Monday, 7 October 2019

Martin Odegaard, Kembalinya si Anak Ajaib yang Hilang


Dilupakan mungkin sebuah kata yang tak diinginkan oleh siapapun. Tak terkecuali dengan Martin Odegaard.
Di usia 15 tahun, nama Martin Odegaard menjadi buah bibir seluruh pengamat sepak bola dengan label bocah ajaib dari Stromsgodset. Di usia 16 tahun, Real Madrid resmi memboyong pemuda Norwegia itu ke Bernabeu pada Januari 2015 dengan mahar 7,5 juta euro. Empat bulan berselang, Martin Odegaard membuat sejarah sebagai pemain termuda yang bermain untuk Real Madrid sepanjang sejarah.
Namun setelah itu, Sosok Odegaard seolah tenggelam.
Musim 2019/2020, namanya kembali terdengar di Spanyol. Bukan dari klub ibukota Real Madrid, melainkan di penjuru kota San Sebastian. Berbalut jersey putih biru Real Sociedad, Martin Odegaard terlahir kembali sebagai seorang anak ajaib yang telah lama hilang.
Real Sociedad menjamu Alaves di pekan ke-6 Liga Spanyol pada Jumat (27/9/2019) WIB. Menerima operan di lini tengah, Odegaard mengontrol bola secara sempurna sekaligus melakukan nutmeg terhadap pemain Alaves. Sebelum akhirnya ia mengirimkan umpan brilian kepada Mikel Oyarzabal yang diselesaikan menjadi gol.
Publik Anoeta bergemuruh bukan saja karena gol pembuka di laga itu, tapi takjub melihat visi dan kecerdasan yang dipamerkan bocah 20 tahun.

Satu asis dalam kemenangan 3-0 atas Alaves itu, semakin memperpanjang catatan apik Martin Odegaard di musim ini. Sebelumnya, pemain Norwegia tersebut mencetak gol kemenangan 1-0 atas Mallorca pada Agustus, dan menciptakan gol pembuka kemenangan 2-0 atas Atletico Madrid pekan lalu.
Mimpi Semu Real Madrid


Saat Real Madrid membelinya pada Januari 2015 lalu, Odegaard mendeskripsikan sebagai sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Namun, meniliki bagaimana sepak terjang pria kelahiran 17 Desember 1998 selama ini, mimpi itu terlihat semu.
Di usia yang masih 16 tahun, tentu Odegaard bukanlah pilihan utama Real Madrid yang kala itu dihuni bintang-bintang besar seperti Ronaldo, Di Maria, hingga Karim Benzema.
Pelatih Carlo Ancelotti pun menuturkan jika bocah ajaib dari Stromsgodset itu tidak ada dalam rencananya.
“Saat Florentino Perez (Presiden Real Madrid) membeli seorang pemain dari Norwegia, anda hanya harus menerimanya. Selanjutnya, ia memutuskan bahwa Odegaard akan bermain tiga pertandingan dengan tim utama sebagai citra klub terhadap pengemar. Dia bisa menjadi pemain terbaik di dunia, tetapi saya tidak peduli karena dia bukan pemain yang saya minta. Penandatanganan itu berkaitan sebagai citra klub,” ungkap Ancelotti.
Meski sempat menjalani debut bersama Real Madrid di usia 16 tahun 157 hari, Martin Odegaard lebih banyak menghabiskan menit bermainnya bersama Castilla, klub Junior Real Madrid.
Dianggap belum cukup mumpuni untuk menembus tim utama, Januari 2017 Odegaard dipinjamkan ke SC Heerenveen selama 18 bulan. Odegaard tampil buruk di masa awal “sekolahnya” di Belanda. Ia cuma menciptakan sekali shot dan asis dalam 7 pertandingan pertama.
Odegaard mulai mendapat tempat utama di musim 2017/2018. Hasilnya ia menorehkan 4 gol dan 3 asis dari 31 pertandingan bersama Haarenveen.
Musim lalu giliran Vitesse yang jadi pelabuhan Odegaard selama masa peminjaman. Penampilannya di liga Belanda meningkat pesat. 11 gol dan 12 asis dari 39 laga menjadi bukti jika Martin Odegaard sudah semakin matang.

Pembuktian Terakhir


Martin Odegaard harus tetap bersabar untuk bisa berbarju Los Merengues. Real Madrid yang sudah mendatangkan Luka Jovic dan Eden Hazard di musim ini, membuat Odegaard lagi-lagi harus tersingkir.
Real Sociedad jadi klub ketiga Odegaard selama masa pinjaman. Di bawah asuhan pelatih Imanol Alguacil, potensi Odegaard terus meroket. Ia menjadi pemain penting bagi Real Sociedad untuk bertengger di peringkat kelima sementara Liga Spanyol dengan empat kali menang, sekali kalah dan seri.
Melihat trend positif yang dipertunjukkan Odegaard bersama Real Sociedad, menghembuskan kabar jika para penggemar Real Madrid menginginkan sang wonderkid kembali ke Bernabeu.
Namun Real Madrid tak ingin terburu-buru membawa kembali Odegaard. Selain karena kontrak peminjaman Odegaard yang baru berakhir akhir musim ini, Madrid juga ingin pemain Norwegia tersebut mendapatkan jam terbang lebih banyak.
Bagi Martin Odegaard, masa peminjaman di Real Sociedad musim ini mungkin menjadi pembuktian terakhir untuk merealisasikan mimpi semunya menjadi nyata. Yakni menjelma sebagai pemain andalan Real Madrid.

Sunday, 6 October 2019

Erling Braut Haland, Monster Muda dari Skandinavia


Bukan Liverpool yang notabene sang juara bertahan. Bukan pula Ronaldo, yang merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah. Gelaran pembuka Liga Champions 2019/2020 nyatanya adalah panggung mewah bagi debutan muda bernama Erling Braut Haland.
Rabu (18/9/2019) dini hari WIB, menjadi malam paling diingat oleh Erling Braut Haland. Tiga gol dicetak Haland untuk membawa timnya, Red Bull Salzburg, meraih kemenangan telak 6-2 atas tamunya Genk di laga perdana grup E Liga Champions. Menjadi spesial, karena usia Haland baru 19 tahun! Seolah hat-trick dalam laga debutnya di Liga Champions tersebut sebagai penanda lahirnya bakat muda baru di sepak bola.
Dengan usia 19 tahun dan 58 hari, Haland hanya kalah dari Wayne Rooney (18 tahun 340 hari) dan Raul Gonzalez (18 tahun dan 113 hari) sebagai pencetak hat-trick termuda di Liga Champions.
Sebenarnya, ini bukan pertama kali Erling Braut Haland menjadi buah bibir pengamat sepak bola. Pada Juni 2019, pemain bertinggi 191 cm ini menorehkan catatan sensasional. Bersama timnas Norwegia, Haland berhasil mengemas sembilan gol kala bersua dengan Honduras di laga terakhir Grup C Piala Dunia U-20. Bahkan ia nyaris menggenapkan raihan golnya menjadi sepuluh andai sepakannya pada menit terkahir bersarang ke gawang Honduras.

Pembalasan Dendam Sang Ayah

Haland bukanlah nama yang cukup asing di belantika sepak bola. Jauh sebelumnya, sudah ada nama Alf-Inge Haland. Yang notabene merupakan ayah dari Erling Braut Haland.
Haland senior memang tak banyak mencetak gol karena perannya hanya seorang gelandang bertahan. Ia bahkan tak sekalipun meraih gelar juara sepanjang kariernya bersepakbola. Satu hal yang membuat Haland senior tetap menjadi perbincangan adalah perseteruan dengan mantan kapten Manchester United, Roy Keane.
April 2001, Alf-Inge Haland melawat ke Old Trafford sebagai pemain Manchester City. Seperti derbi pada umumnya, duel satu kota ini diprediksi akan panas.
Benar saja, sebuah tekel brutal dilayangkan Roy Keane tepat di lutut kiri Haland sebagai buntut balas dendam. Peristiwa ini membuat Keane diganjar denda dan larangan bermain. Namun bagi Haland, dampaknya jauh lebih besar. Dua tahun berselang, Alf-Inge Haland resmi gantung sepatu di usia yang baru menginjak 31.
Rasa nyeri di kaki kiri Haland senior mungkin sudah hilang, tapi Haland tentu tak bisa menahan rasa sakit hatinya harus pensiun dini dari sepak bola. Dan kemuncul sosok Erling Braut Haland bisa jadi obat manjur bagi sang ayah.

Monster Buas di Dalam Kotak Penalti

Lahir di Leeds, 21 July 2000, mulanya karier sepak bola Haland tidak terlalu spesial. Bersama klub pertamanya, Bryne, Haland tak sekalipun mencetak gol dari 16 pertandingan.
Sempat gagal mengikuti trial bersama Hoffenheim, Haland hijrah ke salah satu klub besar di Norwegia, Molde, pada January 2017. Musim pertamanya, ia mengemas 4 gol dari 20 pertandingan.
Kerja keras Haland perlahan mulai menujukkan hasilnya. Selain masa otot dan tinggi badannya yang berkembang pesat, insting mencetak golnya pun meningkat. 12 gol dari 25 pertandingan ia buat di musim kedua bersama Molde, termasuk 4 gol spektakuler ke gawang pemimpin klasemen Liga Norwegia, Brann.
Sebelum pertandingan tersebut, Brann hanya kebobolan 5 gol dari 14 laga, tapi Haland hanya perlu 20 menit untuk menggelontorkan 4 gol.
Keputusannya bergabung dengan Salzburg pada Januari 2019 membuat orang bertanya-tanya, mengingat ia juga mendapat tawaran dari beberapa klub besar seperti Juventus dan Bayern Leverkusen.
“Salzburg adalah klub yang paling cocok untukku dan merekalah yang paling menginginkanku. Aku juga berpikir untuk melihat seberapa penting peranku untuk tim. Ada lebih banyak peluang bermain di sini,” ujar Haland tentang keputusannya memilih klub asal Austria tersebut.
Langkahnya untuk bergabung dengan klub yang melambungkan nama Sadio Mane dan Naby Keita itu terbukti tepat. Erling Braut Haland sudah mencatatkan 17 gol dari 9 pertandingan yang ia lakoni untuk Salzburg di musim ini.

Mimpi Bermain di Premier League

Sama seperti bakat-bakat muda lainnya, Haland memiliki banyak mimpi sebagai seorang pemain sepak bola. Mimpi pertamanya adalah mengalahkan rekor sang ayah. “Pertama, aku ingin menjadi lebih baik dari ayah. Dia bermain sebanyak 181 kali di Premier League, jadi itu tujuan ku sebagai contohnya: Mencatatkan pertandingan lebih banyak dari ayah,” ujar Haland.
Manchester United terang-terangan tertarik untuk mendatangkan Haland ke Old Trafford. Terlebih faktor Ole Gunnar Solkjaer yang pernah menjadi pelatih Haland di Molde. Sayangnya, hubungan Manchester United dengan keluarga Haland kurang begitu harmonis jika ditilik dari sejarah perseturuan Roy Keane dengan Alf-Inge Haland. Hal itu membuat MU kesulitan mendatangkannya.
Mimpi Haland lainnya adalah bisa mengantarkan klub kota kelahirannya, Leeds United juara Liga Inggris. Sayang, Leeds tidak seperti Leeds yang dibela oleh Haland senior.
Leeds yang dikenal garang di era 90-an, sedang terpuruk dan masih terus berjuang untuk promosi dari Championship Division.
Mengingat mimpi Haland itu terbilang mustahil, tak salah jika klub-klub Liga Inggris lain memiliki peluang besar mendatangkan pemain berambut pirang tersebut.
Namun untuk sekarang, fokus bermain dan memberikan segala yang terbaik bagi Red Bull Salzburg adalah pilihan yang tepat untuk terus meningkatkan kemampuan Haland.
Erling Braut Haland diprediksi menjadi salah satu striker hebat dunia. Bagi sebagian pemain, mencetak hat-trick di Liga Champions adalah suatu prestasi besar, tapi bagi Erling Braut Haland, ini hanyalah sebuah permulaan.

Saturday, 5 October 2019

Ansu Fati, Pembuktian Teranyar Produk La Masia


Di usia 16 tahun 11 bulan 5 hari, sebagian pemuda mungkin sedang menghabiskan waktunya di depan layar komputer memainkan game online, atau mungkin sekadar duduk di kedai kopi ternama sambil bergosip ria. Tapi bagi Ansu Fati, tepat diumur tersebut, ia melangkah yakin di bawah gemerlapnya cahaya stadion Camp Nou.
Sabtu (25/8/2019), mengenakan jersey berwarna merah biru khas Blaugrana, Ansu Fati masuk sebagai pemain peganti pada menit ke-78 menggantikan Carles Perez di laga kontra Real Betis.
Tampil dalam 13 menit terakhir pertandingan, Fati nyaris menorehkan namanya di papan skor. Menggiring bola dari di sisi kanan lini serang Barca, Fati bergerak menusuk ke jantung pertahanan Betis dan melepaskan tendangan mendatar ke tiang jauh. Sayang bola sedikit meleset dari gawang.
Dalam laga yang berakhir 5-2 bagi kemenangan Barcelona itu, Ansu Fati menjadi pemain termuda kedua yang melakukan debutnya untuk Azulgrana. Ia hanya 18 hari lebih tua daripada Vincent Martinez, yang mencatatkan rekor pada tahun 1941.
Walau begitu, Ansu Fati resmi memperkenalkan namanya sebagai salah satu pemain masa depan Barcelona.

Pecahkan Rekor Demi Rekor




Ansu Fati sebenarnya adalah pemain tim Juvenil A (U-19 A) Barcelona. Ia diproyeksikan untuk mengisi skuat Barcelona B di musim ini. Namun, badai cedera yang menghantam skuad utama Barcelona, menjadi berkah tersendiri bagi Fati.
Nama-nama seperti Ousmane Dembele dan kapten Lionel Messi terpaksa harus menepi cukup lama. Tanpa perlu menjalani debutnya di Barcelona B, Fati langsung dipanggil Valverde ke tim senior.
Laga melawan Real Betis di pekan ke-2 Liga Spanyol, seakan hanya menjadi pembuka rentetan rekor yang dibuat Ansu Fati.
Seminggu berselang, bertandang ke Osasuna di pekan ke-3, Barcelona masih belum bisa menurunkan Messi, Dembele, dan Luis Suarez di lini depan. Hasilnya, Barcelona bermain buruk dan tertinggal 1-0 di babak pertama.
Di awal babak kedua, Valverde memasukkan Ansu Fati untuk menggantikan Semedo. Cuma butuh 5 menit bagi pemain kelahiran Guinea-Bisau itu mebobol gawang Osasuna sekaligus menjadikannya pencetak gol termuda bagi Barcelona sepanjang sejarah.
Magis Ansu Fati belum berakhir. Menjamu Valencia di pekan ke-4 Liga Spanyol, Fati tak perlu lagi harus menunggu di bangku cadangan. Ia dipercaya mengisi lini serang Barcelona bersama Carlez Perez dan Antoine Griezmann.
Satu gol dan satu assist ia ukir di laga yang dimenangkan Barca 5-2. Fati sekaligus mengukuhkan diri sebagai pemain termuda yang bisa mencetak gol dan assist dalam satu pertandingan Liga Spanyol.

Menolak Tawaran Real Madrid




Sama seperti pesepakbola Afrika kebanyakan, Ansu Fati tumbuh di lingkungan kumuh negara Guinea-Bisau. Untuk bisa menyalurkan hobi bermain bola, sosok kelahiran 31 Oktober 2002 itu terkadang hanya menendang-nendang gulungan kaus kaki.
Ansu Fati hidup bersama ibunya, Maria. Sang Ayah, Bori, terpaksa meninggalkan Guinea-bisau untuk bisa menghidupi keluarga dengan bekerja di Spanyol Selatan. Bori bekerja serabutan sebelum menjadi supir pribadi Juan Manuel Sanchez Gordilo, walikota Marinelda di Sevilla.
Berkat Gordilo, Bori akhirnya bisa memboyong keluarganya termasuk Fati yang masih berusia enam tahun ke Spanyol. Sang Ayah sempat dibuat takjub oleh skill Ansu Fati mengolah si kulit bundar. Fati akhirnya dikirim ke Peloteros School, yang memiliki tim sepak bola di Herrera, sebuah kota kecil yang berjarak satu jam dari pusat kota Sevilla.
Tak butuh waktu lama bagi Fati mencuri perhatian banyak pemandu bakat, termasuk Pablo Blanco, kepala akademi Sevilla. Tahun 2010, Fati pun resmi bergabung bersama akademi Sevilla.
Di usianya yang belum genap 10 tahun, banyak yang memprediski Ansu Fati akan menjadi seorang pemain hebat di masa depan. Bahkan hanya beberapa pekan bermain di akademi Sevilla, Fati sudah kembali mendapat tawaran dari Real Madrid dan Barcelona.
Orang tua Fati kemudian mengunjungi markas akademi Madrid dan Barcelona untuk memilih tempat yang terbaik bagi sang anak. Seperti yang sama-sama kita ketahui sekarang, orang tua Fati akhirnya lebih memilih Barcelona.
“Real Madrid menawarkan kami lebih banyak uang, tetapi ketika aku pergi ke Valdebebas (markas latihan Madrid), aku melihat bahwa mereka tidak memiliki asrama untuk anak-anak, meskipun mereka menawarkan kami sebuah rumah. Pada akhirnya, kami memilih Barcelona karena mereka memiliki asrama,” ungkap Bori.
Setelah menolak pinangan Madrid, bukan berarti Fati otomatis langsung bergabung dengan Barcelona. Direktur Sevilla, Monchi, masih berharap Fati mau bertahan dengan menawarkan uang lebih banyak dari Barcelona. Namun orang tua Fati tetap bergeming.
Keputusan keluarga Fati membuat Sevilla geram dan menolak memainkan Fati selama tahun 2011.
Ansu Fati akhirnya hijrah ke Barcelona di tahun 2012 sekaligus memulai petualangan baru sebagai produk La Masia.

Pembuktian La Masia




Fati masuk ke tim Alvein A atau U-12 Barcelona. Meski masih berusia 10 tahun, tapi Fati terlihat sangat menonjol di antara rekan-rekannya yang lebih tua. Bersama Takefusa Kubo, Fati menciptakan duet mematikan di tim junior Barcelona. 130 gol mereka cetak selama bermain di Alvein A.
Sayang pada tahun 2014, Barcelona dihukum embargo tranfer oleh FIFA, yang membuat Kubo dan sejumlah pemain impor lainnya angkat kaki dari La Masia.
Fati sendiri tetap bertahan di Barcelona. Sampai hukuman embargo itu berakhir pada tahun 2015, Fati baru bisa kembali terdaftar sebagai pemain Barca.
Di tim Juvenil B (U-18), Fati lagi-lagi membuktikan kualitasnya sebagai pemain paling menonjol di antara teman maupun lawan. Pelatih Jose Mari Bakero kemudian menggeser posisi Fati dari striker menjadi seorang winger dengan tujuan mengasah skill dribble-nya. Di posisi barunya itu, Fati terus berkembang dan bahkan mampu menjadi topskor Liga U-18.
Tak mau kehilangan aset berharganya, Barcelona langsung memagari Fati dengan perpanjangan kontrak hingga 2022 dengan klausul pelepasan 100 juta euro.
Kehadiran Ansu Fati di skuat utama seakan menjadi jawaban atas banyaknya kritik terhadap Barcelona yang mulai jarang mengorbitkan produk akademi sendiri.
Blaugrana lebih mengutamakan membeli sejumlah pemain dengan harga selangit dalam beberapa tahun terakhir. Coutinho, Dembele, hingga Antoine Griezmann adalah contohnya.
Padahal Barcelona dikenal sebagai penghasil pemain-pemain akdemi terbaik. Bahkan di era 2010-an, skuat utama Barcelona hampir semuanya diisi oleh jebolan La Masia.
Victor Valdes, Puyol, Pique, Xavi, Busquets, Iniesta, Pedro, dan Messi adalah tulang punggung Barca saat meraih treble winners di bawah asuhan Pep Guardiola yang juga adalah didikan La Masia.
Paska kepergian Guardiola, terjadi penurunan jumlah pemain La Masia di Barcelona. Pada tahun 2018, Valverde memainkan starting eleven tanpa satu pun pemain didikian La Masia. Hal yang baru terjadi selama 16 tahun terakhir.
Tentu kemunculan Ansu Fati seolah menjadi oase segar bagi para penggemar Barcelona yang rindu terhadap pemain asli La Masia.
Sama halnya seperti pelukan yang diberikan Messi kepada Fati setelah laga melawan Betis. Seakan menggambarkan jika sang megabintang telah menemukan penerusnya.

Friday, 4 October 2019

Donyell Malen, Disia-siakan Arsenal, Bersinar di Belanda


Arsenal mungkin satu dari sekian klub Inggris yang rutin menelurkan bakat hebat dari akademinya. Dari Tony Adams hingga Jack Wilshere adalah sederet nama besar yang pernah menimba ilmu di Meadow Park, kandang tim junior Arenal. Sampai akhirnya mereka promosi dan dipercaya membela The Gunners.
Namun, tak sedikit juga pemain akademi yang kesulitan menembus tim utama sehingga memilih meninggalkan kota London. Itu lah yang dialami oleh Donyell Malen.
Direkrut Arsenal saat usianya masih 16 tahun, Malen terpaksa dilego dua tahun berselang karena merasa bakatnya disia-siakan.
Hanya bermodal 500 ribu Euro, PSV datang dan berhasil mendaratkan Donyell Malen ke Philips Stadion pada Agustus 2017. Kini, Malen jadi mesin gol mengerikan di Liga Belanda.

Menggila di Musim Ini

Usianya masih 20 tahun, tapi Malen mampu menunjukkan jika dirinya merupakan salah satu striker paling menjanjikan di Eropa. Musim 2019/2020 jadi ajang pembuktian bakat Malen. Ia memimpin daftar topskor sementara Liga Belanda dengan torehan 8 gol. Ajaibnya, 5 gol ia ciptakan langsung pada laga melawan Vitesse.
Penampilan memukau bersama PSV, membuat pelatih Ronald Koeman memanggilnya ke Timnas Belanda. Tak tanggung-tanggung, Jerman jadi lawan yang dihadapi Malen dalam pertandingan debut.
Duel klasik Jerman vs Belanda selalu menyajikan tensi panas. Bukan hal mudah bagi seorang pemain, terutama pemain yang belum memiliki jam terbang tinggi di kancah internasinal berlaga di laga seperti itu. Namun Malen membuktikan dirinya adalah calon bintang Belanda masa depan.
Masuk sebagai penggati di babak kedua, Malen hanya butuh 19 menit untuk bisa mencetak gol di debutnya. Gol tersebut membuat Belanda unggul 3-2 sebelum Wijnaldum memperbesar skor menjadi 4-2 di menit akhir.

Striker Klasik Belanda

Setelah pensiunnya Robin van Persie, praktis Belanda belum memiliki lagi striker no 9 klasik yang oportunis di dalam kotak penalti. Belakangan nama seperti Luuke De Jong, Bas Dost, sampai Vincent Janssen coba dioptimalkan sebagai penggedor utama di lini depan.
Sayang para striker tadi kurang mumpuni untuk tim sekelas Belanda. Roenald Koeman pun sempat beberapa kali memasang Memphis Depay sebagai false nine. Hasilnya tak terlalu buruk. Dalam 17 laga terakhir Depay mampu membuat 11 gol. Namun tetap saja, posisi Depay sejatinya bukanlah penyerang.
Kini Koeman tak perlu pusing lagi mencari sosok pencetak gol ulung. Berbekal tubuh yang kekar tapi punya akselerasi menggiring bola yang di atas rata, Donyell Malen diprediksi akan jadi pilihan utama Timnas Belanda.
Rasa kangen para penggemar Belanda terhadap striker murni seperti Ruud Van Nistelrooy atau bahkan Marco Van Basten pun akan terobati lewat aksi dan gol dari Donyell Malen kelak.

Friday, 27 September 2019

Ngomongin Demo dari Orang yang Gak Pernah Ikut Demo



Demo yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, bikin gue iri sekaligus nyesel gak pernah ikut demo waktu kuliah. Terutama melihat bagaimana mahasiswa dari berbagai universitas dan kota, bersatu menyuarakan aspirasi masyarakat terkait RUU KUHP yang dianggap banyak cacatnya.

Menonton beberapa cuplikan video demo mahasiswa di Twitter, bikin gue merinding. Sayang aja, di era gue kuliah yang notabene presidennya masih SBY, enggak ada momen-momen yang bikin semua mahasiswa bersatu turun ke jalan.

Sebenarnya momen yang pas untuk mahasiswa demo di depan istana presiden itu, waktu SBY ngerilis album baru.

Yang mana isi albumnya, enggak ada satu pun yang tauuu ckwkckwkzkwhs!




Sejak dulu, mahasiswa kerap disebut sebagai agent of change. Kaum yang menyuarakan perubahan bagi negara. Julukan itu rasanya kurang pas untuk disematkan ke gue semasa kuliah dulu. Alih-alih agen perubahan, gue lebih layak disebut agen galon aqua yang kerjanya datengin kosan-kosan mahasiswa.

Gue selalu rispek sama mahasiswa yang berperan sebagai orator di setiap demo. Berdiri paling depan. Teriak lantang dengan penuh wibawa. Kalau diibaratkan film 300, orator ini cocok meranin tokoh Leonidas yang teriak This Is Spartaaaaa!!!

Peran orator ini bener-bener gak cocok buat orang yang mageran kayak gue. Kecuali agenda demonya sesuai dengan minat gue. Seperti menambah jumlah hari libur dalam satu minggu, sampai mengurangi jumlah jam keja per hari.




Jujur, selama kuliah 4 tahun, gue sama sekali enggak pernah ikut demo. Pernah satu waktu temen gue ngajakin demo.

"Besok jadi ikut demo?" tanya temen gue.

"Demo apa?" sahut gue.

"Enggak tau, ikut aja. Disuruh senior,"

Jiir! kenapa temen gue nurut banget sih!

Gue enggak kebayang nasib temen gue kayak gimana kalau waktu itu senior ngajakin jilatin ban motor Honda Beat.

Hal yang selalu terlintas di pikiran kepala gue ketika mendengar kata demo adalah bakar ban. Gak tau kenapa, demo mahasiswa dan bakar ban itu sangat identik. Masalahnya, kenapa harus ban yang dibakar? Dan yang masih jadi misteri, dari mana mereka dapet bannya?

Mungkin waktu persiapan berangkat demo, terjadi sebuah diskusi serius.

"Lu bawa apa?" tanya senior

"Siap, aku bawa Toa, kak!"

"Kalau lu?"

"Spanduk tulisan DPR Goblok, kak!"

"Lu?"

"Odol buat gas air mata, kak!"

"Bagus! Tapi kayaknya ada yang kurang nih. Hmm, Ban ban! MANA YANG BAWA BAN?"

"A-anuu, kak"

"ANU APA, MANA BANNYA??!!"

"Bannya... eee.. anuu...Itu kaaak"

"Wadoooh, ngapain tuh junior jilatin ban motor honda beat!!!

Jiah ternyata temen gue beneran disuruh jilatin ban sama senior.

Sunday, 15 September 2019

Fenomena Blog yang Dianggurin



Katanya semua hal di dunia ini dicipatakan berpasang-pasangan. Adam dan hawa. Siang dan malam. Gelap dan terang. Senang dan sedih. Gue dan kemageran yang hakiki.

Ya betul sekali kawan-kawan, gue tergolong orang yang super mager buat keluar rumah. Apalagi kalau ke rumah di saat weekend. Secara, seluruh hari weekdays gue dipake buat kerja di luar rumah, masa weekendnya harus juga ke luar rumah sih? 

Bisa bangun siang di hari libur itu nikmatnya luar biasa. Terus siangnya dipake main playstation. Sorenya nonton bola di TV. Malemnya telponan sama pacar. Duh enak banget kan hidup kayak gitu. Tanpa perlu merogoh uang sepeser pun.

Tapi diem aja di rumah juga bikin gue jadi enggak produktif sama sekali. Pengin gitu sekali-kali diem di rumah tapi bisa bantu Presiden Jokowi mengatur neraca keuangan APBN Indonesia tahun 2020.

Bingung mencari kegiatan produktif di saat weekend, akhirnnya gue iseng buka blog lagi. Dan, ternyata gue udah lama juga enggak nulis. Padahal baru bulan lalu perpanjang domain supaya ini web masih punya embel-embel .com nya.

Gue jadi mikir, dulu rasanya kayak bersalah banget kalau seminggu enggak nulis di blog ini. Tapi sekarang, mau buka url-nya aja sungguh mager sekali.

Dan gue rasa, temen-temen blogger yang dulu rajin ngeblog juga perlahan mulai menghilang. Entah karena udah males ngeblog lagi, atau udah nemu platform lain yang lebih seru.

Dulu, hampir setiap hari gue bisa blogwalking. Gak lupa ninggalin jejak komentar sebagai pertanda udah berkunjung dan baca tulisannya.

Terkadang, kalau males baca tulisannya karena panjang banget dan gak menarik, tinggal tulis komentar dengan format [kasih kata pujian + curhat yang berhubungan sama judulnya]. Contoh, ada tulisan judulnya "Kisah Sedih di Malam Minggu". Komentarnya, "Gue setuju banget sama apa yang lu tulis. Soalnya gue juga pernah ngalamin kisah sedih di malam minggu, misalnya kayak waktu itu gue lagi jalan sama pacar terus bla bla bla bla bla bla".

Hahaha.

******

Jadi bingung mau bahas apa nih ditulisannya. Hmm random aja dah ya, bahas apa yang lagi seru di pikiran gue.




Pertama, ada film Gundala. Eh masih nge-hype gak sih? Soalnya filmnya udah tayang sejak Agustus lalu. Gue nonton di minggu pertamanya tayang. Filmnya seru. Visual effect-nya bagus. Jalan ceritanya oke. Endingnya bikin penasaran banget bakal kayak gimana kisah-kisah superhero di Jagat Bumilangit Cinematic Universe.

Kedua, untuk pertama kalinya dalam sejarah gue menamatkan 1 season drama Korea. Ceritanya dimulai ketika pacar gue menyarankan untuk nonton drama Korea berjudul Designated Survivor 60 Days. Diadaptasi dari serial Amerika dengan judul yang sama tapi dengan kearifan lokal Korea. 

Berkisah tentang sesorang yang tiba-tiba diangkat jadi presiden interm dan harus memimpin negara Korea selama 60 hari. Bayangin aja nih, lagi goler-goler di kasur terus ada orang masuk buat nyuruh kita jadi presiden? Nah kayak gitu tuh!

Dramanya seru banget. Banyak intrik yang bikin gregetan. Lain kali gue bikin tulisan khusus buat drama itu deh 

Ketiga, sekarang nama-nama merk kopi malah jadi bikin galau. Misalnya aja Kopi Kenangan, Kangen Kopi, Janji Jiwa, Lain Hati. Gila!

Tapi di tengah fenomena merk-merk kopi yang sendu dan syahdu, tiba-tiba muncul Lucinta Luna dengan merk kopi yang out of the box!



Sunday, 11 August 2019

Three Season Wonder? 5 Catatan Menarik Liverpool VS Norwich



Liverpool membuka tirai Liga Inggris musim 2019/2020 dengan sempurna. Menjamu tim promosi, Norwich City, pada Sabtu (10/8), di Anfield, tim asuhan Jurgen Klopp itu berhasil menang dengan skor telak 4-1.

Liverpool langsung membuka keunggulan di menit ke-7 berkat gol bunuh diri bek Norwich, Grant Hanley. 12 menit berselang, giliran Mo Salah yang mencatatkan namanya di papan skor setelah menerima umpan matang dari Firmino.

Mo Salah kembali memberi andil dalam gol Liverpool. Lewat skema sepakan pojok, umpan Salah berhasil ditanduk oleh Van Dijk dan mengubah skor menjadi 3-0. Gawang Norwich lagi-lagi koyak setelah Divock Origi mencetak gol sundulan berkat assist dari Trent Alexander Arnold. Babak pertama pun ditutup dengan skor 4-0.

Di paruh kedua, Liverpool sedikit mengendurkan serangan. Alhasil, Norwich mampu memperkecil kedudukan di menit ke-64 setelah Teemu Pukki berhasil lolos dari perangkap offside. Skor 4-1 bertahan hingga akhir pertandingan.

Beberapa catatan menarik terjadi dalam kemenangan perdana Liverpool di Liga Inggris tersebut. Berikut 5 hal penting dari laga Liverpool vs Norwich City.

Cedera Alisson


Keberhasilan Liverpool menyegel kemenangan saat menjamu Norwich harus dibayar mahal. Pada menit ke-39, Alisson terhelihat mengerang kesakitan setelah melukan tendangan gawang. Kiper terbaik Liga Inggris 2018/2019 itu pun terpaksa ditarik keluar dan digantikan oleh kiper anyar The Reds, Adrian.

Dilaporkan, Alisson mengalami cedera betis dan diprediski akan menepi selama enam pekan kedepan. Alhasil, ia akan absen dibeberapa laga, termasuk Piala Super Eropa melawan Chelsea, Kamis (15/8) di Istanbul, Turki.

Three Season Wonder



Mohammad Salah menjadi pemain yang mendapat banyak sorotan dalam laga Liverpool vs Norwich. Top skor Liga Inggris musim 2018/2019 itu sempat mendapat banyak kritikan setelah tampil mengecewakan di ajang Community Shield. Striker Mesir tersebut dianggap egois dan membuang banyak peluang.

Namun, Salah mampu membungkam kritikan tersebut lewat satu gol dan satu assist yang ia buat. Gol pertamanya ia cetak di menit ke-19 lewat tendangan plesing ke sudut gawang. Lalu pada menit ke-28, tendangan sepak pojok Mo Salah berhasil dikonversi menjadi gol oleh Virgin Van Dijk.

Satu gol dan satu assist di laga pembuka Liga Inggris ini seakan memberikan isyarat jika Salah masih tetap menjadi striker paling ditakuti. Label One Season Wonder yang pernah disematkan kepadanya sudah sepatunya ditanggalkan.

Namun, mungkin para haters masih akan menyebutnya sebagai Three Season Wonder?

Assist King



Selain memiliki trio lini depan yang mengerikan, salah satu alasan penting mengapa Liverpool tampil digdaya di musim lalu adalah peran para full back yang sangat krusial. Tak cuma berfungsi sebagai bek sayap, dua full back Liverpool juga sangat aktif dalam membantu serangan.

Tak terkecuali dengan musim ini. Andrew Robertson dan Trent Alexander-Arnold masih jadi momok menakutkan bagi lawan. Bahkan Arnold sudah menunjukkan tajinya di laga perdana lawan Norwich.

Pemain berusia 20 tahun tersebut mampu mempersembahkan umpan manis yang berhasil dimanfaatkan oleh Divock Origi menjadi gol ketiga di menit ke-42.

Berkat assist tersebut, Arnold menjadi pemain pertama setelah Mesut Ozi yang bisa mencatatkan lima assist berturut-turut di Liga Inggris.

Origi yang Terus Mencetak Gol



Origi lagi-lagi membuktikan diri sebagai predator berdarah dingin di kotak penalti. Pemain asal Belgia itu, mampu mengemas satu gol dalam kemenangan Liverpool atas Nowrich. Ia juga berjasa atas gol bunuh diri Norwich setelah sepakan kaki kirinya gagal diantisipasi dengan sempurna oleh Grant Hanley.

Gol Origi ke gawang Norwich juga menciptakan sebuah catatan unik yang mungkin akan sulit dilakukan oleh striker manapun. Origi menorehkan rekor sebagai pemain yang selalu bisa mencetak gol setiap hari untuk Liverpol.

Origi mampu membuat gol pada hari Minggu saat The Reds berlaga melawan Wolves di ajang FA Cup. Hari Selasa ia menorehkan gol saat melawan Barcelona di Liga Champions. Southampton jadi klub yang gawangnya dibobol Origi pada hari Rabu. Kamis giliran Dortmund yang jadi korban di Liga Eropa.

Norwich merupakan korban ternanyar gol Origi yang dicetak pada hari Jumat. Hari Sabtu adalah gol bersejarah Origi di final Liga Champions melawan Tottenham. Hari Minggu tentu saja hadir gol paling ikonik bagi Origi yang ia kemas ke gawang Everton.

Masih Rapuhnya Lini Pertahanan



Secara skor Norwich memang kalah telak, tapi jika dilihat dari sisi permainan, Norwich sebenarnya bisa mengimbangi Liverpool, terutama di paruh pertama laga.

Total, anak asuh Daniel Farke itu melakukan 12 percobaan tembakan dengan 5 di antaranya mengarah ke gawang. Beruntung hanya ada satu gol yang diderita oleh The Reds.

Tentu ini menjadi sinyal bahaya untuk pasukan Jurgen Klopp. Beberapa kali pertahanan Liverpool mampu ditembus dengan mudah, khususnya karena jebakan offside yang gagal. Bahkan gol Norwich terjadi karena Robertson gagal melakukan jebakan offside.


Monday, 17 June 2019

Kenapa Masih Main Twitter?

Kalau mainin perasaan kamu, aku enggak tega.


Ceritanya gue lagi nongkrong bareng temen-temen. Sambil nunggu makanan datang, seperti biasa gue ngeluarin handphone terus iseng bukan Twitter. Tiba-tiba, temen samping gue keheranan kayak liat Prabowo nerima kekalahan di pilpres. 

"Lu masih main Twitter?" kata temen gue yang cukup aktif di Instagram.

"Iya, emang kenapa?" bales gue.

"Gila tahun 2019 masih ada yang main Twitter"

Di circle petemanan gue, kayaknya udah jarang banget ada yang main Twitter. Kebanyakan dari mereka lebih banyak update status di Instagram. Termasuk temen nongkrong gue itu.

Sebenarnya, ucapan temen gue cukup wajar. Mengingat sekarang ini pengguna Twitter di Indonesia berbanding jauh dengan Instagram. Dari 150 juta pengguna sosial media di Indonesia, cuma 52% orang yang main Twitter, sedangkan ada 80% yang main Instagram.

Gue pun punya dua sosial media itu. Twitter dan Instagram. Tapi gue lebih banyak update berbagai hal di Twitter. Bukan karena orang-orang di Twitter itu open-minded dan superior, atau jokes-jokesnya yang bikin ngakak guling-guling, rahang gue pegel, masker gue retak, selera humor gue receh. Bukan.

Satu hal simple yang bikin males main Instagram. Ya, Instagram tuh media sosial visual. Dan gue sangat lemah dengan visual.

Mau ngegambar, jelek.

Mau edit-edit foto ala polaroid, enggak bisa.

Mau pamer foto selfie, takut di-report sama temen-temen gue.

Gue juga suka iri sama orang yang bikin feed IG-nya rapi banget kayak shaf sholat Jumat. Kalau upload foto harus pake kotak-kotak, atau pake warna yang senada sama postingan foto sebelumnya. 

Makanya gue sempet bingung sama temen gue yang upload foto cuma kotak putih doang. Ini maksudanya apa sih? Dalemnya ada nasi sama rendang?

Upload foto kotak putih
Selain masalah feed Instagram, gue juga suka baper sama temen-temen yang hobi pamerin anaknya di Instastories. Slide Instastories, foto bayi, slide lagi, foto bayi, slide lagi foto bayi. Rasanya cuma di Instastories pas slide terus muncul iklan malah bikin gue seneng.

Kalau dibiarin begini terus, gue rasa pemerintah udah waktunya membubarkan Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu. Petugas Posyandu gak perlu lagi diem di kelurahan, tapi tinggal buka instastories buat ngeliat tumbuh kembang si bayi. Kalau mau ngasih vitamin, ya tinggal gojekin aja lah gampang.

Pengguna Instagram juga menurut gue adalah orang-orang yang gak pengin diperhatiin tapi mau diperhatiin. Ngerti enggak? Duh gimana ya. Contohnya gini, gue pernah ngeliat temen gue update Instastories cuma warna item doang. 

Gue mikir, dia ini kepencet atau gimana. Setelah gue perhatiin, ternyata dipojokan background item itu ada samar-samar warna kuning dengan tulisan "Dasar cowok egois".

Tuh kan pengin diperhatiin tapi gak mau diperhatiin. Pengin curhat tapi gak mau keliatan curhat.

Beda Instagram, beda juga Twitter. 

Rakyat Twitter selalu ngaku-ngaku paling miskin di dunia. Tapi seumur-umur gue belum pernah liat pemuda Ethiopia ngetwit, "Kemiskinan paling mengenaskan adalah kesendirian dan perasaan tidak dicintai :(( "

Selain merasa miskin, gue juga suka risih sama orang-orang Twitter yang nganggap Twitter lebih dari segala-galanya media sosial. Ngerasa paling keren dari Instagram. Ngerasa paling asyik dari YouTube. Ngerasa paling lucu dari Facebook

Saking oPeN-MinDeD-nya, apa-apa dijadiin Thread.

Pernah ngeliat pocong, jadi thread

Pernah dipalak di lampu merah, jadi thread

Pernah selingkuh, jadi thread.

Gue yakin kalau modal open minded terus jadi hobi bikin thread, Soekarno engak akan jadi bapak proklamator, tapi jadi selebtwit.

Terus Seokarno iseng gombal-gombalin cewek lewat DM. 

"Tangan kamu halus, selain jago menjahit, pasti kamu juga jago menenun tali asmara kisah kasih kita"

Si cewek pun kelepek-kelepek lantas jadi kekasih Soekarno. Kelak kita mengenal cewek yang digombalin itu dengan nama Fatmawati, sosok yang menjahit bendera pusaka Indonesia.

Wednesday, 12 June 2019

Anak-anak Kecil yang Berlarian di Commuter Line



Kenapa ya setiap mau nulis blog paska vakum berbulan-bulan, selalu aja kata-kata yang langsung terlintas di pikiran kepala gue untuk memulai tulisan tuh, "Setelah sekian lama gak ngeblog akhirnya gue ngeblog lagi. Saking lamanya, di pojokan banyak sarang laba-labanya."

Duh basi banget gak sih pembukaan tulisan kayak gitu. Seakan-akan ketika gue gak ngeblog, ada yang nungguin gue nulis lagi. Sampai-sampai gue harus menyampaikan kalau udah lama gak ngeblog. Padahal mah, mau 4 juta tahun enggak ngeblog, gak ada yang nyadar juga deh.

Tapi, beberapa waktu lalu, gue dapet mention dari seseorang di Twitter. Mentionnya gini, "nulis blog lagi bang"



Yampun, gue terharu. Ternyata ada loh orang yang nunggu-nunggu gue nulis blog.

Karena baik, tentu aja akan gue kambulkan permintaan dia supaya gue nulis blog.

BLOG

BLOG

BLOG

BLOG

BLOG

BLOG

BLOG.

*****

Setelah libur lebaran yang singkat banget, saking singkatnya boleh deh kayaknya kata liburan diganti jadi L doang, gue kembali memulai aktivitas seperti biasa. Kerja.

Senin kemarin, jadi hari pertama gue masuk kerja selepas lebaran. Dan seperti hari-hari biasa, untuk menghindari gencet-gencetan di dalem commuter line yang keadaannya udah kayak antri pembagain BLT, gue ngakalin dengan cara berangkat lebih siang. Kira-kira jam 9an sih commuter line udah sepi dari pekerja kantoran.

Sampai di Stasiun Bogor bener aja prediksi gue. Gue jarang nemuin pekerja-pekerja kantoran yang biasanya mendominasi gerbong commuter line.

Tapi ada pemandangan lain yang tak biasa gue jumpai. Banyak banget bocah-bocah berpakaian rapi yang lagi ngantri masuk ke kereta. Berpakaian rapi di sini mungkin karena baju yang mereka pake masih baju baru yang dibeli buat lebaran.

Tapi rapi di sini sangat jauh dengan tingkah laku yang mereka pamerkan. Bocah-bocah ini sangat liar. Mungkin kalau di samping gue waktu itu ada tambang, gue bakal bikin tali laso terus lempar ke salah satu bocah yang enggak mau diem waktu di dalem kereta.

Gue baru sadar, meskipun kantor-kantor udah pada masuk sejak tanggal 10 Juni, tapi ternyata libur sekolah mah tetep lanjut. Pantes aja nih banyak keluarga mau piknik yang bawa anak-anaknya. Pilihan pikniknya kalau enggak Ragunan, Taman mini, Ancol atau Kota Tua.

Sebenernya enggak masalah kalau naik commuter line desek-desekan. Udah biasa juga tiap pulang kerja jadi pepes ikan. Tapi naik commuter line bareng kumpulan bocah-bocah liar tuh beda banget sensasinya.

Ada yang loncat-loncat di tempat duduk.

Ada yang nempelin mukanya di kaca kereta.

Ada yang bengong sambil geleng-geleng kepala. Btw ini gue.




Gue juga sempet kesel, ada juga ternyata yang gelayutan di pegangan kereta. Kesel karena yang gelayutannya ibunya.

"Hadeh, ngapain si ibu teh," kata gue dalam hati sambil ikut gelayutan.

Selain pergerakannya yang sulit ditebak kayak Ronaldinho lagi bawa bola, yang ngeselin lagi dari  penumpang anak kecil khususnya bayi yang masih digendong orang tuanya tuh kalau mereka udah mulai nangis. Suaranya bisa kedengeran sampai masinis....yang lagi di rumah mertuanya.

Untungnya, setiap naik commuter line gue selalu bawa earphone. Selain buat dengerin lagu, memakai earphone juga berguna untuk menghindari suara-suara berisik, kayak tangisan bayi.

Pas ada bayi nangis, gue langsung sigap ngambil earphone di tas, colok ke hp, buka spotify.

Tapi meskipun udah pake earphone, kok gue masih denger suara tangisan anak kecil ya. Ternyata gue buka spotify terus masuk ke playlist daftar tangisan bayi.

Wah gela udah gak masuk akal tuh jokesnya.



Gue perhatiin, kayaknya anak-anak kecil ini baru pertama kali naik kereta atau commuter line. Jadi mereka saakan takjub jika manusia mampu menciptakan mode transportasi masal yang enggak pake kenek.

Rasa penasaran dan ingin tahunya jugalah yang bikin para anak kecil ini jadi terlihat liar. Beda dengan gue yang udah bertahun-tahun. Naik commuter line tuh ya biasa aja gitu. Paling cuma berdiri, dengan pandangan kosong menghadap jendela sambil mikirin 10 tahun lagi jadi apa ya.

Ya emang semua pengalaman yang baru itu bikin kita excited. Sama kayak percintaan. Ketika punya pacar baru, kita merasakan sebuah sensasi luar biasa. Diri kita seakan berubah jadi lebih liar karena ingin tahu banyak dari si pacar. Mulai dari kebiasaannya apa, makanan favoritnya apa, merk lampu di rumahnya apa. Tapi rasa liar itu perlahan mulai memudar seiring berjalannya waktu. 

Dan tentu beberapa tahun lagi, anak-anak kecil yang naik commuter line bareng gue kamarin, akan merasakan naik commuter line pegangan tangan dengan tatapan kosong menghadap jendela sambil mikirin, 10 tahun lagi gue jadi apa ya.