Monday, 31 December 2018

Selamat Tahun Baru 2019! Pret Pret Preeeet!



Wah gila gila, baru ngeblog lagi tau-tau udah di akhir tahun 2018 aja. Gue takutnya pas ngeblog selanjutnya, manusia udah berevolusi jadi kaleng bear brand.

Terakhir ngepost bulan November kemarin, dan isi tulisannya, Ya Allah :( banyak kata-kata kotor yang tak pantas. Maafkan saya wahai rekan sejawat. Saya memang layak dihukum nonton acara Rumah Uya live 7 hari 7 malam.

Seperti gue sebutkan di atas, gue menulis tulisan ini tepat di tanggal 31 Desember 2018. Ketika banyak orang pergi keluar rumah, menikmati suasana tahun baru yang pastinya meriah, gue malah memilih untuk duduk depan laptop sambil mengisi kekosongan blog yang udah lama gak diurus. 

Mungkin ketika ada pemilihan cowok paling gaul se-kota Bogor, gue langsung tersisih waktu panitia nempelin brosur pengumumannya di tiang listrik.

Sebenernya gue juga bingung sih mau bahas apa di tulisan terkahir gue tahun 2018 ini. Tadinya sempet punya niat buat bikin kaleidoskop kehidupan gue selama 360 hari kebelakang. Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya kehidupan gue biasa banget aja gitu. Gak ada aneh-anehnya. Enggak ada tuh dalam satu hari, gue teriak-teriak PKI di depan kantor polisi.

Jadi di tulisan ini, gue cuma mau bikin harapan-harapan apa aja yang pengin gue capai di tahun 2019 nanti. Tapi harapannya bukan yang klise kayak belajar berhemat atau hidup lebih sehat. Beberapa resolusi gue adalah:

Mencari Tantangan Baru dalam Berkarier

Setelah diitung-itung, ternyata gue udah cukup lama bekerja di kantor gue sekarang. Bahkan bulan April nanti, udah menginjak tahun ke-3. Gue rasa, itu udah lebih dari cukup untuk bekal gue di dunia kerja. 

Jadi, mungkin aja di tahun 2019 nanti, gue perlu mencari tantangan baru. Mencari sesuatu yang semakin mendekati passion gue dalam bekerja. Dan rasanya enggak bakal jauh-jauh dari dunia media dan jurnalistik.

Bisa Main Gitar



Dari dulu, gue pengin banget buat bisa mainin gitar. Jadi, kalau ada gitar, gue ngomomg "Aku mau fokus belajar dulu" padahal malah pacaran ama gitar lain.

Eh bukan gitu ya cara mainin gitar??

Cowok yang bisa main gitar tuh kayaknya punya derajat lebih tinggi dibanding cowok yang gak bisa main gitar.

Hal ini terbukti di kampus gue dulu. Cowok yang bisa main gitar bakal jadi rebutan cewek-cewek. Sedangkan cowok yang gak bisa main gitar, bakal jadi rebutan cewek-cewek buat disuruh fotoin dianya sama cowok main gitar.

Kalo udah bisa main gitar, gue nazar bakal bawain lagu Kangen Band terus diupload di blog ini deh.

Bisa Nyetir Mobil

Ya, ya silakan yang ingin menimpuk saya dengan batu kerikil karena saking hinanya enggak bisa nyetir mobil sendiri.

Sebenarnya, gue punya mobil di rumah. Tapi gue suka males buat belajar nyetir. Salah satu alasannya adalah karena takut dikatain supir-supir angkot di daerah rumah gue.

Supir angkot rumah gue tuh sangar-sangar kalau berurusan sama pengendara mobil yang lelet bawanya.

Pernah gue lagi naik angkot, tiba-tiba supirnya teriak, "Woi bego, bisa bawa mobil gak sih?!" ke pengendara mobil Xenia yang ada di depan.

Anjir serem banget nih orang kata gue dalam hati.

Gue takutnya, pas belajar nyetir di tahun 2019 nanti, diteriak-teriakin jadi beda.

"Woi bego, bisa bawa mobil gak sih?! Gini nih kalau dipimpin presiden yang dzalim, semuanya gak becus!! 2019 ganti presiden"

Yallah, masih sempet-sempetnya kampanye :(

Tahu Jokowi Ngambil Uangnya Lewat ATM atau Bukan

Suka kepikiran gak sih, kalau abis gajian, Jokowi tuh ngambil uangnya di mana? Apa mungkin Pak Jokowi, malem-malem, bawa motor, pergi ke ATM ngambil uang, terus pas pulang ditagih parkir 2 ribu?

Semoga di tahun 2019 nanti gue bisa tahu jawabannnya.

So, selamat tahun baru 2019!! Semoga tahun 2019 akan semakin menyenangkan bagi kita semua!

Friday, 9 November 2018

Huru-hara Ibu Kota Seraya Bersandar dalam Harap Abang Gojek Tercinta



Entah pernah terpikirkan atau tidak, yang jelas andai saya menjadi Tuhan, tentu Jakarta merupakan tempat strategis bagi iblis-iblis terlatih menyebarkan segala dosa dalam bentuk sumpah serapah.

Sunda Kelapa, Batavia, Jakarta, atau apalah anda ingin menyebutnya, bukan tempat yang layak bagi manusia yang ingin hidup damai. kedamaian di jalanan Jakarta tak ubahnya seonggok harapan kosong tentang kisah menemukan kolam renang marcoplo di tengah gurun Sahara, Afrika

Desingan klakson kendaraan saling beradu menunjukkan bagaimana manusia-manusia brengsek di Ibu kota berusaha menjadi yang terdepan dalam urusan mencari nafkah.

Padahal waktu yang mereka keluarkan untuk menekan tombol klakson di motor, mobil, bus, lebih bermanfaat jika dipakai menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. 

Tak ada untungnya memang. Tapi setidaknya hal itu tak akan mengganggu pengendara lain yang sedang menikmati jalanan hasil pajak masyarakat yang pastinya sudah disunat sana-sini oleh pejabat keparat penyebab kemacetan.

Menyebalkannya lagi, nama-nama jalan yang punya reputasi macet di Jakarta dinamai dengan nama-nama pahlawan nasional. Jendral Sudirman, Gatot Subroto, M.T Haryono, adalah segilintir sosok yang harusnya mendapatkan persembahan terbaik. Setidaknya, saya dan jutaan orang yang hilir mudik di sendi-sendi jalanan Ibu Kota tak memaki dengan menyebut Gatot Subroto bangsat macet banget!

Sepintas saya punya rencana maju sebagai anggota DPR, (persetan dengan politik baik-baik, maka gunakan isu agama demi memikat banyak suara), dan mengusulkan kepada Presiden mengganti nama jalan tersebut dengan Gayus Tambunan, Setya Novanto, atau Soeharto, koruptor dengan title pahlawan.

GAYUS TAMBUNAN ANJING! Saya pastinya tak akan terkena pasal pencemaran nama baik karena makian yang dituju adalah untuk nama jalanan jakarta yang tolol.

Setiap pagi, selangkah meningalkan rumah, saya bak sedang terjun langsung di medan pertempuran Perang Dunia II bersama Nazi pimpinan Hitler. Bedanya mungkin abang gojek yang saya sewa tak memakai pesawat Curtiss P-40 Warhawk milik Amerika yang digunakan memepertahankan pangkalan Pearl Harbor saat Jepang menyerang.

Namun, andai Hermann Wilhelm Goring hidup di Jakarta seperti saya, ia langsung akan mengumpat JANCUK, dan membikin strategi genosida bagi setiap pengendara motor dan mobil yang masih berani melajukan kendaraannya di kala masih dalam fase kredit.

Tapi tunggu dulu, motor-motor kredit laknat yang memenuhi Ibu Kota tak salamanya bikin rusuh jalanan. Ada mereka, puluhan, tidak, ratusan bahkan, berjaket hijau, berkelana ke setiap gang-gang sempit perkampungan, berkumpul di stasiun, terminal, atau depan-depan kantor koorporat, mereka adalah abang ojek online, yang siap, yang rela, yang sudi memandu para pencari nafkah menuju ruang hampa persemaian keringat menjadi rupiah.



Saya adalah pelanggannya. Hilir mudik memakai aplikasi yang terus menjejali alam bawah sadar kita tentang kebanggaan menggunakan produk anak bangsa. Tai kucing lah dengan produk-produk Indonesia, asal bisa meringankan kesusahan rakyat jelata di bawah cengkraman raja-raja kapitalis, tentu aplikasi itu, oke aplikasik gojek ini, layak untuk diapresiasi.

Sudarsono. Begitu nama yang tertera di aplikasi gojek saya. Dari namanya saja saya sudah bisa menebak jika beliau bukan asli Jakarta. Jawa Timur mungkin. Karena mengingatkan saya kepada sosok Budi Sudarsono, bekas pemain Persik Kediri.

Kurang dari lima menit setelah saya mengucap sesuai di aplikasi ya pak, Pak Sudarsono sudah hadir depan pagar rumah. "Ini helmnya mas," begitu sapanya ketika melihat saya.

Entah emang Pak Sudarsono baik dari sananya, atau jangan-jangan ia hanya takut dengan tampang saya mirip keyboard warior yang tak segan membuat thread berisi rentetan twit cacian kepada abang-abang gojek yang sering menawarkan gopay.

Liukan demi liukan Saya dan Pak Sudarsono lalui. Pada liukan ke-9 atau 12, saya lupa mengingatnya. Pak Sudarsono melakukan manuver ekstream. 

Andai Marc Marquez sedang berada di samping saya, ia mungkin bakal segera pensiun sebagai pembalap MotoGP ketika melihat Pak Sudarsono dengan cekatan menyalip bus transjakarta serta mobil Chevrolet silver hanya dengan sekali tarikan gas.

Saya tahu, kata bajingan bakal terlontar dari pengemudi Chevrolet tadi melihat tingkah tak senonoh Pak Sudarsono yang meliuk lewat sisi kiri bahu jalan lalu menyilang tepat di hidung sang mobil buatan Rusia.

Andai saya diajari kuliah desain grafis dan bergulat di industri tekstil, tentu satu hal yang saya langsung lakukan adalah memberikan Pak Sudarsono sebuah hadiah kaos dengan desain di belakangnya FUCK THE RULES! 

Pukul 10.10 Saya sudah sampai di kantor. Tak lupa memberikan pecahan uang 25 ribuan. Tanpa perlu sebuah feeling yang kuat, saya sudah tahu Pak Sudarsono tak akan memberikan saya 2 ribu sebagai bentuk kembalian karena harga yang tertera di apliaksi 23 ribu.

Toh, 2 ribu hitung-hitung bentuk cinta saya kepada seluruh abang gojek di Jakarta yang mampu memberikan nafas baru bagi pengepul cuan yang pesimis dengan bobroknya sistem transportasi buatan penguasa.

****

Hai, tulisan di atas cuma cerita fiksi  dan opini gue yang kepikiran ketika kena macet setiap pulang kerja di Jakarta. 

11 kata kasar di atas adalah 11 kata ungkapan yang biasanya gue ucapkan ketika berhadapan dengan macet di Jakarta haha.

Thursday, 25 October 2018

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Pacar Kena Cacar?



"Kayaknya aku kena cacar air deh"

Begitu isi chat yang gue terima dari si pacar ketika sedang leyeh-leyeh di kasur.

"Emang kamu dari kecil belum pernah kena cacar?" Bales gue.

"Belum"

Beda dari penyakit kebanyakan, cacar menurut gue adalah penyakit yang cukup unik. Karena setahu gue, setiap orang cuma bisa kena penyakit cacar sekali seumur hidup. 

Jadi penyakit cacar tuh enggak bisa dipakai jadi alesan buat enggak masuk sekolah kayak penyakit-penyakit masuk angin, pusing kepala, atau sakit gigi.

Dan setelah gue googling, emang bener kalau cacar cuma menyerang seseorang sekali seumur hidup. 

Menurut laporan dari Journal Paediatric and Child Health vaksin yang pernah dikasih ke kita pada saat imunisasi, baru benar-benar bekerja di atas usia 12 bulan. Vaksin ini bakal memblok virus cacar untuk datang dua kali. Gitu katanya.

Cacar Handika

Ketika tahu si pacar kena cacar, hal yang terlintas di pikiran gue adalah hilangnya salah satu pertanyaan standar ketika pacaran.

Sebuah pertanyaan super klasik yang levelnya setara "Kamu udah makan belum?"

Pertanyaan tersebut adalah

"Kamu udah mandi belum?"

Ya, pertanyaan itu pastinya sia-sia diajukan kepada pacar yang kena penyakit cacar. Mitosnya, orang yang kena penyakit cacar enggak boleh kena air.

Tapi, apa bener orang yang kena cacar enggak boleh mandi? Dan setelah gue googling, ternyata enggak ada aturannya kalau dilarang mandi sewaktu cacar. Hal ini ditunjukkan demi menjaga higenitas tubuh dan mencegah bakteri atau infeksi lain masuk saat kekebalan tubuh sedang menurun.

Berarti pengalaman gue dulu salah banget. Gue waktu kena cacar pas kecil malah enggak mandi.

Soalnya enggak ada air.

Hiya hiya hiya.

Menurut pengalaman gue sebagai anggota komunitas terkena cacar akibat ditularin temen, bakal ada momen shock therapy dari transisi badan mulus menjadi penuh bintik-bintik merah yang dialami si penderita cacar. Apalagi kalau ini dialami oleh cewek dewasa yang sangat mementingkan penampilan tubuh.

Sebelum si pacar kaget badannya penuh bintik-bintik, gue berusaha menenangkannya.

"Nanti jangan panik ya kalau badan kamu jadi banyak bintik-bintik merah. Jangan panik kalau muka kamu gak jadi mulus lagi. Tapi kamu boleh panik kalau tiba-tiba aku ninggalin kamu"

Wadiadududwaiwdaduw!

Saturday, 15 September 2018

Ghibah Bareng Bloger: Haris Firmansyah Bahas Skenario Film dan Tulisan Parodi



Di episode sebelumnya, gue sudah berhasil ngulik kisah Gigip Andreas yang sempat menjadi perbincangan di belantika dunia perblogeran.

Pada ghibah kali ini, bintang tamunya enggak kalah tersohor. Dia adalah seorang bloger (tentu saja dong, kan namanya Ghibah Bareng Bloger), penulis di Mojok, dan juga ternyata orang yang menyusun skenario serial Tuyul & Mbak Yul Reborn.

Siap lagi kalau bukan Haris Firmansyah!!

Gak perlu basa-basi lagi, langsung aja yuk ikuti obrolan gue bareng Haris yang katanya hobi gosipin bloger-bloger lain ini.

Halo Haris, boleh kenalin diri dulu buat yang belum kenal, sampai-sampai bisa masuk rubrik ghibah?

Halo, saya Haris Firmansyah. Saya cuma penulis aja. Penulis untuk buku, televisi, dan website. Sebelumnya saya fokus ngeblog di blog sendiri. Eh, belakangan pindah ke blog ke Mojok.co.

Kenapa bisa masuk ke rubrik ghibah? Karena saya suka ngomongin orang.

Biasanya ngomongin siapa sih ris? Apakah ngomongin sesama bloger juga?

Kalau dengan sesama bloger, biasanya ngomongin bloger juga.

Di kalangan bloger, ada satu bloger yang layak untuk diperbincangkan. Sebab kiprahnya selalu membuat kami tercengang. Dia bisa dapat banyak dollar Google dari ngeblog. Cocoknya dipanggil Crazy Rich Blogger.

Kayaknya, saya sangat mengenal betul beliau. Apakah ia berasal dari sebuah kerajaan? *waduuh

Iya. Kerajaan yang membuat kelinci lapar. Yihaaaa. Nah, kerajaan tersebut baru banget melangsungkan Royale Wedding. Itulah alasan kenapa beliau jarang nongol menyapa rakyat. Ternyata beliau sibuk enak-enakan. Wuaduh.

Ya masih mending lah diem-diem nikah daripada diem-diem ngilang. Wah siapa tuh?

Wah siapa ya? siapa ya?? Btw tadi lu bilang, nulis buat televisi. Nulis kayak gimana?

Nulis buat sinetron. Waktu kecil kamu pernah nonton Tuyul & Mbak Yul nggak? Nah, tahun kemarin sempet ada Tuyul & Mbak Yul Reborn. Nah, itu saya yang nulis skenarionya bareng temen-temen.

Sekarang sih programnya udah bungkus. Mungkin udah nggak happening kali ya. Sekarang kan lagi musim sinetron tema karma dan azab. Saya udah angkat tangan dah kalau udah masuk ke horor religi begitu.

Kadang jadi penulis skenario itu aneh. Di hari yang sama kami bisa nulis tema berbeda dan berlawanan. Siang nulis sinetron religi yang Kun Anta. Malamnya bisa nulis sinetron semi syirik kayak Karma the Series. Dalam sehari aja bisa jadi dua pribadi berbeda: beragama dan berdosa.

Tapi bisa ambil sisi positifnya. Ambil yang baiknya (honornya). Buang yang nggak baik (ceritanya).

Berarti enggak suka sama cerita yang lu buat sendiri dong?

Suka. Tapi lebih suka nulis komedi fantasi kayak Tuyul & Mbak Yul Reborn aja. Maksudnya buang ceritanya itu jangan ditiru kelakuan tokoh antagonisnya. Gitu. Hahaha.

Passion nulis komedi juga, yang membawa lu jadi salah satu penulis di Mojok? Terus kenapa milih Mojok?

Yup. Bagi saya, "Mojok" itu saya banget. Saya itu "Mojok" banget. Setahu saya cuma Mojok aja media yang serius untuk tidak serius-serius amat.

Awal-awal tulisan saya terbit di Mojok, saya merasa tulisan saya bisa sampai ke lebih banyak pembaca yang satu frekuensi. Itu menguntungkan bagi saya. Apalagi sewaktu masih ada Arman Dhani. Doi ikut nge-share tulisan saya di akunnya. Arman Dhani gitu loh, selebtwit spesialis twitwar.

Lewat Mojok juga, nama Haris Firmansyah makin terkenal di jagat media sosial ya? haha

Emang seterkenal itu ya? Hahaha. Saya merasa belum ada apa-apanya kalau dibandingkan penulis Mojok lainnya, seperti Agus Mulyadi, Iqbal Aji Daryono, dll.

Awal mula nulis di Mojok tuh gimana? Mungkin ada yang ingin mengikuti jejak Haris sebagai bloger yang juga nulis di Mojok.

Awalnya, saya nulis di Facebook, bikin tulisan parodi. Terus ada yang copas tulisan saya tersebut tanpa cantumkan sumber FB saya. Lalu Mojok menayangkan tulisan copas itu di rubrik status. Jadi, sumbernya bukan FB saya.

Temen bloger, Justin Landhiani, kasih tau saya. Saya langsung konfirmasi ke Mojok. Voila. Mojok mengganti link sumbernya menuju FB saya. Setelah itu, saya diajak nulis di Mojok.

Jadi, ya terimakasih buat yang udah copas tulisan saya.

Setau gue, setiap artikel yang naik di Mojok punya bayaran yang menggiurkan. Jadi, selama nulis di Mojok, udah bisa pamer saldo ATM di Twitter belum? Wuaduuuh!

Waduh. Nggak mau pamer ah. Nanti diketawain sama Crazy Rich Riauan. Tapi lumayan lah bayarannya. Alhamdulillah. Bisa buat nonton seminggu dua kali. 

Kadang film yang ditonton jadi bahan tulisan, terus ditayangkan, jadi duit lagi. Terus dipakai beli tiket nonton lagi. Kurleb sama kayak karyawan Duniaku yang kerjaannya nonton walaupun film yang ditonton tidak bagus-bagus amat kayak The Nun kemarin.

Satu hal yang membuat tulisan-tulisan Haris sangat spesial adalah tentang bagaimana mengangkat cerita jadi bentuk parodi. Misalnya tulisan Dilan yang link tulisannya banyak beredar di Twitter, Facebook, sampai Instargram gue. Boleh tahu gak tips bikin tulisan parodi itu gimana?

Wah, itu memang hobi saya ngerusak cerita orang. Semua berawal dari kegetolan saya nonton film parodi Jason Friedberg dan Aaron Seltzer, seperti Scary Movie, Epic Movie, Not Another Teen Movie, dll.

Dari kesukaan itu jadi pengen bikin parodi sendiri. Bikin parodi itu dimulai dari pemilihan karya yang mau diplesetkan. Biasanya film yang paling membekas di hati dan punya cerita kuat yang bisa diparodikan. Yang lebih penting, filmnya terkenal. Kalau nggak ada yang tahu, buat apa diparodikan?

Tulisan parodi semacam bermain-main dengan imajinasi pembaca. Misal, pembaca udah ngebayangin sosok Cinta di AADC itu anggun. Bagaimana caranya kita twist asumsi tersebut. Di versi parodi, Cinta dikasih adegan ngaduk semen kayak kuli bangunan.

Untuk parodi Dilan itu saya memasukkan beberapa fenomena lucu selama 2017 yang menyentil ingatan pembaca. Jadi alur ceritanya kayak novel Dilan tapi dipatahin dikit, terus diselipi jokes-jokes kekinian ala meme atau konten parodi hati-hati di internet. Kuncinya, update jokes aja setiap waktu. Terus kumpulin buat dituangkan di tulisan parodi.



Setelah 3 Koplak Mengejar Cinta dan Wrecking Eleven, tertarik buat bikin buku tentang parodi-parodi gitu gak?

Sebenarnya saya udah rangkum naskah buku yang isinya kumpulan parodi, tapi belum ada yang berminat tuh, bos. Saya udah coba kirim ke beberapa penerbit, belum ada jawaban. Termasuk Rans Publishing, penerbitnya Raffi-Nagita.

Tapi tulisan parodi saya bisa dibaca semua orang di internet saja saya sudah cukup puas.

Kenapa sekarang blognya lebih banyak "ngiklan" dibanding curhat-curhat atau bikin parodi kayak dulu? Apa karena sibuk nulis di media lain?

Kalau bikin parodi itu agak susah sih sekarang. Belum nemu film yang bener-bener enak buat diparodikan.

Kalau curhat, saya sediakan naskah buku yang isinya curhatan semua. Semoga yang ini jadi terbit. Hahaha.

Kadang saya nerima iklan biar setidaknya ada satu tulisan di blog selama sebulan. Rasanya sayang sekali jika dalam sebulan blog kosong. Lagian saya kan nggak pakai adsense. Ye kan. Mumpung.

Dari gosip-gosip yang beredar, bener gak kalau lu pernah ditinggal nikah sama pacar?

Bukan gosip lagi. Itu kan saya twitkan dengan jari saya sendiri. Hahaha. Mantan-mantan rata-rata udah pada nikah semua sih. Beberapa udah punya anak satu. Polanya sama: putus sama saya, ketemu cowok baru, nikah.

Pernah punya perasaan kalo itu kutukan? Haha

Nggak deh. Itu cobaan aja untuk saya menjadi lebih sabar. Semoga bener cobaan. Bukan azab.

Sebagai bloger yang cukup terkenal, gak ada pembaca blog Hari Hari Haris yang bisa dipepet?

Kalau sesama bloger (karena pembaca blog biasanya bloger juga), biasanya nggak niat pepet-memepet. Natural aja.

Punya personal blogger favorit? Siapa?

Sejauh ini, baru Dijeh Theory aja yang favorit. Soalnya memang tulisannya tulus berkomedi.

(Gue gak bayar Haris buat ngomong gitu loh guys btw)

Kirain tulus cuma bernyanyi. Yok pertanyaan berikutnya. Nah buat rubrik selanjutnya, siapa yang pengin banget dighibahin? Alasannya apa?

Yoga Akbar Sholihin. Dia paling banyak keluhan sepertinya. Siapa tau dengan bercerita, dia sedikit entengan. Hahaha

Haha siyaap. Thanks ya Ris udah berbagi pengalaman di sini. Soalnya kalo curhat di ghibah, gak akan salah room kawan.

Betul. Sama-sama, Dijeh. Terimakasih sudah kembali ngeblog.

Nah itu tadi sekelumit kisah tentang Haris Firmansyah, bloger yang bisa dikatakan cukup berhasil. Karena dari ngeblog dia bisa membuat buku, kerja di media digital, sampai terlibat di industri film Tanah Air.

Saturday, 8 September 2018

Ghibah Bareng Bloger: Gigip Andreas Bahas Bloger Beda Kelas



Apa? Kamu bingung? Santai, bisa gue jelaskan. Jadi Ghibah Bareng Bloger adalah sebuah rubrik baru di blog gue yang berisi seputar tanya jawab serta gosip-gosip yang sedang hot dengan para bloger personal

Pada episode perdana dari Ghibah Bareng Bloger, gue sudah memilih seorang bloger yang belakangan namanya kerap disebut-sebut diperbelantika dunia bloger. Bukan karena dia baru aja merilis buku tapi karena.....

.

.

.

.

Twit yang memancing keributan netizen. Uwaduuh.

Dia adalah Gigip Andreas! Jangan ketuker sama Gegep dari cerita fiksinya seseorang ya.

Jadi di Ghibah Bareng Bloger ini, Gigip bakal sedikit bahas tentang twit yang banyak menimbulkan kesalahpahaman di antara netizen (emang nih netizen haus akan keributan).

Gak perlu berlama-lama lagi, yuk ikutin tanya jawab gue bersama Gigip.

GUE: Haloo Gip! Boleh kenalin diri dulu gak? Kali aja banyak orang yang belum tahu lu siapa.

GIGIP: Halo, Gigip Andreas di sini! Cuma manusia biasa, normal, dan kalau kalian nggak kenal, itu hal yang wajar. Karena kalau gue udah terkenal, kayaknya gue nggak akan ada di program ini sih. Mungkin udah nongol di TV, masuk acara talkshow, atau ikutan acara kuis Cak Lontong. HAHAHA.

Sejujurnya gue bingung mau mendeskripsikan diri kayak gimana, karena emang enggak ada hal keren yang bisa gue promosiin untuk branding juga. Tapi singkatnya, untuk saat ini, gue bisa bilang bahwa gue seorang bloger. Itu aja kali ya? Sangat biasa saja memang. Huhu.

GUE: Mantap. Oia, lu tuh umur berapa sih?

GIGIP: Juli 1996. Berarti sekarang berapa? 22 ya? Tapi gue selalu merasa umur gue 19 sih.

GUE: Umur-umur di mana rawan di tanya kapan nikah. Eh emang lu udah punya pacar belum nih?

GIGIP: Inilah kenapa gue selalu merasa berusia 19, karena semakin mendekati usia 25, semakin bacot pula pacar gue minta nikah. Ya, dia pengin nikah muda, dan gue... nggak tau belum siap aja. Belum siap jadi suami, belum siap punya anak, dan yang paling penting: belum siap disuruh-suruh beliin softext ke warung. Ini penting.

GUE: Soal ngeblog, kayaknya gue baru kenal blog lu beberapa waktu lalu. Emang sejak kapan mulai ngeblog?

GIGIP: Pertama kali ngeblog bulan Juni 2013. Lupa tanggalnya. Mungkin pertengahan Juni. Itu blog lama, zaman masih pake MyWapBlog. HAHA. Baru pindah ke Blogspot di bulan Oktober 2013. Blog itu bertahan sampai Desember 2017. Ngilang bentar, terus bikin blog baru tanggal 9 Maret 2018. Yang blog sekarang itu.

GUE: Sebenarnya, gue kenal blog lu juga gara-gara sebuah kasus di Twitter wkwk. Kasus "Blog beda kelas". Ceritanya gimana sih?

GIGIP: Definisi kasus di KBBI apaan sih? Gue belum cek. Tapi kayaknya terlalu "wah" kalau kejadian itu dibilang kasus. Istilah ringannya apa ya? Salah paham? Oke, gue sebut itu 'kejadian' aja ya.

Jadi gini, Gue abis dengerin Podcast Adriano Qalbi yang dengan tamu Ryan Adriandhy (2016), di obrolan mereka, Adri bilang, "Gue kangen Ryan manggung. Gue butuh komika yang ketika dia tampil bisa bikin gue pengin ngejar dia. Dan lo salah satu komika itu."

Terus gue mikir, kayaknya ini bisa jadi salah satu cara untuk ngilangin kejenuhan rutinitas blogging. Kresnoadi DH pernah nulis di blog-nya, dia ngerasa kegiatan membaca dan menulis jadi nggak seasik dulu. Dia pikir, mungkin alasannya karena belum nemu tulisan bagus yang bisa nampar dia dan ngerasa cupu. Singkatnya, dia butuh bahan bacaan bagus (sesuai versi dia) untuk bikin kegiatan nulis jadi lebih 'berasa' lagi.

Dan gue setuju. Opini Adriano Qalbi sama Kresnoadi DH itu sebenarnya mirip-mirip kan. Dan gue ngerasa, itu juga yang gue rasain. Jadi, malam itu gue chat N Firmansyah, gue minta daftar blogger yang nulis komedi yang dia tau. Karena ada banyak blogger yang tulisannya bagus, tapi beda kelas (beda genre, beda niche).

Sebagai salah satu manusia alay yang main media sosial, tentunya gue pengin kekinian kayak netizen dong. HAHA. Jadi chat itu gue capture dan gue upload ke Twitter. Nah, kayaknya sih, ada beberapa orang yang salah paham sama konteks yang gue maksud. Dan itu yang kemarin-kemarin sempat rame di Twitter.

Sejauh yang gue tangkap, mereka salah paham karena mengartikan "beda kelas" itu kayak perbandingan level. Kayak seolah-olah gue bilang bahwa komedi gue kelas A, komedi orang lain kelas B. Padahal ya, maksud "beda kelas" itu beda niche/genre.

GUE: Beberpa orang yang salah paham, siapa aja tuh?

GIGIP: Berapa orang yang salah paham, totalnya gue nggak tau. Yang gue tau cuma Dian Hendrianto. Makanya waktu itu gue mention Dian di Twitter, dia reply, dan gue anggap salah pahamnya udah selesai.

Tapi setelah beberapa hari, setelah gue sama Dian udah ngobrol dikit, gue baru kepikiran, "Mungkin Dian juga maksudnya bercanda ya? Cuma, karena gue nggak terlalu kenal sama Dian, jadi belum bisa bedain." Jadi ya, bisa aja emang waktu itu Dian bercanda dan gue yang nggak tau. Hahaha.

Dan kalau Dian cuma bercanda, berarti gue yang salah paham. Tapi intinya kan, waktu itu gue cuma nyoba klarifikasi, jaga-jaga Dian salah paham. Tapi ya udah lah ya, toh intinya udah selesai juga.

GUE: Lu juga sempat bikin tulisan klarifikasi masalah salah komunikasi itu di blog. Tapi terakhir gue liat, tulisannya udah gak ada. Apa lu hapus?

GIGIP: Gue hapus karena itu emang buat klarifikasi buat yang bersangkutan. Gue cuma bingung mau nulis di medium apa karena Twitter kependekan, kalau ngirim email lampiran gambar terpisah juga, jadi ya, saat itu yang ada di otak gue cuma blog. Berhubung udah selesai, gue tarik lagi tulisan itu. Begitu, Pak. Hehe.

Alasan lain: mengurangi manusia sotoy yang mungkin aja punya kesimpulan "Wah si Gigip ada masalah sama Dian. Mereka musuhan nih!" Nggak kok. Gue nggak musuhan sama Dian (setidaknya gue nggak dendam atau gimana).

GUE: Yoga juga sempat bikin tulisan yang "terinspirasi" dari masalah salah komunikasi itu. Tanggapan lu?

GIGIP: Pertanyaan kayak gini nih yang bikin program Ghibah jadi seru, sekaligus ngeselin. HAHAHA. Sialan emang Ghibah. I love Ghibah! Haha.

Soal tulisan Yoga, awalnya gue emang agak keberatan karena dia bikin cerita yang kontroversi. Sebenarnya nggak masalah sih kalau dia cuma narik "topiknya" tanpa bawa-bawa nama. Iya emang dia plesetin semua nama. Tapi kan, nama yang dia pake itu dari orang-orang yang emang bersangkutan. 

Gue nggak masalah sama semua yang dia tulis (termasuk cara dia ngebentuk karakter Gegep—yang mana diadaptasi dari gue), masalah gue cuma satu. Ketika dia nulis bagian "Gegep agak kesal pada Ebi karena dibilang tulisannya nggak lucu." Yang gue khawatirkan, Ebi (di dunia nyata itu Febri Dwi Cahya) jadi nganggap bahwa gue emang kesel sama komentar dia. Padahal nggak. Gue nggak kesel sama Febri. Makanya setelah baca tulisan Yoga itu, gue langsung chat Febri untuk ngejelasin. Untungnya Febri ngerti.

Dan karena Febri bisa ngerti, ya udah, gue nggak terlalu ngemasalahin tulisan Yoga lagi. Toh, Yoga sendiri yang bilang bahwa tulisan itu fiksi dan nggak semua yang ada di tulisan benar-benar terjadi di dunia nyata. Meskipun jauh di dalam hati tetap ada rasa khawatir pembaca dia ada yang salah tangkap. Bisa aja ada yang ngartiin itu sebagai bentuk sarkasme, kan?

Maksud gue, ya kalau lo di posisi gue, mungkin bisa lebih ngerti. Tokoh gue di cerita itu digambarin sebagai karakter yang "berdosa" kan, dengan segala keangkuhannya. Ya.. pokoknya gitu lah.. -__-

Tapi gue sama Yoga baik-baik aja sih. Nggak ada ribut-ribut atau konflik. Tambahan: gue nggak bilang pembunuhan karakter ya. Gue cuma khawatir ada salah paham lagi, khususnya di percakapan gue sama Febri. Selebihnya sih gue nggak terlalu jadi masalah.

GUE: Selain itu, punya pengalaman seru apa aja selama ngeblog?

GIGIP: 1) Tahun 2013 gue pernah dapet pacar dari blog. Dia pembaca, kami kenalan, kontakan, terus pacaran. Dia orang Bekasi, anak orang kaya. Sekarang dia kuliah di Jogja. Dia mutusin gue dan nyari cowok lain yang kaya juga. Emang kapitalis banget si kampret.

2) Tahun 2014 menang lomba blog dari RakBuku. Dan itu satu-satunya lomba yang gue pernah ikuti, dan gue menang. Abis itu nggak pernah ikutan lomba lagi. HAHAHA.

3) Selebihnya sih, seneng aja bisa sharing sama banyak orang. Sama orang yang (ngakunya) suka bacain tulisan gue di blog, mereka ngirim email, beberapa tukeran ID Line (bukan modus ya, tapi dulu Line GetRich emang booming kan). :p

Ya, kayaknya sih, itu-itu aja pengalaman seru gue di dunia blog. Yang paling berkesan? Ketika bisa ketemuan sama orang yang (ngakunya) suka bacain blog gue, ngobrol-ngobrol tukar pikiran. Itu jauh lebih bernilai dari semua yang pernah gue dapetin (untuk saat ini).

GUE: Punya bloger favorit gak? Siapa?


GUE: Kenapa tuh? Apa mereka satu kelas? Haha.

GIGIP: Secara harfiah (cielah), apaan. Haha. Nggak sih, gue suka mereka bukan karena komedinya. Tapi karena persona. Kresnoadi, kalau lo baca tulisan dia, rasanya kayak kita dibawa masuk ke dunia dia. Khususnya di tulisan yang perenungan gitu ya. Gue selalu tertarik sama orang introvert karena pemikiran mereka pasti unik.

Farih, gue suka tulisannya karena gaya dia. Agia juga. Penyampaian mereka beda.

Again, bukan soal komedinya. Tapi persona.

GUE: Oke, pertanyaan terakhir. Siapa bloger yang pengin lu ghibahin di rubrik ini?

GIGIP: Biar lo gampang, gue minta blogger pengangguran aja ya. Haha. Dia pasti bakal nge-bangsat-in gue sih. Haha. Febri Dwi Cahya. Bahas soal pergeseran dia dari jomblo menjadi orang yang punya pacar.

Maksudnya, apa aja dampaknya bagi dia setelah punya pacar ke dunia blog. Ke tulisan-tulisan dia yang sekarang. Apakah ada yang beda? Atau biasa aja? Tolong dibahas, Pak. Haha.

GUEThanks ya Gip udah meluangkan waktunya yang sangat luang.

GIGIP: Kebetulan gue manusia yang waktu luangnya banyak banget. Terima kasih juga.

Itu tadi bincang-bincang santai bersama Gigip Andreas. Kesimpulannya, masalah tentang bloger beda kelas itu udah clear dan cuma salah paham aja.

Terus Gigip juga request buat undang Febri Dwi Cahya di rubrik ini. Bapak Febri apakah bersedia saya tanya-tanya?

Oia, karena ini baru episode perdana dan pasti masih banyak kekuarangannya. Boleh loh kasih masukan di kolom komentar!

Thursday, 6 September 2018

Tipe-tipe Ketawa Orang Indonesia di Dunia Maya



Indonesia tuh negara yang sangat majemuk. Punya 261 juta penduduk, 17 ribu pulau, 1.340 suku, 742 bahasa, 1 chat aku yang gak pernah dibales.

Yok lanjut yok!

Keberagaman ini juga kayaknya bikin orang-orang Indonesia punya cara ketawanya masing-masing di media sosial. 

Selama gue main Twitter, gue banyak banget nemuin berbagai macam ketawa orang Indonesia. Kayaknya tuh enggak afdol gitu kalau ketawa cuma "Hahaha" atau "wkwk" doang. 

Setelah melakukan riset yang sangat lama, yaitu 2,5 detik, berikut ini berbagai tipe ketawa orang Indonesia.

Ngakak Online


Salah satu tipe ketawa orang Indonesia yang paling sering gue temuin, ngakak online. Gue takut aja pas lagi ngakak, eh buffer :(

Mungkin kalau sekarang Pak Tifatul Sembiring nanya internet cepat buat apa? Ya jawabannya buat ngakak online dong bosque! 

Ngakak Guling-guling


Kebayang gak sih, orang yang ketawanya gini tuh pas lagi Jum'atan. Terus guling-guling sampe mimbar imam :(

Mau Ngakak tapi Takut Dosa


Anda ghibahin orang di sosmed kenapa gak mikir takut dosa juga hey jaket kulit cibaduyut!

Apa Gue Doang yang Ngakak Liat Fotonya


IYA LU DOANG DI DUNIA INI YANG KETAWA!!!

Auto Ngakak

Yang enggak ngakak berarti ngakaknya kudu ganti gigi dulu nih.

Sakit Rahang Gue


Ya ke dokter dong mbaaak!

Ngakak So Hard



Ketawanya anak Jaksel apa ya??

Ngakak Sekebon

Ya Allah :((((

Degradasi Humor



Anda kira ini kompetisi Liga Inggris pake degradasi??

Aduh Selera Humor Gue

Tipe ketawa yang tetap down to earth.

Gimana, aneh-aneh banget kan ketawa orang Indonesia tuh. Kalau kamu, pernah nemu orang ketawa kayak apa neh??


Thursday, 30 August 2018

3 W 1 H



Kalian ngerasa gak sih kalau bulan Agustus tuh lama banget? Apa cuma perasaan gue doang ya, yang bulan Agustusnya berasa 247 tahun.

Untungnya, meskipun berasa lama, banyak banget hal seru di bulan ini. Seperti yang gue tulis di judul, 3 W 1 H. Bukan, dibacanya bukan jadi ewih! Gini, gue jelasin satu persatu.

Wih Ada Iklan Nih

W yang pertama adalah seputar blog gue. Setelah mencoba mengelola blog ini dengan profesional layaknya blogger pada umumnya, gue pun memutuskan untuk memasang Google Adsense! Yeeeey!

Tapi, buat daftar Google Adsene tidak mudah kawan-kawanku sekalian. Saat pertama kali gue daftar, gue dapat email kalau pengajuan Google Adsene-nya ditolak. Konon alasannya mau fokus belajar dulu. YA ENGGAKKK DONG YANG MULIA. 

Katanya, blog gue telah melanggar salah satu peraturan dari Google. Sayangnya, enggak dijelasin secara rinci apa yang salah dengan blog gue.

Gue pun inisiatif bales email-nya untuk nanya kesalahan apa ya telah dilanggar blog gue.

"Kalau boleh tahu, kira-kira kesalahan apa yang telah saya langgar?" Tanya gue.

"PIKIR AJA SENDIRI!" jawab Google sambil buang muka.

Gak, gak gitu ya. Dikata Google tuh cewek PMS. 

Jadi, setelah gue nanya tentang masalah tersebut, gue disuruh daftar lagi. Beberapa hari kemudian, gue pun dapat email kalau Google Adsene di blog gue disetujui.

Respons pertama ketika baca email itu adalah HAMBAA AKAN JADI KAYA RAYA YA ALLAH!!!

Tapi setelah beberapa hari iklan terpampang di blog ini, ternyata gue cuma dapet Rp543 doang. Buset, buat bayar kang parkir alfamart aja harus kredit empat kali itu mah.

Wiro Sableng



W yang kedua tentang Wiro Sableng. Tanggal 29 kemarin, gue dapet kesempatan untuk meliput acara Meet and Greet film Wiro Sableng 212 di CGV Grand Indonesia. 

Acaranya seru banget. Ada Vino G Bastian, Sherina, Marsha Timothy, Yayan Ruhian, petugas CGV, mbak-mbak penjual pop corn dan masih banyak lagi.

Selain ketemu para cast tadi, gue juga dapat screening exclusive film Wiro Sableng sebelum resmi tayang mulai 30 Agustus 2018. Filmnya seru dan rekomended deh buat ditonton.

Untung selama nonton filmnya, gue enggak menemukan adegan Wiro Sableng ngelempar kapak naga geni 212 ke arah pohon terus ada yang teriak, MASHOOOK PAK WIROOO!!

Wanita yang Rahimnya Anget

Jadi, belakangan ini twitter gue rame banget sama cewek-cewek yang ngetwit kalo rahimnya anget setelah nonton pertandingan bulu tangkis Jonathan Christie. 

Karena gue bukan cewek, jadi gue gak paham apa rasanya dan bagaimana sebabnya sebuah rahim bisa anget. Yang jelas kalo gue punya rahim dan lagi anget, gue gak bakal pikir panjang buat beli Bodrexin.

Gak kebayang juga kalo cewek-cewek ini tuh nonton pertandingan Chris John yang dari menit awal sampai akhir udah gak pake baju. Bukan cuma anget, rahimnya bakal meledak kali tuh!

Hei Pada ke Mana sih Kalian?

Nah H yang dimaksud dari judul 3 W 1 H adalah tentang pertanyaan pada ke mana nih blogger angkatan gue ((angkatan gue)). Maksudnya, dulu kira-kira tahun 2015, kayaknya gue banyak banget punya temen blogger aktif. Setiap hari, gue gak perlu bingung lagi kalau mau blogwalking ke mana.

Tapi sekarang, kayanya cuma segelintir aja yang masih bertahan dan aktif buat ngeblog (Atau guenya aja yang gak tau). Mungkin karena kesibukan masing-masing yang ngebuat mereka jarang ngeblog lagi.

Komunitas-komunitas blogger kayak Blogger Energy atau Jamban Blogger juga udah gak keurus. Jadi mau nyari temen blogger baru juga susah nyarinya di mana huhu.

Kalau punya temen yang masih aktif ngeblog, bisa kali nih di kasih tahu di kolom komentar. Yuk ah!

Friday, 24 August 2018

Film Favorit



"INI LAGU YANG KAMU SUKA KAAAN?," tanyaku setengah berteriak.

"DARI TADI AKU NUNGGUIN MEREKA BAWAIN LAGU INI," jawabnya sambil mulai mengangkat-angkat tangan dan menghentakkan kaki sambil mengikuti irama musik.

"ASYIK JUGA LAGUNYA."

"LAGU SHIELA ON 7 SIH GAK ADA YANG GAK ASYIK, DIM."

Ini merupakan kali pertama aku menonton konser sebuah band. Dulu, aku memang sempat menyaksikan beberapa band seperti Naif, Souljah, dan The Upstair manggung. Tapi, itu itungannya cuma tampil di pensi sekolah dan bukan konser besar.

Kini, aku sedang berada di tengah kerumunan sheila gank yang begitu semangat sing along bersama Duta. Meski aku bukan Sheila Gank garis keras, tapi aku tetap berusaha ikut bernyanyi di beberapa bit yang memang sering aku dengar di sportify. Misalnya saat Duta membawakan lagu Dan.


Dan apalabila esok datang kembali... selebihnya aku tidak hafal.


Biarpun aku bukanlah orang yang begitu mengagumi karya-karya Sheila on 7, namun alasanku bisa hadir di konser adalah karena seseorang.

Disya Amalina Ramaysti.

Nama wanita yang sedang ada di sampingku. Aku mengenalnya saat mengikuti ospek kampus. Ketika melihat Disya pertama kali, aku curgia jika A Arafiq memang meciptakan lagu "Pandangan Pertama" khusus untukku.

Disya nampak cantik meski rambut panjangnya harus tertutup topi caping serta wajah penuh coretan spidol karena hukuman yang diberikan oleh senior.

Berbeda denganku. Ospek di kampus pertanian ini, benar-benar membuatku seolah seperti petani dengan mengenakan topi caping serta baju lusuh penuh keringat. Brengsek.

Namun, tak apa rasanya andai aku harus pergi ke sawah memanggul cangkul, asal ketika siang hari Disya datang menjemput sambil membawa teko dan rantang berisi nasi dan ayam. Kami lalu bercengkrama di bawah saung nan sejuk.

"Fokus dek, Fokus!!" teriak kakak senior membuyarkan khayalanku.



Setelah ospek berlalu, ternyata aku bisa kenal lebih dekat dengan Disya. Aku mungkin perlu berterima kasih kepada dosen mata kuliah ekonomi pertanian, Pak Jajang, yang membuat Aku dan Disya satu kelompok.

Kedekatan antara kami, membuatku tahu beberapa sifat tentang Disya. Pertama, Disya sangat menyukai lagu-lagu dari Sheila on 7. Bahkan ketika membuka Instagramnya, Aku melihat beberapa foto Disya dengan Duta.

Kedua, Disya juga moviefreak. Berkat Disya, aku jadi mengikuti film-film Marvel yang sebelumnya aku anggap film buat anak kecil.

Ketiga, yang paling menyebalkan, Disya merupakan perempuan idola lelaki di kampusku. Entah berapa kali aku harus jadi teman curhat Disya tentang laki-laki yang berusaha mendekatinya. Beruntung, tak ada pria yang berhasil meluluhkan hati Disya.

Selama empat tahun dekat dengan Disya, aku belum berani untuk mengungkapkan rasa suka. Entah karena aku tidak percaya diri, atau karena aku takut jika malah merusak hubungan pertemanan kami.

Sampai suatu ketika, Disya mengajakku menonton konser Sheila On 7. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan ajakannya. Rencananya juga, setelah menonton konser, aku ingin mengungkapkan perasaanku terhadap Disya.

"INI LAGU YANG KAMU SUKA KAAAN?," tanyaku setengah berteriak.

"DARI TADI AKU NUNGGUIN MEREKA BAWAIN LAGU INI," jawabnya sambil mulai mengangkat-angkat tangan dan menghentakkan kaki sambil mengikuti irama musik.

"ASYIK JUGA LAGUNYA"

"LAGU SHIELA ON 7 SIH GAK ADA YANG GAK ASYIK, DIM. APALAGI LAGU FILM FAVORIT INI"

Nonton konser di dekat sound system memang ngebuat Aku dan Disya jadi haji bolot sesaat. Untuk berkomunikasi, mau gak mau kami harus saling berteriak meski berdiri bersampingan.

"EMANG KALAU KAMU, FILM FAVORITNYA APA, DIS?" Tanyaku penasaran.

"APAAA DIIM?"

"FILM FAVORIT KAMU?

"APA?"

"FILM...FILM FAVORIT?"

"HAAAAH?"

"GAK JADIII" kataku kesal.

******

"Seru kan konsernya?" tanya Disya membuka obrolan kami di sebuah tempat makan berinisial mcd setelah lelah berjingkrak-jingkrakan.

"Seru sih, tapi lain kali kita jangan pilih tempat yang deket sound system, bikin budek," jawabku kesal sambil melahap ayam krispi yang ada di piring.

"Haha Dimas, Dimas. Gapapa deh, biar jadi pengalamanmu," balas Disya sambil tersenyum ke arah ku.

Mungkin ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku kepada Disya. Perasaan yang telah aku pendam sejak pertemuan kami di ospek kampus. Perasaan yang terus aku tahan selama empat tahun. Dari durasinya, mungkin perasaanku ini sudah cocok dimasukkan ke PAUD.

"Bentar....bentar Dim," Disya meminta izin kepadaku karena mendapat panggilan telepon dari seseorang.

Karena penasaran, aku pun bertanya siapa yang meneleponnya barusan.

"Andri, pacar aku. Katanya nanti mau jemput aku setengah jam lagi," balas Disya yang seakan membuat hatiku hancur berkeping-keping. Perasaan yang terus aku pendam bertahun-tahun akhirnya bisa menemukan jawaban tanpa perlu diungkapkan.

Tubuhku mati.

"Maaf ya, Dim. Sebelumnya aku gak pernah cerita ke kamu tentang Andri. Tadinya, aku juga ingin menonton konser bareng Andri, tapi dia lagi sibuk urusan kampus. Karena bingung tiketnya buat siapa, yaudah aku ajak kamu sebagai teman setia aku buat nemenin."

"Oh gituu...." jawab ku dengan nada yang sangat lemas. Karena tak ingin Disya melihatku dalam keadaan hancur, aku tetap bersikap biasa aja. Sesekali aku membahas topik yang tak ada hubungannya dengan pacar barunya, Andri.

"Eh tadi aku kan nanya," ungkapku sambil menatap Disya perlahan.

"Nanya apa?" balas Disya penasaran.

"Kamu kan suka lagu Film Favorit. Emang film favorit kamu apa sih?"

"500 days of summer."



Dimas, Jakarta Selatan, pukul 20.55