian oleh Maman.


Maman Suherman menyampaikan keseluruhan buku ini dengan apik. Gue jadi banyak tahu bagaimana dunia esek-esek yang sebenarnya. 


6. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Yes, salah satu buku self-improvement paling populer dalam dua tahun belakangan ini. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat adalah buku motivasi dengan paham “radikal” karangan Mark Manson. Buku ini banyak mengajarkan hal-hal yang malah dilarang oleh buku motivasi lainnya. 


Tengok aja sub judul di buku ini seperti Kebahagiaan Itu Masalah, Anda Tidak Istimewa, Kegagalan Adalah Jalan Untuk Maju, dan Jangan Berusaha! Apa-apaan nih.


Tapi ada maksud terselubung di dalam sub judul tersebut, dan kamu perlu langsung membacanya untuk bisa memahami makna sesungguhnya.


7. The Star and I


The Star and I mungkin jadi buku yang paling gue sesali untuk dibaca bulan Maret ini. Kayaknya buku ini memang bukan gue banget. Ceritanya terlalu menye-menye dan alurnya pun datar-datar aja.


karya pertama Ilana Tan yang gue baca gagal memikat. Mungkin buku ini sangat bagus kalau dibaca pas gue berubah jadi anak cewek baru masuk SMP.


8. Malice: Catatan Pembunuhan sang Novelis


Seolah telah jatuh cinta kepada Keigo Higashino gara-gara Keajaiban Toko Kelontong Namiya, akhirnya gue bertekad untuk membaca buku Higashino lainnya. Pilihan pun jatuh kepada Malice: Catatan Pembunuhan sang Novelis.


Meskipun pengarangnya sama, tapi Malice dan Namiya bak dua sisi mata uang, saling bertolak belakang. Jika Namiya memberi kesan menyentuh, maka Malice malah membuat gue banyak berpikir. Malice memang buku detektif tentang pengungkapan kasus pembunuhan seorang novelis.


Gak seperti buku detektif lain, kisah di Malice bukan fokus untuk mencari siapa pelakunya, tapi motif apa yang membuat pelaku tega membunuh.


9. Persisten


Buku terakhir yang gue baca di bulan Maret adalah buku Persisten karangan Pandji Pragiwaksono dan Muhammad Husnil. Buku ini mengangkat kisah kerja keras seorang Pandji dalam melakukan Stand Up Comedy World Tour ke 5 benua. 


Meskipun pepatah ini klasik, tapi pepatah ini nggak pernah salah yaitu Tekun & kerja keras memang nggak akan pernah mengkhianati hasil. Yap, pesan yang coba disampaikan lewat buku Persisten.


Melihat banyaknya buku yang gue baca selama Maret ini, semoga bisa jadi batas dasar gue untuk membaca buku lebih banyak lagi di bulan berikutnya. Tentu jangan cuma membaca, tapi bisa meresapi apa yang disampaikan sang penulis dalam bukunya.


Ciao!


Wednesday, 31 March 2021

[Review Buku] The Star and I



The Star and I sebenarnya bukan buku yang masuk wishlist untuk gue baca. Ada dua alasan hingga akhirnya buku ini jatuh ke tangan gue. Pertama, alasan klasik, buku ini lagi dapat diskon yang lumayan. Jadi sayang aja kalau dilewatkan. Kedua, karena nama Ilana Tan sebagai salah satu penulis lokal yang cukup populer.

The Star and I adalah buku ketiga dari trilogi New York. Buku pertamanya berjudul Sunshine Becomes You (2012), lalu diteruskan In A Blue Moon (2015). Buku The Star and I pun jadi buku pertama karya Ilana Tan yang gue baca. Untungnya, nggak ada keterikatan cerita antara ketiga buku tersebut, meskipun disebut sebagai trilogi. 


Jeda lima tahun antara In A Blue Moon dan The Star and I tentu membuat para penggemar Ilana Tan cukup menantikan. Terbukti, di awal tahun ketika pre-order dibuka, buku ini langsung sold out dalam sekejap.


Sayangnya, ekspektasi tinggi dari penantian lima tahun tersebut rasanya tak terbayarkan. Begitu yang gue rasakan setelah selesai membaca buku yang super klise ini.


Premis


Olivia Mitchell adalah seorang aktris teater asal Inggris yang sedang mengambil pekerjaan di New York. Selain bekerja, Ollie--sapaan akrabnya punya tujuan lain di Kota New York. Ia ingin mencari tahu siapa sosok ibu yang telah melahirkannya lalu menelantarkannya di sebuah panti asuhan bernama Madeline West Home fo Children.


Kehadiran Rex Rankin, teman masa kecil Ollie yang sudah terpisah 9 tahun, turut punya andil besar dalam pencarian ibu kandung Ollie.


Sosok Rex Rankin bukanlah pria sembarangan. Ia adalah cinta pertama Olivia Mitchell. Sayangnya, Ollie tak berani secara terang-terangan mengungkapkan isi hatinya kepada Rex.


Pencarian ibu kandung Ollie dan kisah malu-malu kucing antara Ollie dan Rex jadi dua benang merah utama dari buku The Star and I.


Datar Kayak Jalan Tol


Yap, alur buku ini layaknya mengendarai mobil avanza di jalan tol. Datar dan membosankan. Nggak ada sesuatu yang nge-hook atau kejutan-kejutan yang bikin gue tertegun. Misalnya tentang hubungan Rex dan Ollie. Sejak pertemuan kembali mereka berdua, gue sudah bisa menebak bagaimana ujungnya nanti. 


Terus tentang pencarian ibu kandung dari Ollie pun berakhir dengan...yaaa gitu ajaa. Nggak mengagetkan. Meskipun cukup menyakitkan andai itu terjadi di dunia nyata.


Karena ini adalah buku pertama Ilana Tan yang gue baca, jadi entah apakah ini memang gaya Ilana Tan di setiap bukunya atau memang The Star and I bukan jadi karya terbaik Ilana Tan. 


Karakter Cowok yang Too Good to Be True


Memang sih ini cuma cerita fiksi. Tapi sejak membaca dialog-dialog Rax Ranking dari awal cerita sampai akhir, bikin gue malah gak habis pikir. Karakter seperti ini rasanya terlalu hebat untuk jadi nyata. Seolah Rex nggak punya dosa sedikitpun. 


Ditambah dengan pandangan Ollie kepada sosok Rex, yang bikin hubungan Rex dan Ollie sangat cheese.


Kota New York yang Cuma Tempelan


Ilana Tan memang terkenal sebagai penulis yang mengambil latar tempat-tempat indah di luar negeri. Untuk The Star and I, ia memilih New York sebagai lokasi pencarian ibu dari Ollie. Sayangnya, kota New York di buku ini seolah jadi tempelan saja.


Gue cuma menangkap New York di sini hanyalah tempat bertemperatur dingin karena beberapa kali Ollie dan Rex diceritakan memakai baju tebal. Kalau New York di buku ini diganti dengan Puncak, kayaknya nggak akan ada bedanya. Tapi jadi cuma kurang keren aja ya. Itu pendapat gue doang loh yaa.


Sayang, karya pertama Ilana Tan yang gue baca gagal memikat. Mungkin buku ini sangat bagus kalau dibaca pas gue berubah jadi anak cewek baru masuk SMP.


5/10 Untuk Buku The Star and I Karangan Ilana Tan

Data Buku

Judul          : The Star and I

Pengarang  : Ilana Tan

Penerbit      : Gramedia Widiasarana Indonesia

Tahun Terbit : 2001

Halaman     : 344 Halaman

ISBN 13     : 9786020649665

Friday, 19 March 2021

[Review Buku] Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Suatu sore di tahun 2019, gue iseng mampir ke toko buku Gramedia yang letaknya di depan masjid raya Kota Bogor. Gue nggak punya tujuan pasti mau beli buku apa. Cuma pengen mampir aja sambil melihat-lihat siapa tau ada buku diskonan.

Baru beberapa langkah masuk, gue langsung disuguhkan sebuah buku yang sangat eye catching sekali. Bagaimana nggak, buku ini punya cover berwarna oren kayak baju The Jack Mania.

Belum lagi judul bukunya ditulis dengan font super mencolok dan terkesan nyeleneh abis.

Sebuah Seni

Untuk Bersikap

Bodo Amat.

Eh eh buku apa nih????

Sepengetahuan gue, seni itu seperti seni lukis, seni musik, seni sastra, seni teater, dan macam-macam. Tapi kok ini ada sih seni bersikap bodo amat?

Dilanda rasa penasaran, akhirnya gue memutuskan membeli buku ini dengan harga 67 ribu. Kebetulan nggak ada diskon waktu itu huhu.

Buku Self-Improvement dengan Gaya Radikal.

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat adalah buku karya Mark Manson yang terbit pertama kali tanggal 13 September 2016. Buku yang versi Inggrisnya berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck ini kemudian terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di bawah naungan Gramedia Widiasarana Indonesia tahun 2018.

Baik dalam edisi Inggris maupun Indonesia, buku ini memang punya judul yang cukup nyeleneh. Terutama versi Indonesia yang malah gue anggap cukup radikal dengan menyebut seni bodo amat.

Penyampaian pesan yang radikal ini langsung terbukti di bab pertama yang gue baca. Pasalnya bab tersebut diberi judul…...Jangan Berusaha. Apa-apaan nih Mark?? 

Bab-bab selanjutnya pun nggak kalah nyeleneh. Misalnya, Kebahagiaan Itu Masalah, Anda Tidak Istimewa, Kegagalan Adalah Jalan Untuk Maju.

Untugnya, gue nggak seperti kebanyakan netizen pada umumnya yang cuma menelan mentah-mentah sesuatu setelah membaca judulnya saja. Setelah membaca sampai selesai dari setiap bab di buku ini, gue mengerti kenapa Mark Manson memilih menyampaikan teori-teorinya lewat penjelasan yang cukup nyeleneh.

Memilih Apa yang Penting Untuk Kita Pedulikan

Sebuah seni untuk bersikap bodo amat tak serta merta menyuruhmu tak acuh terhadap setiap hal yang ada. Sebaliknya, lewat buku ini Mark Manson berusaha memberi pengertian bagaimana kita, perlu memilih hal-hal yang dirasa penting untuk dipedulikan.

Ketika seseorang tidak memiliki masalah, pikiran secara otomatis akan menemukan cara untuk menciptakan suatu masalah. Menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam hidup kamu, mungkin jadi cara paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga. Karena jika kamu tidak menemukan sesuatu yang berarti, perhatian kamu akan terus tercurah ke hal-hal tak penting.

Pernyataan Mark benar adanya jika gue melihat kondisi di dunia maya sekarang. Bukan mau menyalahkan, tapi secara umum selalu aja ada hal-hal gak penting yang viral terus dibahas banyak orang. Hampir setiap hari selalu ada kasus seperti itu. 

Kalau mau mengambil teori dari Mark Manson di buku ini, berarti mereka-mereka ini (termasuk gue) belum menemukan sesuatu yang sangat penting di hidupnya sehingga perhatian ke hal-hal nggak pentingnya tercurah ke sana.

Makanya gue gak pernah menemukan kisah di mana Anthoni Salim (orang terkaya ke-4 di Indonesia yang punya salim group) ngeributin masalah lagunya Aldi Taher. Karena apa? Karena nggak penting dan dia bodo amat dengan masalah seperti itu. Banyak hal penting lain yang mau dipedulikan oleh Anthoni Salim.

Cerita Analogi Memudahkan Pesan yang Disampaikan

Buku ini banyak memberikan analogi atau kisah-kisah yang pernah terjadi untuk menyampaikan inti dari pesan yang sedang dibicarakan. 

Salah satu kisah paling menarik menurut gue adalah cerita tentang Problem Bintang Rock. Tahun 1983, seorang gitaris muda bertalenta dikeluarkan dari bandnya dengan cara paling buruk. Disebut buruk karena sang gitaris dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum debut rekaman band tersebut.

Diselimuti dendam yang membara, sang gitaris lalu membentuk bandnya sendiri. Merekrut pemusik yang jauh lebih baik dari teman-teman bandnya dulu. Bak dirasuki setan musik, ia berikrar bahwa band barunya ini akan sangat sukses dan band lamanya akan menyesali keputusan mereka selama ini.

Setelah beberapa tahun, band barunya berhasil menandatangani kesepakatan rekaman mereka sendiri, dan setahun setelah itu, rekaman pertama mereka diluncurkan ke pasaran.

Nama sang gitaris adalah Dave Mustaine, dan band baru yang dibentuknya adalah Megadeth. Bagi penggemar musik thrash metal, Megadeth adalah band legendaris dengan penjualan album mencapai lebih 25 juta copi, dan menggelar banyak tur. Dave Mustaine pun dianggap sebagai musisi paling brilian dan berpengaruh dalam sejarah heavy-metal.

Sayangnya, band yang mendepak bokong Dave Mustaine beberapa hari sebelum debut rekaman adalah Metallica, yang telah menjual lebih dari 180 juta album di seluruh dunia. Metallica adalah band rock terbesar sepanjang sejarah.

Kisah lain yang nyaris mirip terjadi tahun 1962. Sebuah band beranggotakan empat orang baru saja memecat sang drummer tiga hari sebelum rekaman pertama mereka dimulai karena dianggap terlalu tampan. Namanya adalah Pete Best. Posisinya di band tersebut lalu digantikan oleh Ringgo Star. Kamu pun sudah bisa menebak band apa yang dimaksud.

Enam bulan setelah peristiwa itu, demam The Beatles meledak di seluruh dunia. Di saat John dan kawan-kawan bermandikan popularitas, nama Pete Best seolah tak pernah ada dalam sejarah.

Meskipun lebih terpuruk dari rekan-rekannya, Best tak terlalu menyesali apa yang telah terjadi. Bahkan dalam sebuah wawancara tahun 1994, Best mengatakan “Saya lebih bahagia sekarang, dibanding jika saya masih bertahan di Beatles”.

Dave Mustain yang merupakan seorang rockstar mengukur kebahagiaan dengan kesuksesan yang diraih oleh Metallica. Ketika diwawancara tahun 2003, Mustaine berlinang air mata mengakui kalau dia masih saja menganggap dirinya sebagai sebuah kegagalan. Di luar semua pencapaiannya yang mengagumkan, dalam benaknya akan selalu terngiang kalau dia cuma orang buangan Metallica.

Lewat kisah tersebut, Mark Manson mencoba menyampaikan pesan jika kita mengukur diri kita dengan ukuran yang berbeda. Kehidupan Pete Best jauh lebih tentram dibanding kehidupan Dave Mustaine karena mereka mengukur kesuksesannya dengan cara berbeda. Toh, kesuksesan hanyalah fatamorgana. Kunci tentang kehidupan yang lebih baik bukan memedulikan lebih banyak hal, tapi peduli hal-hal sederhana yang dirasa mendesak dan penting.

Selain kisah di atas, masih banyak lagi cerita-certia atau analogi menarik yang dibuat oleh Mark Manson di dalam buku ini.

Apa Sih Arti Bahagia?

Pertanyaan seputar kebahagian mungkin jadi salah satu pertanyaan dengan jawaban sejuta makna. Setiap orang memiliki versi kebahagiaannya masing-masing. Dalam buku ini, Mark Manson menyebut jika kebahagian berasal dari memecahkan masalah. 

Masalah adalah konstanta dikehidupan kita. Masalah tidak pernah berhenti, akan datang silih berganti. Kuncinya ada pada memecahkan masalah dan bukan menghindarinya. Ketika kita mampu memecahkan sebuah masalah, di sana lah kebahagian akan muncul. Karena kebahagiaan adalah akibat bukan sebab. 

Jadi, jangan tanya kepada seseorang tentang apa yang kamu inginkan? Tapi rasa sakit dan risiko apa yang ingin kamu lalui?

7,5/10 Untuk Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Karangan Mark Manson

Data Buku

Judul          : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Pengarang  : Mark Manson


Penerbit      : Gramedia Widiasarana Indonesia


Cetakan      : XVIII/Januari 2019


Halaman     : 246 Halaman


ISBN 13     : 978-602-452-698-6


Baca Juga >> [Review Buku] RE:, Kisah Pelacur Dalam Jeratan Bisnis Esek-Esek


Wednesday, 17 March 2021

Perkara Beli Ikan Cupang



Nah kan kebiasaan banget, baru nulis lagi tiba-tiba udah ganti tahun aja. Barusan gue mengecek jumlah postingan di tahun 2020 kemarin, ternyata gue lumayan sangat produktif juga. 

Setelah dihitung sekitar 25 menit pakai kalkulator casio, ternyata tulisan gue tahun lalu jumlahnya ada 3 biji!!!! IYA TIGA!! Bener-bener produktif! Uang beli domain yang gue keluarkan mungkin akan terkekeh-kekeh melihat fakta ini.


Gue masih inget banget dulu waktu pengin perpanjang domain blog. Ada pergolakan jiwa yang sengit, antara uangnya dibelin sepatu bola baru atau perpanjang domain. 


Tentu di tengah pandemi seperti sekarang, aktivitas gue akan banyak dihabiskan di rumah, otomatis gue jadi punya banyak waktu. Itulah sekelumit pikiran optimis gue yang akhirnya membuat gue memutuskan perpanjang domain blog dengan niat ingin rajin nulis.


Hasilnya? Tulisan cuma 3 biji, main bola sambil nyeker! 


Sedih!


Akibat pandemi yang mengharuskan orang-orang buat diem di rumah, bikin gue cukup bingung menghabiskan waktu di kamar. 


Masalahnya, pandemi ini sudah berlangsung sekitar 10 bulan lebih dan gue mulai kehabisan dan bosen melakukan aktivitas yang itu-itu aja. Palingan di kamar cuma main hp, main PS, nonton film, baca buku, tidur. Udah. Enggak ada yang berguna memang. Jokowi seakan buang-buang energi di depan TV kalau lagi ngomong Kerja Kerja Kerja.


Sampai akhirnya gue mikir, kayaknya serunya juga kalau memelihara sesuatu. Ada beberapa opsi binatang yang terlintas di pikiran gue.


Pertama, memelihara kucing. Hmm terlalu mainstream


Kedua, memelihara burung. Hmm terlalu bapak-bapak


Ketiga, memelihara anjing. Hmm terlalu kasar


Gue pengen miara sesuatu yang menantang, anti-mainstream, dan sulit untuk dijaga. Gue pun lalu memutuskan untuk memelihara persatuan dan kesatuan di Indonesia. Gokil!


Gue coba browsing di Google maupun Youtube untuk mencari binatang yang tepat untuk dipelihara. Dari salah satu artikel yang dibaca, gue tiba-tiba kepikiran untuk memelihara anaconda. Sebagai salah satu jenis ular paling sangar di muka bumi, gue akan terlihat macho sekali ketika memelihara hewan tersebut. Gue pun gak sabar menjawab pertanyaan kalau ada temen gue nanya aktivitas gue ngapain aja selama pandemi.


"Ya gini-gini aja lah bro, pagi kerja, siang main game, sore mandiin anaconda,"


Ngeriiiii!!1!1!!


Sayang niat memelihara anaconda gue urungkan. Bukan karena anaconda adalah binatang buas yang lumayan membahayakan, tapi karena yang gue tahu anaconda ini makannya daging. Ini yang jadi problematika di mana gue makan daging aja nunggu idul adha dulu.



Gue cari lagi binatang lain yang cocok untuk dipelihara. Dan pilihan terakhir jatuh kepada ikan cupang. Oke sedikit gue jelaskan kenapa ikan cupang adalah bintang paling pas untuk dipelihara.

1. Memelihara ikan cupang nggak ribet.


Yes, ini yang jadi faktor utama kenapa gue milih ikan cupang. Dengan berbekal air kamar mandi dan aquarium mini, sudah cukup jadi wadah ikan cupang untuk hidup. Untuk makannya pun tergolong ekonomis. Cuma dikasih cacing sutra atau kutu air, ikan cupang sudah bisa hidup sejahtera kayak kehidupan orang di Pondok Indah.


2. Ikang cupang itu cantik


Sebentar, sebelum ngejudge terlalu jauh, gue bisa jelaskan. Gue masih normal. Masih suka cewek. Gue sebut cupang itu cantik, semata karena enak dipandang sebab punya warna yang indah. Jadi jangan pernah ngebayangin kalau gue malam mingguannya pergi ke kolam pemancingan ikan.


3. Eek-nya enggak sembarangan


Sembarangan di sini artinya adalah si binatang peliharaan eek pada tempatnya. Sebagai bangsa ikan, gak ada kemungkinan si cupang bakal eek sembarangan karena kehidupan dia ya cuma di akuarium aja. 


Enggak pernah ada kasus, miara ikan cupangnya di akuarium, tapi eeknya di aqua galon. Membersihkan eeknya pun gampang. Tinggal diganti airnya seminggu sekali dengan yang baru. Kelar urusan.


Beda halnya dengan binatang peliharaan lain seperti kucing atau anjing. Oke deh kalau kucing atau anjing yang pinter sih udah ngerti mau eek di mana, tapi nggak berlaku kalau anjing atau kucing ini baru kita pelihara yang mana belum nurut-nurut banget.


Soalnya dulu gue pernah memelihara kucing baru di rumah, dan kelakuannya nggak berperikucingan. Manjat-manjat lemari, tidur di atas kulkas, nyakarin kaki gue. Puncaknya ketika dia tau-tau eek di bawah meja makan. Gue otomatis kesel.


"DASAR KUCING ANJIIING!!!," Saking emosinya gue merasa punya kekuatan untuk mengubah wujud seekor binatang.


Hari Sabtu jam 10 pagi, gue udah manasin motor buat siap-siap berangkat ke toko cupang. Namanya Terang Aquarium Shop. Katanya adalah toko ikan hias terbesar di Bogor. Tersiar kabar, ikan-ikan di sana juga tergolong murah. Ini yang memantapkan niat gue buat milih tempat tersebut.




Sesampainya di Terang Aquarium Shop, apa yang gue bayangkan tentang toko ikan terbesar di Bogor terbayarkan. Memang bener, di sana isinya ikan semua. Tengok kanan ikan, tengok kiri ikan. Gue rasa cuma putri duyung aja yang belum ada di sini.


Gue langsung masuk ke bagian penjualan ikan cupang. Sebagai mas-mas newbie di dunia percupangan, gue baru tau kalau sekarang ini makin banyak jenis ikan cupang. Mulai dari Nemo, Avatar, Plakat. Malah cupang nemo bisa dibagi lagi jadi galaxy, cooper, leopard, multicolor, koi, dan macem-macem lagi.


Waktu SD dulu, yang gue tau cuma ada dua jenis cupang. Cupang bisa diadu sama nggak bisa diadu. Belakangan gue tau, kalau cupang yang gak bisa adu tuh cupang cewek. Mungkin cupang cewek kalau disatuin sama cupang cewek lain nggak ngadu, tapi lebih ke ngegosip.


Dulu tujuan gue beli cupang memang bukan buat hiasan, tapi diaduin sama cupang milik temen gue. Ya, bagi gue beli cupang setara sama beli beyblade.  


Selepas pulang sekolah adalah waktu yang gue luangkan buat adu ikan cupang. Cupang gue dan cupang temen gue disatuin dalam satu toples kecil. Gak perlu waktu lama, sampai cupangnya mulai ngedok satu sama lain. Refleks gue menyemangati si cupang supaya jangan kalah. Ya meskipun gue sadar cupang nggak punya kuping. 


Baru 3 menit diadu, cupang gue babak belur disikat lawannya. Seolah teriakan semangat gue gak berarti apa-apa. 


Rutinitas adu cupang tiap pulang sekolah ini akhirnya nggak pernah gue lakuin lagi. Bukan karena kasihan sama cupangnya, tapi gue dinasehati kalau adu-aduin ikang cupang itu perbuatan dosa. Gue nggak mau nanti pas mati malah masuk neraka jalur adu ikan cupang.


Setelah melihat-lihat sekitar 20 menit, akhirnya gue memilih satu ikan cupang berwarna campuran biru, hitam, merah berjenis halfmoon untuk dibeli. Alasannya pemilihan tersebut bukan karena cupangnya bagus atau jenisnya lagi populer, tapi harganya nggak bikin dompet gue teriak-teriak di akhir bulan.


Tentu aja cupang yang gue beli ini bukan lagi dijadiin aduan kayak zaman SD dulu. Cupang ini gue pelihara di sebuah akuarium solitaire yang gue pajang di samping tempat kerja selama WFH. Ketika gue lagi suntuk kerja, biasanya gue bakal mengalihkan perhatian ke kemolekan warna dan badan si cupang.


Jadi mau (di)cupang lagi.