Monday, 7 October 2019

Martin Odegaard, Kembalinya si Anak Ajaib yang Hilang


Dilupakan mungkin sebuah kata yang tak diinginkan oleh siapapun. Tak terkecuali dengan Martin Odegaard.
Di usia 15 tahun, nama Martin Odegaard menjadi buah bibir seluruh pengamat sepak bola dengan label bocah ajaib dari Stromsgodset. Di usia 16 tahun, Real Madrid resmi memboyong pemuda Norwegia itu ke Bernabeu pada Januari 2015 dengan mahar 7,5 juta euro. Empat bulan berselang, Martin Odegaard membuat sejarah sebagai pemain termuda yang bermain untuk Real Madrid sepanjang sejarah.
Namun setelah itu, Sosok Odegaard seolah tenggelam.
Musim 2019/2020, namanya kembali terdengar di Spanyol. Bukan dari klub ibukota Real Madrid, melainkan di penjuru kota San Sebastian. Berbalut jersey putih biru Real Sociedad, Martin Odegaard terlahir kembali sebagai seorang anak ajaib yang telah lama hilang.
Real Sociedad menjamu Alaves di pekan ke-6 Liga Spanyol pada Jumat (27/9/2019) WIB. Menerima operan di lini tengah, Odegaard mengontrol bola secara sempurna sekaligus melakukan nutmeg terhadap pemain Alaves. Sebelum akhirnya ia mengirimkan umpan brilian kepada Mikel Oyarzabal yang diselesaikan menjadi gol.
Publik Anoeta bergemuruh bukan saja karena gol pembuka di laga itu, tapi takjub melihat visi dan kecerdasan yang dipamerkan bocah 20 tahun.

Satu asis dalam kemenangan 3-0 atas Alaves itu, semakin memperpanjang catatan apik Martin Odegaard di musim ini. Sebelumnya, pemain Norwegia tersebut mencetak gol kemenangan 1-0 atas Mallorca pada Agustus, dan menciptakan gol pembuka kemenangan 2-0 atas Atletico Madrid pekan lalu.
Mimpi Semu Real Madrid


Saat Real Madrid membelinya pada Januari 2015 lalu, Odegaard mendeskripsikan sebagai sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Namun, meniliki bagaimana sepak terjang pria kelahiran 17 Desember 1998 selama ini, mimpi itu terlihat semu.
Di usia yang masih 16 tahun, tentu Odegaard bukanlah pilihan utama Real Madrid yang kala itu dihuni bintang-bintang besar seperti Ronaldo, Di Maria, hingga Karim Benzema.
Pelatih Carlo Ancelotti pun menuturkan jika bocah ajaib dari Stromsgodset itu tidak ada dalam rencananya.
“Saat Florentino Perez (Presiden Real Madrid) membeli seorang pemain dari Norwegia, anda hanya harus menerimanya. Selanjutnya, ia memutuskan bahwa Odegaard akan bermain tiga pertandingan dengan tim utama sebagai citra klub terhadap pengemar. Dia bisa menjadi pemain terbaik di dunia, tetapi saya tidak peduli karena dia bukan pemain yang saya minta. Penandatanganan itu berkaitan sebagai citra klub,” ungkap Ancelotti.
Meski sempat menjalani debut bersama Real Madrid di usia 16 tahun 157 hari, Martin Odegaard lebih banyak menghabiskan menit bermainnya bersama Castilla, klub Junior Real Madrid.
Dianggap belum cukup mumpuni untuk menembus tim utama, Januari 2017 Odegaard dipinjamkan ke SC Heerenveen selama 18 bulan. Odegaard tampil buruk di masa awal “sekolahnya” di Belanda. Ia cuma menciptakan sekali shot dan asis dalam 7 pertandingan pertama.
Odegaard mulai mendapat tempat utama di musim 2017/2018. Hasilnya ia menorehkan 4 gol dan 3 asis dari 31 pertandingan bersama Haarenveen.
Musim lalu giliran Vitesse yang jadi pelabuhan Odegaard selama masa peminjaman. Penampilannya di liga Belanda meningkat pesat. 11 gol dan 12 asis dari 39 laga menjadi bukti jika Martin Odegaard sudah semakin matang.

Pembuktian Terakhir


Martin Odegaard harus tetap bersabar untuk bisa berbarju Los Merengues. Real Madrid yang sudah mendatangkan Luka Jovic dan Eden Hazard di musim ini, membuat Odegaard lagi-lagi harus tersingkir.
Real Sociedad jadi klub ketiga Odegaard selama masa pinjaman. Di bawah asuhan pelatih Imanol Alguacil, potensi Odegaard terus meroket. Ia menjadi pemain penting bagi Real Sociedad untuk bertengger di peringkat kelima sementara Liga Spanyol dengan empat kali menang, sekali kalah dan seri.
Melihat trend positif yang dipertunjukkan Odegaard bersama Real Sociedad, menghembuskan kabar jika para penggemar Real Madrid menginginkan sang wonderkid kembali ke Bernabeu.
Namun Real Madrid tak ingin terburu-buru membawa kembali Odegaard. Selain karena kontrak peminjaman Odegaard yang baru berakhir akhir musim ini, Madrid juga ingin pemain Norwegia tersebut mendapatkan jam terbang lebih banyak.
Bagi Martin Odegaard, masa peminjaman di Real Sociedad musim ini mungkin menjadi pembuktian terakhir untuk merealisasikan mimpi semunya menjadi nyata. Yakni menjelma sebagai pemain andalan Real Madrid.

Sunday, 6 October 2019

Erling Braut Haland, Monster Muda dari Skandinavia


Bukan Liverpool yang notabene sang juara bertahan. Bukan pula Ronaldo, yang merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah. Gelaran pembuka Liga Champions 2019/2020 nyatanya adalah panggung mewah bagi debutan muda bernama Erling Braut Haland.
Rabu (18/9/2019) dini hari WIB, menjadi malam paling diingat oleh Erling Braut Haland. Tiga gol dicetak Haland untuk membawa timnya, Red Bull Salzburg, meraih kemenangan telak 6-2 atas tamunya Genk di laga perdana grup E Liga Champions. Menjadi spesial, karena usia Haland baru 19 tahun! Seolah hat-trick dalam laga debutnya di Liga Champions tersebut sebagai penanda lahirnya bakat muda baru di sepak bola.
Dengan usia 19 tahun dan 58 hari, Haland hanya kalah dari Wayne Rooney (18 tahun 340 hari) dan Raul Gonzalez (18 tahun dan 113 hari) sebagai pencetak hat-trick termuda di Liga Champions.
Sebenarnya, ini bukan pertama kali Erling Braut Haland menjadi buah bibir pengamat sepak bola. Pada Juni 2019, pemain bertinggi 191 cm ini menorehkan catatan sensasional. Bersama timnas Norwegia, Haland berhasil mengemas sembilan gol kala bersua dengan Honduras di laga terakhir Grup C Piala Dunia U-20. Bahkan ia nyaris menggenapkan raihan golnya menjadi sepuluh andai sepakannya pada menit terkahir bersarang ke gawang Honduras.

Pembalasan Dendam Sang Ayah

Haland bukanlah nama yang cukup asing di belantika sepak bola. Jauh sebelumnya, sudah ada nama Alf-Inge Haland. Yang notabene merupakan ayah dari Erling Braut Haland.
Haland senior memang tak banyak mencetak gol karena perannya hanya seorang gelandang bertahan. Ia bahkan tak sekalipun meraih gelar juara sepanjang kariernya bersepakbola. Satu hal yang membuat Haland senior tetap menjadi perbincangan adalah perseteruan dengan mantan kapten Manchester United, Roy Keane.
April 2001, Alf-Inge Haland melawat ke Old Trafford sebagai pemain Manchester City. Seperti derbi pada umumnya, duel satu kota ini diprediksi akan panas.
Benar saja, sebuah tekel brutal dilayangkan Roy Keane tepat di lutut kiri Haland sebagai buntut balas dendam. Peristiwa ini membuat Keane diganjar denda dan larangan bermain. Namun bagi Haland, dampaknya jauh lebih besar. Dua tahun berselang, Alf-Inge Haland resmi gantung sepatu di usia yang baru menginjak 31.
Rasa nyeri di kaki kiri Haland senior mungkin sudah hilang, tapi Haland tentu tak bisa menahan rasa sakit hatinya harus pensiun dini dari sepak bola. Dan kemuncul sosok Erling Braut Haland bisa jadi obat manjur bagi sang ayah.

Monster Buas di Dalam Kotak Penalti

Lahir di Leeds, 21 July 2000, mulanya karier sepak bola Haland tidak terlalu spesial. Bersama klub pertamanya, Bryne, Haland tak sekalipun mencetak gol dari 16 pertandingan.
Sempat gagal mengikuti trial bersama Hoffenheim, Haland hijrah ke salah satu klub besar di Norwegia, Molde, pada January 2017. Musim pertamanya, ia mengemas 4 gol dari 20 pertandingan.
Kerja keras Haland perlahan mulai menujukkan hasilnya. Selain masa otot dan tinggi badannya yang berkembang pesat, insting mencetak golnya pun meningkat. 12 gol dari 25 pertandingan ia buat di musim kedua bersama Molde, termasuk 4 gol spektakuler ke gawang pemimpin klasemen Liga Norwegia, Brann.
Sebelum pertandingan tersebut, Brann hanya kebobolan 5 gol dari 14 laga, tapi Haland hanya perlu 20 menit untuk menggelontorkan 4 gol.
Keputusannya bergabung dengan Salzburg pada Januari 2019 membuat orang bertanya-tanya, mengingat ia juga mendapat tawaran dari beberapa klub besar seperti Juventus dan Bayern Leverkusen.
“Salzburg adalah klub yang paling cocok untukku dan merekalah yang paling menginginkanku. Aku juga berpikir untuk melihat seberapa penting peranku untuk tim. Ada lebih banyak peluang bermain di sini,” ujar Haland tentang keputusannya memilih klub asal Austria tersebut.
Langkahnya untuk bergabung dengan klub yang melambungkan nama Sadio Mane dan Naby Keita itu terbukti tepat. Erling Braut Haland sudah mencatatkan 17 gol dari 9 pertandingan yang ia lakoni untuk Salzburg di musim ini.

Mimpi Bermain di Premier League

Sama seperti bakat-bakat muda lainnya, Haland memiliki banyak mimpi sebagai seorang pemain sepak bola. Mimpi pertamanya adalah mengalahkan rekor sang ayah. “Pertama, aku ingin menjadi lebih baik dari ayah. Dia bermain sebanyak 181 kali di Premier League, jadi itu tujuan ku sebagai contohnya: Mencatatkan pertandingan lebih banyak dari ayah,” ujar Haland.
Manchester United terang-terangan tertarik untuk mendatangkan Haland ke Old Trafford. Terlebih faktor Ole Gunnar Solkjaer yang pernah menjadi pelatih Haland di Molde. Sayangnya, hubungan Manchester United dengan keluarga Haland kurang begitu harmonis jika ditilik dari sejarah perseturuan Roy Keane dengan Alf-Inge Haland. Hal itu membuat MU kesulitan mendatangkannya.
Mimpi Haland lainnya adalah bisa mengantarkan klub kota kelahirannya, Leeds United juara Liga Inggris. Sayang, Leeds tidak seperti Leeds yang dibela oleh Haland senior.
Leeds yang dikenal garang di era 90-an, sedang terpuruk dan masih terus berjuang untuk promosi dari Championship Division.
Mengingat mimpi Haland itu terbilang mustahil, tak salah jika klub-klub Liga Inggris lain memiliki peluang besar mendatangkan pemain berambut pirang tersebut.
Namun untuk sekarang, fokus bermain dan memberikan segala yang terbaik bagi Red Bull Salzburg adalah pilihan yang tepat untuk terus meningkatkan kemampuan Haland.
Erling Braut Haland diprediksi menjadi salah satu striker hebat dunia. Bagi sebagian pemain, mencetak hat-trick di Liga Champions adalah suatu prestasi besar, tapi bagi Erling Braut Haland, ini hanyalah sebuah permulaan.

Saturday, 5 October 2019

Ansu Fati, Pembuktian Teranyar Produk La Masia


Di usia 16 tahun 11 bulan 5 hari, sebagian pemuda mungkin sedang menghabiskan waktunya di depan layar komputer memainkan game online, atau mungkin sekadar duduk di kedai kopi ternama sambil bergosip ria. Tapi bagi Ansu Fati, tepat diumur tersebut, ia melangkah yakin di bawah gemerlapnya cahaya stadion Camp Nou.
Sabtu (25/8/2019), mengenakan jersey berwarna merah biru khas Blaugrana, Ansu Fati masuk sebagai pemain peganti pada menit ke-78 menggantikan Carles Perez di laga kontra Real Betis.
Tampil dalam 13 menit terakhir pertandingan, Fati nyaris menorehkan namanya di papan skor. Menggiring bola dari di sisi kanan lini serang Barca, Fati bergerak menusuk ke jantung pertahanan Betis dan melepaskan tendangan mendatar ke tiang jauh. Sayang bola sedikit meleset dari gawang.
Dalam laga yang berakhir 5-2 bagi kemenangan Barcelona itu, Ansu Fati menjadi pemain termuda kedua yang melakukan debutnya untuk Azulgrana. Ia hanya 18 hari lebih tua daripada Vincent Martinez, yang mencatatkan rekor pada tahun 1941.
Walau begitu, Ansu Fati resmi memperkenalkan namanya sebagai salah satu pemain masa depan Barcelona.

Pecahkan Rekor Demi Rekor




Ansu Fati sebenarnya adalah pemain tim Juvenil A (U-19 A) Barcelona. Ia diproyeksikan untuk mengisi skuat Barcelona B di musim ini. Namun, badai cedera yang menghantam skuad utama Barcelona, menjadi berkah tersendiri bagi Fati.
Nama-nama seperti Ousmane Dembele dan kapten Lionel Messi terpaksa harus menepi cukup lama. Tanpa perlu menjalani debutnya di Barcelona B, Fati langsung dipanggil Valverde ke tim senior.
Laga melawan Real Betis di pekan ke-2 Liga Spanyol, seakan hanya menjadi pembuka rentetan rekor yang dibuat Ansu Fati.
Seminggu berselang, bertandang ke Osasuna di pekan ke-3, Barcelona masih belum bisa menurunkan Messi, Dembele, dan Luis Suarez di lini depan. Hasilnya, Barcelona bermain buruk dan tertinggal 1-0 di babak pertama.
Di awal babak kedua, Valverde memasukkan Ansu Fati untuk menggantikan Semedo. Cuma butuh 5 menit bagi pemain kelahiran Guinea-Bisau itu mebobol gawang Osasuna sekaligus menjadikannya pencetak gol termuda bagi Barcelona sepanjang sejarah.
Magis Ansu Fati belum berakhir. Menjamu Valencia di pekan ke-4 Liga Spanyol, Fati tak perlu lagi harus menunggu di bangku cadangan. Ia dipercaya mengisi lini serang Barcelona bersama Carlez Perez dan Antoine Griezmann.
Satu gol dan satu assist ia ukir di laga yang dimenangkan Barca 5-2. Fati sekaligus mengukuhkan diri sebagai pemain termuda yang bisa mencetak gol dan assist dalam satu pertandingan Liga Spanyol.

Menolak Tawaran Real Madrid




Sama seperti pesepakbola Afrika kebanyakan, Ansu Fati tumbuh di lingkungan kumuh negara Guinea-Bisau. Untuk bisa menyalurkan hobi bermain bola, sosok kelahiran 31 Oktober 2002 itu terkadang hanya menendang-nendang gulungan kaus kaki.
Ansu Fati hidup bersama ibunya, Maria. Sang Ayah, Bori, terpaksa meninggalkan Guinea-bisau untuk bisa menghidupi keluarga dengan bekerja di Spanyol Selatan. Bori bekerja serabutan sebelum menjadi supir pribadi Juan Manuel Sanchez Gordilo, walikota Marinelda di Sevilla.
Berkat Gordilo, Bori akhirnya bisa memboyong keluarganya termasuk Fati yang masih berusia enam tahun ke Spanyol. Sang Ayah sempat dibuat takjub oleh skill Ansu Fati mengolah si kulit bundar. Fati akhirnya dikirim ke Peloteros School, yang memiliki tim sepak bola di Herrera, sebuah kota kecil yang berjarak satu jam dari pusat kota Sevilla.
Tak butuh waktu lama bagi Fati mencuri perhatian banyak pemandu bakat, termasuk Pablo Blanco, kepala akademi Sevilla. Tahun 2010, Fati pun resmi bergabung bersama akademi Sevilla.
Di usianya yang belum genap 10 tahun, banyak yang memprediski Ansu Fati akan menjadi seorang pemain hebat di masa depan. Bahkan hanya beberapa pekan bermain di akademi Sevilla, Fati sudah kembali mendapat tawaran dari Real Madrid dan Barcelona.
Orang tua Fati kemudian mengunjungi markas akademi Madrid dan Barcelona untuk memilih tempat yang terbaik bagi sang anak. Seperti yang sama-sama kita ketahui sekarang, orang tua Fati akhirnya lebih memilih Barcelona.
“Real Madrid menawarkan kami lebih banyak uang, tetapi ketika aku pergi ke Valdebebas (markas latihan Madrid), aku melihat bahwa mereka tidak memiliki asrama untuk anak-anak, meskipun mereka menawarkan kami sebuah rumah. Pada akhirnya, kami memilih Barcelona karena mereka memiliki asrama,” ungkap Bori.
Setelah menolak pinangan Madrid, bukan berarti Fati otomatis langsung bergabung dengan Barcelona. Direktur Sevilla, Monchi, masih berharap Fati mau bertahan dengan menawarkan uang lebih banyak dari Barcelona. Namun orang tua Fati tetap bergeming.
Keputusan keluarga Fati membuat Sevilla geram dan menolak memainkan Fati selama tahun 2011.
Ansu Fati akhirnya hijrah ke Barcelona di tahun 2012 sekaligus memulai petualangan baru sebagai produk La Masia.

Pembuktian La Masia




Fati masuk ke tim Alvein A atau U-12 Barcelona. Meski masih berusia 10 tahun, tapi Fati terlihat sangat menonjol di antara rekan-rekannya yang lebih tua. Bersama Takefusa Kubo, Fati menciptakan duet mematikan di tim junior Barcelona. 130 gol mereka cetak selama bermain di Alvein A.
Sayang pada tahun 2014, Barcelona dihukum embargo tranfer oleh FIFA, yang membuat Kubo dan sejumlah pemain impor lainnya angkat kaki dari La Masia.
Fati sendiri tetap bertahan di Barcelona. Sampai hukuman embargo itu berakhir pada tahun 2015, Fati baru bisa kembali terdaftar sebagai pemain Barca.
Di tim Juvenil B (U-18), Fati lagi-lagi membuktikan kualitasnya sebagai pemain paling menonjol di antara teman maupun lawan. Pelatih Jose Mari Bakero kemudian menggeser posisi Fati dari striker menjadi seorang winger dengan tujuan mengasah skill dribble-nya. Di posisi barunya itu, Fati terus berkembang dan bahkan mampu menjadi topskor Liga U-18.
Tak mau kehilangan aset berharganya, Barcelona langsung memagari Fati dengan perpanjangan kontrak hingga 2022 dengan klausul pelepasan 100 juta euro.
Kehadiran Ansu Fati di skuat utama seakan menjadi jawaban atas banyaknya kritik terhadap Barcelona yang mulai jarang mengorbitkan produk akademi sendiri.
Blaugrana lebih mengutamakan membeli sejumlah pemain dengan harga selangit dalam beberapa tahun terakhir. Coutinho, Dembele, hingga Antoine Griezmann adalah contohnya.
Padahal Barcelona dikenal sebagai penghasil pemain-pemain akdemi terbaik. Bahkan di era 2010-an, skuat utama Barcelona hampir semuanya diisi oleh jebolan La Masia.
Victor Valdes, Puyol, Pique, Xavi, Busquets, Iniesta, Pedro, dan Messi adalah tulang punggung Barca saat meraih treble winners di bawah asuhan Pep Guardiola yang juga adalah didikan La Masia.
Paska kepergian Guardiola, terjadi penurunan jumlah pemain La Masia di Barcelona. Pada tahun 2018, Valverde memainkan starting eleven tanpa satu pun pemain didikian La Masia. Hal yang baru terjadi selama 16 tahun terakhir.
Tentu kemunculan Ansu Fati seolah menjadi oase segar bagi para penggemar Barcelona yang rindu terhadap pemain asli La Masia.
Sama halnya seperti pelukan yang diberikan Messi kepada Fati setelah laga melawan Betis. Seakan menggambarkan jika sang megabintang telah menemukan penerusnya.

Friday, 4 October 2019

Donyell Malen, Disia-siakan Arsenal, Bersinar di Belanda


Arsenal mungkin satu dari sekian klub Inggris yang rutin menelurkan bakat hebat dari akademinya. Dari Tony Adams hingga Jack Wilshere adalah sederet nama besar yang pernah menimba ilmu di Meadow Park, kandang tim junior Arenal. Sampai akhirnya mereka promosi dan dipercaya membela The Gunners.
Namun, tak sedikit juga pemain akademi yang kesulitan menembus tim utama sehingga memilih meninggalkan kota London. Itu lah yang dialami oleh Donyell Malen.
Direkrut Arsenal saat usianya masih 16 tahun, Malen terpaksa dilego dua tahun berselang karena merasa bakatnya disia-siakan.
Hanya bermodal 500 ribu Euro, PSV datang dan berhasil mendaratkan Donyell Malen ke Philips Stadion pada Agustus 2017. Kini, Malen jadi mesin gol mengerikan di Liga Belanda.

Menggila di Musim Ini

Usianya masih 20 tahun, tapi Malen mampu menunjukkan jika dirinya merupakan salah satu striker paling menjanjikan di Eropa. Musim 2019/2020 jadi ajang pembuktian bakat Malen. Ia memimpin daftar topskor sementara Liga Belanda dengan torehan 8 gol. Ajaibnya, 5 gol ia ciptakan langsung pada laga melawan Vitesse.
Penampilan memukau bersama PSV, membuat pelatih Ronald Koeman memanggilnya ke Timnas Belanda. Tak tanggung-tanggung, Jerman jadi lawan yang dihadapi Malen dalam pertandingan debut.
Duel klasik Jerman vs Belanda selalu menyajikan tensi panas. Bukan hal mudah bagi seorang pemain, terutama pemain yang belum memiliki jam terbang tinggi di kancah internasinal berlaga di laga seperti itu. Namun Malen membuktikan dirinya adalah calon bintang Belanda masa depan.
Masuk sebagai penggati di babak kedua, Malen hanya butuh 19 menit untuk bisa mencetak gol di debutnya. Gol tersebut membuat Belanda unggul 3-2 sebelum Wijnaldum memperbesar skor menjadi 4-2 di menit akhir.

Striker Klasik Belanda

Setelah pensiunnya Robin van Persie, praktis Belanda belum memiliki lagi striker no 9 klasik yang oportunis di dalam kotak penalti. Belakangan nama seperti Luuke De Jong, Bas Dost, sampai Vincent Janssen coba dioptimalkan sebagai penggedor utama di lini depan.
Sayang para striker tadi kurang mumpuni untuk tim sekelas Belanda. Roenald Koeman pun sempat beberapa kali memasang Memphis Depay sebagai false nine. Hasilnya tak terlalu buruk. Dalam 17 laga terakhir Depay mampu membuat 11 gol. Namun tetap saja, posisi Depay sejatinya bukanlah penyerang.
Kini Koeman tak perlu pusing lagi mencari sosok pencetak gol ulung. Berbekal tubuh yang kekar tapi punya akselerasi menggiring bola yang di atas rata, Donyell Malen diprediksi akan jadi pilihan utama Timnas Belanda.
Rasa kangen para penggemar Belanda terhadap striker murni seperti Ruud Van Nistelrooy atau bahkan Marco Van Basten pun akan terobati lewat aksi dan gol dari Donyell Malen kelak.