Wednesday, 31 March 2021

[Review Buku] The Star and I



The Star and I sebenarnya bukan buku yang masuk wishlist untuk gue baca. Ada dua alasan hingga akhirnya buku ini jatuh ke tangan gue. Pertama, alasan klasik, buku ini lagi dapat diskon yang lumayan. Jadi sayang aja kalau dilewatkan. Kedua, karena nama Ilana Tan sebagai salah satu penulis lokal yang cukup populer.

The Star and I adalah buku ketiga dari trilogi New York. Buku pertamanya berjudul Sunshine Becomes You (2012), lalu diteruskan In A Blue Moon (2015). Buku The Star and I pun jadi buku pertama karya Ilana Tan yang gue baca. Untungnya, nggak ada keterikatan cerita antara ketiga buku tersebut, meskipun disebut sebagai trilogi. 


Jeda lima tahun antara In A Blue Moon dan The Star and I tentu membuat para penggemar Ilana Tan cukup menantikan. Terbukti, di awal tahun ketika pre-order dibuka, buku ini langsung sold out dalam sekejap.


Sayangnya, ekspektasi tinggi dari penantian lima tahun tersebut rasanya tak terbayarkan. Begitu yang gue rasakan setelah selesai membaca buku yang super klise ini.


Premis


Olivia Mitchell adalah seorang aktris teater asal Inggris yang sedang mengambil pekerjaan di New York. Selain bekerja, Ollie--sapaan akrabnya punya tujuan lain di Kota New York. Ia ingin mencari tahu siapa sosok ibu yang telah melahirkannya lalu menelantarkannya di sebuah panti asuhan bernama Madeline West Home fo Children.


Kehadiran Rex Rankin, teman masa kecil Ollie yang sudah terpisah 9 tahun, turut punya andil besar dalam pencarian ibu kandung Ollie.


Sosok Rex Rankin bukanlah pria sembarangan. Ia adalah cinta pertama Olivia Mitchell. Sayangnya, Ollie tak berani secara terang-terangan mengungkapkan isi hatinya kepada Rex.


Pencarian ibu kandung Ollie dan kisah malu-malu kucing antara Ollie dan Rex jadi dua benang merah utama dari buku The Star and I.


Datar Kayak Jalan Tol


Yap, alur buku ini layaknya mengendarai mobil avanza di jalan tol. Datar dan membosankan. Nggak ada sesuatu yang nge-hook atau kejutan-kejutan yang bikin gue tertegun. Misalnya tentang hubungan Rex dan Ollie. Sejak pertemuan kembali mereka berdua, gue sudah bisa menebak bagaimana ujungnya nanti. 


Terus tentang pencarian ibu kandung dari Ollie pun berakhir dengan...yaaa gitu ajaa. Nggak mengagetkan. Meskipun cukup menyakitkan andai itu terjadi di dunia nyata.


Karena ini adalah buku pertama Ilana Tan yang gue baca, jadi entah apakah ini memang gaya Ilana Tan di setiap bukunya atau memang The Star and I bukan jadi karya terbaik Ilana Tan. 


Karakter Cowok yang Too Good to Be True


Memang sih ini cuma cerita fiksi. Tapi sejak membaca dialog-dialog Rax Ranking dari awal cerita sampai akhir, bikin gue malah gak habis pikir. Karakter seperti ini rasanya terlalu hebat untuk jadi nyata. Seolah Rex nggak punya dosa sedikitpun. 


Ditambah dengan pandangan Ollie kepada sosok Rex, yang bikin hubungan Rex dan Ollie sangat cheese.


Kota New York yang Cuma Tempelan


Ilana Tan memang terkenal sebagai penulis yang mengambil latar tempat-tempat indah di luar negeri. Untuk The Star and I, ia memilih New York sebagai lokasi pencarian ibu dari Ollie. Sayangnya, kota New York di buku ini seolah jadi tempelan saja.


Gue cuma menangkap New York di sini hanyalah tempat bertemperatur dingin karena beberapa kali Ollie dan Rex diceritakan memakai baju tebal. Kalau New York di buku ini diganti dengan Puncak, kayaknya nggak akan ada bedanya. Tapi jadi cuma kurang keren aja ya. Itu pendapat gue doang loh yaa.


Sayang, karya pertama Ilana Tan yang gue baca gagal memikat. Mungkin buku ini sangat bagus kalau dibaca pas gue berubah jadi anak cewek baru masuk SMP.


5/10 Untuk Buku The Star and I Karangan Ilana Tan

Data Buku

Judul          : The Star and I

Pengarang  : Ilana Tan

Penerbit      : Gramedia Widiasarana Indonesia

Tahun Terbit : 2001

Halaman     : 344 Halaman

ISBN 13     : 9786020649665

Friday, 19 March 2021

[Review Buku] Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Suatu sore di tahun 2019, gue iseng mampir ke toko buku Gramedia yang letaknya di depan masjid raya Kota Bogor. Gue nggak punya tujuan pasti mau beli buku apa. Cuma pengen mampir aja sambil melihat-lihat siapa tau ada buku diskonan.

Baru beberapa langkah masuk, gue langsung disuguhkan sebuah buku yang sangat eye catching sekali. Bagaimana nggak, buku ini punya cover berwarna oren kayak baju The Jack Mania.

Belum lagi judul bukunya ditulis dengan font super mencolok dan terkesan nyeleneh abis.

Sebuah Seni

Untuk Bersikap

Bodo Amat.

Eh eh buku apa nih????

Sepengetahuan gue, seni itu seperti seni lukis, seni musik, seni sastra, seni teater, dan macam-macam. Tapi kok ini ada sih seni bersikap bodo amat?

Dilanda rasa penasaran, akhirnya gue memutuskan membeli buku ini dengan harga 67 ribu. Kebetulan nggak ada diskon waktu itu huhu.

Buku Self-Improvement dengan Gaya Radikal.

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat adalah buku karya Mark Manson yang terbit pertama kali tanggal 13 September 2016. Buku yang versi Inggrisnya berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck ini kemudian terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di bawah naungan Gramedia Widiasarana Indonesia tahun 2018.

Baik dalam edisi Inggris maupun Indonesia, buku ini memang punya judul yang cukup nyeleneh. Terutama versi Indonesia yang malah gue anggap cukup radikal dengan menyebut seni bodo amat.

Penyampaian pesan yang radikal ini langsung terbukti di bab pertama yang gue baca. Pasalnya bab tersebut diberi judul…...Jangan Berusaha. Apa-apaan nih Mark?? 

Bab-bab selanjutnya pun nggak kalah nyeleneh. Misalnya, Kebahagiaan Itu Masalah, Anda Tidak Istimewa, Kegagalan Adalah Jalan Untuk Maju.

Untugnya, gue nggak seperti kebanyakan netizen pada umumnya yang cuma menelan mentah-mentah sesuatu setelah membaca judulnya saja. Setelah membaca sampai selesai dari setiap bab di buku ini, gue mengerti kenapa Mark Manson memilih menyampaikan teori-teorinya lewat penjelasan yang cukup nyeleneh.

Memilih Apa yang Penting Untuk Kita Pedulikan

Sebuah seni untuk bersikap bodo amat tak serta merta menyuruhmu tak acuh terhadap setiap hal yang ada. Sebaliknya, lewat buku ini Mark Manson berusaha memberi pengertian bagaimana kita, perlu memilih hal-hal yang dirasa penting untuk dipedulikan.

Ketika seseorang tidak memiliki masalah, pikiran secara otomatis akan menemukan cara untuk menciptakan suatu masalah. Menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam hidup kamu, mungkin jadi cara paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga. Karena jika kamu tidak menemukan sesuatu yang berarti, perhatian kamu akan terus tercurah ke hal-hal tak penting.

Pernyataan Mark benar adanya jika gue melihat kondisi di dunia maya sekarang. Bukan mau menyalahkan, tapi secara umum selalu aja ada hal-hal gak penting yang viral terus dibahas banyak orang. Hampir setiap hari selalu ada kasus seperti itu. 

Kalau mau mengambil teori dari Mark Manson di buku ini, berarti mereka-mereka ini (termasuk gue) belum menemukan sesuatu yang sangat penting di hidupnya sehingga perhatian ke hal-hal nggak pentingnya tercurah ke sana.

Makanya gue gak pernah menemukan kisah di mana Anthoni Salim (orang terkaya ke-4 di Indonesia yang punya salim group) ngeributin masalah lagunya Aldi Taher. Karena apa? Karena nggak penting dan dia bodo amat dengan masalah seperti itu. Banyak hal penting lain yang mau dipedulikan oleh Anthoni Salim.

Cerita Analogi Memudahkan Pesan yang Disampaikan

Buku ini banyak memberikan analogi atau kisah-kisah yang pernah terjadi untuk menyampaikan inti dari pesan yang sedang dibicarakan. 

Salah satu kisah paling menarik menurut gue adalah cerita tentang Problem Bintang Rock. Tahun 1983, seorang gitaris muda bertalenta dikeluarkan dari bandnya dengan cara paling buruk. Disebut buruk karena sang gitaris dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum debut rekaman band tersebut.

Diselimuti dendam yang membara, sang gitaris lalu membentuk bandnya sendiri. Merekrut pemusik yang jauh lebih baik dari teman-teman bandnya dulu. Bak dirasuki setan musik, ia berikrar bahwa band barunya ini akan sangat sukses dan band lamanya akan menyesali keputusan mereka selama ini.

Setelah beberapa tahun, band barunya berhasil menandatangani kesepakatan rekaman mereka sendiri, dan setahun setelah itu, rekaman pertama mereka diluncurkan ke pasaran.

Nama sang gitaris adalah Dave Mustaine, dan band baru yang dibentuknya adalah Megadeth. Bagi penggemar musik thrash metal, Megadeth adalah band legendaris dengan penjualan album mencapai lebih 25 juta copi, dan menggelar banyak tur. Dave Mustaine pun dianggap sebagai musisi paling brilian dan berpengaruh dalam sejarah heavy-metal.

Sayangnya, band yang mendepak bokong Dave Mustaine beberapa hari sebelum debut rekaman adalah Metallica, yang telah menjual lebih dari 180 juta album di seluruh dunia. Metallica adalah band rock terbesar sepanjang sejarah.

Kisah lain yang nyaris mirip terjadi tahun 1962. Sebuah band beranggotakan empat orang baru saja memecat sang drummer tiga hari sebelum rekaman pertama mereka dimulai karena dianggap terlalu tampan. Namanya adalah Pete Best. Posisinya di band tersebut lalu digantikan oleh Ringgo Star. Kamu pun sudah bisa menebak band apa yang dimaksud.

Enam bulan setelah peristiwa itu, demam The Beatles meledak di seluruh dunia. Di saat John dan kawan-kawan bermandikan popularitas, nama Pete Best seolah tak pernah ada dalam sejarah.

Meskipun lebih terpuruk dari rekan-rekannya, Best tak terlalu menyesali apa yang telah terjadi. Bahkan dalam sebuah wawancara tahun 1994, Best mengatakan “Saya lebih bahagia sekarang, dibanding jika saya masih bertahan di Beatles”.

Dave Mustain yang merupakan seorang rockstar mengukur kebahagiaan dengan kesuksesan yang diraih oleh Metallica. Ketika diwawancara tahun 2003, Mustaine berlinang air mata mengakui kalau dia masih saja menganggap dirinya sebagai sebuah kegagalan. Di luar semua pencapaiannya yang mengagumkan, dalam benaknya akan selalu terngiang kalau dia cuma orang buangan Metallica.

Lewat kisah tersebut, Mark Manson mencoba menyampaikan pesan jika kita mengukur diri kita dengan ukuran yang berbeda. Kehidupan Pete Best jauh lebih tentram dibanding kehidupan Dave Mustaine karena mereka mengukur kesuksesannya dengan cara berbeda. Toh, kesuksesan hanyalah fatamorgana. Kunci tentang kehidupan yang lebih baik bukan memedulikan lebih banyak hal, tapi peduli hal-hal sederhana yang dirasa mendesak dan penting.

Selain kisah di atas, masih banyak lagi cerita-certia atau analogi menarik yang dibuat oleh Mark Manson di dalam buku ini.

Apa Sih Arti Bahagia?

Pertanyaan seputar kebahagian mungkin jadi salah satu pertanyaan dengan jawaban sejuta makna. Setiap orang memiliki versi kebahagiaannya masing-masing. Dalam buku ini, Mark Manson menyebut jika kebahagian berasal dari memecahkan masalah. 

Masalah adalah konstanta dikehidupan kita. Masalah tidak pernah berhenti, akan datang silih berganti. Kuncinya ada pada memecahkan masalah dan bukan menghindarinya. Ketika kita mampu memecahkan sebuah masalah, di sana lah kebahagian akan muncul. Karena kebahagiaan adalah akibat bukan sebab. 

Jadi, jangan tanya kepada seseorang tentang apa yang kamu inginkan? Tapi rasa sakit dan risiko apa yang ingin kamu lalui?

7,5/10 Untuk Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Karangan Mark Manson

Data Buku

Judul          : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Pengarang  : Mark Manson


Penerbit      : Gramedia Widiasarana Indonesia


Cetakan      : XVIII/Januari 2019


Halaman     : 246 Halaman


ISBN 13     : 978-602-452-698-6


Baca Juga >> [Review Buku] RE:, Kisah Pelacur Dalam Jeratan Bisnis Esek-Esek


Wednesday, 17 March 2021

Perkara Beli Ikan Cupang



Nah kan kebiasaan banget, baru nulis lagi tiba-tiba udah ganti tahun aja. Barusan gue mengecek jumlah postingan di tahun 2020 kemarin, ternyata gue lumayan sangat produktif juga. 

Setelah dihitung sekitar 25 menit pakai kalkulator casio, ternyata tulisan gue tahun lalu jumlahnya ada 3 biji!!!! IYA TIGA!! Bener-bener produktif! Uang beli domain yang gue keluarkan mungkin akan terkekeh-kekeh melihat fakta ini.


Gue masih inget banget dulu waktu pengin perpanjang domain blog. Ada pergolakan jiwa yang sengit, antara uangnya dibelin sepatu bola baru atau perpanjang domain. 


Tentu di tengah pandemi seperti sekarang, aktivitas gue akan banyak dihabiskan di rumah, otomatis gue jadi punya banyak waktu. Itulah sekelumit pikiran optimis gue yang akhirnya membuat gue memutuskan perpanjang domain blog dengan niat ingin rajin nulis.


Hasilnya? Tulisan cuma 3 biji, main bola sambil nyeker! 


Sedih!


Akibat pandemi yang mengharuskan orang-orang buat diem di rumah, bikin gue cukup bingung menghabiskan waktu di kamar. 


Masalahnya, pandemi ini sudah berlangsung sekitar 10 bulan lebih dan gue mulai kehabisan dan bosen melakukan aktivitas yang itu-itu aja. Palingan di kamar cuma main hp, main PS, nonton film, baca buku, tidur. Udah. Enggak ada yang berguna memang. Jokowi seakan buang-buang energi di depan TV kalau lagi ngomong Kerja Kerja Kerja.


Sampai akhirnya gue mikir, kayaknya serunya juga kalau memelihara sesuatu. Ada beberapa opsi binatang yang terlintas di pikiran gue.


Pertama, memelihara kucing. Hmm terlalu mainstream


Kedua, memelihara burung. Hmm terlalu bapak-bapak


Ketiga, memelihara anjing. Hmm terlalu kasar


Gue pengen miara sesuatu yang menantang, anti-mainstream, dan sulit untuk dijaga. Gue pun lalu memutuskan untuk memelihara persatuan dan kesatuan di Indonesia. Gokil!


Gue coba browsing di Google maupun Youtube untuk mencari binatang yang tepat untuk dipelihara. Dari salah satu artikel yang dibaca, gue tiba-tiba kepikiran untuk memelihara anaconda. Sebagai salah satu jenis ular paling sangar di muka bumi, gue akan terlihat macho sekali ketika memelihara hewan tersebut. Gue pun gak sabar menjawab pertanyaan kalau ada temen gue nanya aktivitas gue ngapain aja selama pandemi.


"Ya gini-gini aja lah bro, pagi kerja, siang main game, sore mandiin anaconda,"


Ngeriiiii!!1!1!!


Sayang niat memelihara anaconda gue urungkan. Bukan karena anaconda adalah binatang buas yang lumayan membahayakan, tapi karena yang gue tahu anaconda ini makannya daging. Ini yang jadi problematika di mana gue makan daging aja nunggu idul adha dulu.



Gue cari lagi binatang lain yang cocok untuk dipelihara. Dan pilihan terakhir jatuh kepada ikan cupang. Oke sedikit gue jelaskan kenapa ikan cupang adalah bintang paling pas untuk dipelihara.

1. Memelihara ikan cupang nggak ribet.


Yes, ini yang jadi faktor utama kenapa gue milih ikan cupang. Dengan berbekal air kamar mandi dan aquarium mini, sudah cukup jadi wadah ikan cupang untuk hidup. Untuk makannya pun tergolong ekonomis. Cuma dikasih cacing sutra atau kutu air, ikan cupang sudah bisa hidup sejahtera kayak kehidupan orang di Pondok Indah.


2. Ikang cupang itu cantik


Sebentar, sebelum ngejudge terlalu jauh, gue bisa jelaskan. Gue masih normal. Masih suka cewek. Gue sebut cupang itu cantik, semata karena enak dipandang sebab punya warna yang indah. Jadi jangan pernah ngebayangin kalau gue malam mingguannya pergi ke kolam pemancingan ikan.


3. Eek-nya enggak sembarangan


Sembarangan di sini artinya adalah si binatang peliharaan eek pada tempatnya. Sebagai bangsa ikan, gak ada kemungkinan si cupang bakal eek sembarangan karena kehidupan dia ya cuma di akuarium aja. 


Enggak pernah ada kasus, miara ikan cupangnya di akuarium, tapi eeknya di aqua galon. Membersihkan eeknya pun gampang. Tinggal diganti airnya seminggu sekali dengan yang baru. Kelar urusan.


Beda halnya dengan binatang peliharaan lain seperti kucing atau anjing. Oke deh kalau kucing atau anjing yang pinter sih udah ngerti mau eek di mana, tapi nggak berlaku kalau anjing atau kucing ini baru kita pelihara yang mana belum nurut-nurut banget.


Soalnya dulu gue pernah memelihara kucing baru di rumah, dan kelakuannya nggak berperikucingan. Manjat-manjat lemari, tidur di atas kulkas, nyakarin kaki gue. Puncaknya ketika dia tau-tau eek di bawah meja makan. Gue otomatis kesel.


"DASAR KUCING ANJIIING!!!," Saking emosinya gue merasa punya kekuatan untuk mengubah wujud seekor binatang.


Hari Sabtu jam 10 pagi, gue udah manasin motor buat siap-siap berangkat ke toko cupang. Namanya Terang Aquarium Shop. Katanya adalah toko ikan hias terbesar di Bogor. Tersiar kabar, ikan-ikan di sana juga tergolong murah. Ini yang memantapkan niat gue buat milih tempat tersebut.




Sesampainya di Terang Aquarium Shop, apa yang gue bayangkan tentang toko ikan terbesar di Bogor terbayarkan. Memang bener, di sana isinya ikan semua. Tengok kanan ikan, tengok kiri ikan. Gue rasa cuma putri duyung aja yang belum ada di sini.


Gue langsung masuk ke bagian penjualan ikan cupang. Sebagai mas-mas newbie di dunia percupangan, gue baru tau kalau sekarang ini makin banyak jenis ikan cupang. Mulai dari Nemo, Avatar, Plakat. Malah cupang nemo bisa dibagi lagi jadi galaxy, cooper, leopard, multicolor, koi, dan macem-macem lagi.


Waktu SD dulu, yang gue tau cuma ada dua jenis cupang. Cupang bisa diadu sama nggak bisa diadu. Belakangan gue tau, kalau cupang yang gak bisa adu tuh cupang cewek. Mungkin cupang cewek kalau disatuin sama cupang cewek lain nggak ngadu, tapi lebih ke ngegosip.


Dulu tujuan gue beli cupang memang bukan buat hiasan, tapi diaduin sama cupang milik temen gue. Ya, bagi gue beli cupang setara sama beli beyblade.  


Selepas pulang sekolah adalah waktu yang gue luangkan buat adu ikan cupang. Cupang gue dan cupang temen gue disatuin dalam satu toples kecil. Gak perlu waktu lama, sampai cupangnya mulai ngedok satu sama lain. Refleks gue menyemangati si cupang supaya jangan kalah. Ya meskipun gue sadar cupang nggak punya kuping. 


Baru 3 menit diadu, cupang gue babak belur disikat lawannya. Seolah teriakan semangat gue gak berarti apa-apa. 


Rutinitas adu cupang tiap pulang sekolah ini akhirnya nggak pernah gue lakuin lagi. Bukan karena kasihan sama cupangnya, tapi gue dinasehati kalau adu-aduin ikang cupang itu perbuatan dosa. Gue nggak mau nanti pas mati malah masuk neraka jalur adu ikan cupang.


Setelah melihat-lihat sekitar 20 menit, akhirnya gue memilih satu ikan cupang berwarna campuran biru, hitam, merah berjenis halfmoon untuk dibeli. Alasannya pemilihan tersebut bukan karena cupangnya bagus atau jenisnya lagi populer, tapi harganya nggak bikin dompet gue teriak-teriak di akhir bulan.


Tentu aja cupang yang gue beli ini bukan lagi dijadiin aduan kayak zaman SD dulu. Cupang ini gue pelihara di sebuah akuarium solitaire yang gue pajang di samping tempat kerja selama WFH. Ketika gue lagi suntuk kerja, biasanya gue bakal mengalihkan perhatian ke kemolekan warna dan badan si cupang.


Jadi mau (di)cupang lagi.


Sunday, 14 March 2021

[Review Buku] RE:, Kisah Pelacur dalam Jeratan Bisnis Esek-esek



Gue dua kali ketipu karena buku ini. Sebelum itu, gue jelaskan sedikit bagaimana proses si buku bisa sampai ke rumah. Bulan Februari kemarin, akun Gramedia di Tokopedia lagi ngadain flash sale harga 10 ribu. Wah lumayan banget kan bisa dapat buku dengan harga 10 ribu.

Sepengalaman gue, kalau mau ikut flash sale yang penting cepet-cepetan check out tanpa baca detail produknya. Itu lah yang gue lakukan ketika flash sale gramedia nawarin novel RE: dengan harga 10 ribu rupiah aja. Tanpa nyari tahu isi bukunya tentang apa, gue langsung bayar dan nunggu dikirim.

Pas sampe rumah, gue ketipu ternyata buku ini 18+ a.k.a pasti banyak pembahasan mirip buku-buku stensilan. Gak bakal aman nih kalau gue simpen buku ini di lemari sebelah sama bukunya Tuhan Ada di Hatimu karya Ustaz Habib Jafar.

Setelah selesai membaca buku ini, gue kena tipu yang kedua kali. Awalnya, gue menganggap buku ini ya biasa aja, tapi ternyata ceritanya bagus huhu ketipu positif sih ini namanya.


RE: adalah novel karangan Maman Suherman. Gue cuma tahu Maman Suherman sebagai panelis di beberapa acara tema politik di TV. Namun lewat buku ini, gue jadi tahu kalau dia memulai karier sebagai jurnalis lulusan jurusan Ilmu Kriminologi Universitas Indonesia.


Premis


Rere atau disebut juga sebagai Re: adalah seorang pelacur lesbian. Dalam menjalankan profesinya, Re: dan para pelacur lainnya dipimpin oleh germo bernama Mami Lani. Menjadi pelacur tentu bukan pilihan bagi Re:. Namun akibat himpitan ekonomi yang membuatnya terjebak dalam dunia hitam, dan terbelenggu oleh kekangan Mami Lani.


Sedangkan Herman adalah jurnalis sekaligus mahasiswa tingkat akhir jurusan Kriminologi yang sedang menyelesaikan proses akhir skripsi. Ia mengambil topik tentang dunia malam, terutama kehidupan para pelacur di Jakarta. 


Inilah irisan yang membuat Herman akhirnya berteman dekat dengan Re: dan menjadikannya subjek skripsi. Semua kisah di novel ini, diambil dari sudut pandang karakter Herman.


Tak Ada yang Ingin Menjadi Pelacur


Menjadi pelacur tentu tak akan pernah ada di benak setiap anak kecil yang ditanya apa cita-citanya saat besar nanti. Stigma negatif pun langsung tertuju kepada orang-orang yang berprofesi sebagai pelacur. 


Padahal, rasanya tidak ada orang yang dengan sadar ingin menjadi pelacur. Itu lah yang dialami oleh Re:. Ia memiliki kakek dan nenek yang dikarunia anak tunggal, yaitu ibu Re:. 


Berasal dari keluarga ningrat, kakek Re: diceritakan sebagai petualang cinta. Ia memiliki banyak simpanan, selain istri sahnya:. Keadaan mulai runyam ketika diketahui ibu Re: hamil tanpa tahu siapa ayahnya. Karena desakan kakek Re: meskipun ditentang oleh neneknya, akhirnya ibu Re: memilih melahirkan Re: ketimbang melakukan aborsi.


Kakek Re: wafat ketika Re: masih balita. Hubungan ibu Re: dan neneknya makin tidak akur, apalagi dengan kehadiran Re: yang disebut anak haram.


Cobaan kembali datang, ibu Re: terserang tifus. Meski sempat dirawat di rumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Re: harus ikhlas merelakan kepergian orang yang paling ia cintai, dan hidup berdua bersama nenek yang membencinya.


Re: tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Saat SMP, ia menjalin hubungan terlarang dengan guru les matematika. Memasuki SMA, ia juga terlibat cinta monyet dengan temannya. Bersama kedua orang itu, Re: terjerumus hingga akhirnya hamil. Re: tidak tahu siapa di antara dua orang itu yang bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya.


Merasa kehamilannya sudah tak bisa ditutup-tutupi dari neneknya, Re: memutuskan pergi dari rumahnya di Bandung dan kabur ke Jakarta. 


Kehidupan Re: yang tidak jelas di Jakarta karena tanpa mengenal siapa-siapa, Re: merasa beruntung diselamatkan oleh sosok malaikat yang bernama Mami Lani. Mami Lani tak segan memberikan tempat tinggal dan membantu proses kelahiran Re:.


Namun siapa sangka jika niat baik Mami Lani hanyalah kedok. Re: yang merasa mentalnya sudah kembali serta anaknya lahir dengan selamat, dipaksa membayar setiap uang yang dikeluarkan Mami Lani untuknya. Mami Lani mempekerjakan Re: sebagai seorang pelacur lesbian untuk membayar utang-utangnya.


Setelah selesai baca buku ini, pandangan gue terhadap PSK atau pelacur sedikit berubah. Ketika melihat pelacur yang tadinya penasaran bagaimana bookingnya, jadi mikir bagaimana proses mereka hingga terpaksa menjalani profesi pelacur.


Nyawa Seolah Tak Ada Harganya


Menurut gue, buku RE: menitikberatkan tentang bagaimana kerasnya menjadi seorang pelacur. Apalagi germo yang jadi pemimpin para pelacur, seolah tak mengenal apa itu Hak Asasi Manusia. 


Hal ini tergambarkan lewat karakter Mami Lani yang bengis. Baginya, para pelacur yang ia pegang hanyalah alat-alat pencetak uang. Jika alatnya rusak, tinggal buang dan ganti yang baru.


Bak seekor laba-laba biadab, Mami Lani terus menjerat para pelacur agar tidak kabur dari bisnis yang ia jalankan. Terutama kepada pelacur yang masih tergolong cantik dan menghasilkan banyak uang.


Di BAB pertama novel ini, Sinta jadi bukti kebengisan Mami Lani. Sinta meninggal akibat tertabrak mobil yang melaju kencang. Kabar yang beredar, itu bukan kecelakaan biasa. Mami Lani mungkin jadi dalang tabrak lari tersebut karena mengetahui Sinta ingin kabur dari cengkramannya.


Sinta hanyalah salah satu korban yang nyawanya hilang seolah tak berharga akibat coba memberontak.


Mereka Juga Manusia


“Dosakah yang dia kerjakan. Sucikah mereka yang datang. Kadang dia tersenyum dalam tangis. Kadang dia menangis di dalam senyuman”. Itu merupakan lirik lagu berjudul Kupu-kupu Malam karangan Titiek Puspa. Ketika pertama kali terjun sebagai jurnalis spesialis kehidupan pelacur, Titiek Puspa adalah sosok yang sempat diwawancarai oleh Herman.


Lagu tersebut menegaskan jika seorang pelacur pun adalah manusia biasa. Ia bisa menangis, ia punya rasa cinta, bahkan ia juga tak lupa mengingat sang pencipta. 


Pada Bab 8, ketika Re: akan menjalani rutinitasnya sebagai wanita panggilan, ia tak segan untuk berdoa dan meminta keselamatan kepada Tuhan. Seperti halnya penggalan lirik lagu Kupu-kupu Malam, “Yang dia tahu tuhan penyayang umatnya”.


Sisi manusiawi Re: juga bisa terlihat dari caranya mencintai putri satu-satunya bernama Melur. Meskipun anaknya sudah diadopsi oleh orang lain, Re: selalu menyempatkan memberi hadiah untuk Melur. Bahkan satu-satunya motivasinya mencari uang sebagai pelacur hanya untuk kebahagiaan Melur.


Serba-serbi Dunia Pelacuran


Buku ini memang mengambil latar tahun 1989, tapi rasanya untuk beberapa cerita di dunia pelacuran masih relevan sampai sekarang. Misalnya saja profesi pelacur yang bisa diklasifikasikan ke beberapa bagian. Bukan cuma yang heteroseksual atau homoseksual saja. Pasalnya, seksualitas manusia amat beragam dan bisa digolongkan dalam tujuh gradasi:


0 = Heteroseksual eksklusif

1 = Heteroseksual predominan (lebih menonjol), homoseksual hanya sekali-kali

2 = Heteroseksual predominan, homoseksual lebih dari sekali-sekali

3 = Heteroseksual dan homoseksual sama banyaknya

4 = Homoseksual predominan, heteroseksual lebih dari sekali-sekali

5 = Homoseksual predominan, heteroseksualnya sekali-sekali

6 = Homoseksual eksklusif.


Profesi pelacur pun bisa dibagi lagi menjadi amatir dan profesional. Amatir berarti profesi pelacur hanyalah sampingan. Beda halnya dengan profesional yang menjadikan profesi pelacur sebagai pekerjaan utama.


Profesi pelacur juga dibedakan cara kerjanya. Ada yang bekerja secara individu, di mana ia mencari sendiri kliennya. Atau ada juga yang bekerja di bawah pimpinan germo.


Kongkalikong antara pelacur dan aparat bukan hal aneh. Di bab 5 diceritakan jika adanya simbiosis mutualisme dalam industri esek-esek ini. Mulai dari penyedia kamar, penjual kondom, penjaga keamanan, pelacur, pelanggan, bahkan office boy yang merapikan tempat tidur pun kecipratan uang di bisnis ini.


Belanda memandang bisnis esek-esek sangat berpotensi dan mengelolanya secara serius. Ada namanya “Program pelacur mandiri”, agar PSK bekerja secara mandiri atau tanpa setor ke mucikari dan mereka juga mendapat kredit dari bank untuk usahanya.


Selain bisnisnya, buku ini juga banyak memperkenalkan istilah-istilah yang digunakan oleh para pelaku PSK, misalnya sentul, kantil, lines, suami-suamian, ayang-ayang. Bahkan beberapa perilaku seks menyimpang pun diceritakan di sini.


Keterikatan Antara RE: dan Herman


Maman Suherman menyampaikan keseluruhan buku ini dengan apik. Gue jadi banyak tahu bagaimana dunia esek-esek yang sebenarnya. Mungkin satu kekurangan dari buku ini, gue tidak terlalu menangkap keterikatan antara RE: dan Herman. Pertemuan keduanya pun terjadi begitu saja. Tanpa alasan yang kuat mengapa Herman memilih RE: sebagai objek penelitiannya, padahal banyak PSK-PSK lain yang bisa ia pilih dengan mudah.


8/10 untuk buku RE: karangan Maman Suherman


Data Buku

Judul          : Re:

Pengarang  : Maman Suherman

Penerbit      : Pop (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia)

Cetakan      : I, April 2014

Tebal          : vi + 160 halaman

Kategori     : Dewasa (19 tahun ke atas)

ISBN 13     : 978-979-91-0702-2

Baca Juga >> Rekomendasi 13 Tempat Membeli Buku Online Yang Aman Dan Sering Promo



Saturday, 13 March 2021

13 Tempat Beli Buku Online yang Sering Promo



Peralihan perilaku konsumen di era sekarang, membuat banyak orang memilih untuk membeli buku secara online alih-alih harus datang ke toko buku yang memerlukan ongkos dan tenaga.

Apalagi sejak pandemi corona yang berlangsung sejak tahun lalu, benar-benar membatasi aktivitas manusia. Tak terkecuali dengan gue sendiri. Setiap mau keluar rumah, seakan gue bakal terjun ke medan perang dunia kedua, yang kalau nggak hati-hati bisa mati kena peluru virus corona.


Ya meskipun sebelum corona pun gue memang mager buat keluar rumah, tapi corona menjadikan validasi kalau gak penting-penting amat, mending gak usah ke mana-mana.


Begitu pun ketika gue ingin membeli buku. Jika biasanya tinggal manasin motor terus gas ke toko buku, sekarang kalau pengen buku baru, tinggal buka browser dan cari deh buku-buku yang pengen dibeli.


Kita pun nggak perlu bingung mencari di mana membeli buku online yang aman yang terpercaya. Bak jamur di musim hujan, bermunculan banyak toko buku online. Belum lagi, toko-toko buku besar yang berdiri offline, kini perlahan mengarahkan bisnisnya ke mode online. Ini mungkin jadi adaptasi mereka supaya tak ketinggalan di era serba digital.


Nah, kalau kamu masih bingung nih di mana membeli buku online yang aman dan terpercaya, silakan mampir ke beberapa toko buku online berikut ini:


1. Gramedia.com





Buku dan Gramedia seolah menjadi dua kata yang tak bisa terpisahkan. Sejak zaman baheula, Gramedia jadi tempat paling populer untuk membeli berbagai macam buku. 


Sebagai salah satu toko buku terbesar di Indonesia, Gramedia tak ketinggalan terjun ke pasar buku online. Maka dari itu, lahirlah website gramedia.com, tempat membeli buku online yang aman dan terpercaya.


UI/UX dari gramedia.com pun sangat memanjakan mata. Kamu bisa dengan mudah mencari buku yang diinginkan. Bisa juga mem-filter buku-buku tersebut mulai dari yang termurah, termahal, terpopuler atau banyak dibeli. Gramedia juga sering mengadakan berbagai flash sale atau diskon buku yang lumayan banget.


Sama seperti toko fisiknya, di gramedia.com juga kamu bisa membeli berbagai barang seperti peralatan tulis, tas, dan baju lho.


Tambahan lagi, gramedia.com juga punya blog yang isinya seputar rekomendasi-rekomendasi buku yang cocok buat kamu baca. Mantap deh!


2. Grobmart.com





Kalau hobi beli buku online yang lumayan murah karena sering diskon, Grobmart tentunya nggak asing lagi. Soalnya setiap gue buka grobmart.com, ada aja buku yang didiskon yang bikin godaan ngeluarin uang dari dompet.


Di laman utama websitenya, grobmart.com menampilkan kategori khusus bernama Deal of the Day. Di situ, pengunjung ditawari berbagai produk yang lagi didiskon pada hari tersebut.


Grobmart juga menyediakan fitur review untuk setiap bukunya. Jadi, pengunjung bisa cek-cek dulu review orang-orang sebelum akhirnya memutuskan membeli.


Seandainya saldo ATM kamu kosong kayak hati gue, tapi lagi pengen bel buku online di grobmart, jangan khawatir. Pasalnya, grobmart.com menyediakan pembayaran cash on delivery a.k.a COD.


Sama halnya dengan gramedia.com, grobmart.com juga nggak cuma jualan buku lho. Kamu bisa membeli barang-barang elektronik di sini seperti TV, AC, Mixer, dan lain-lain


2. Periplus.com





Kalau kamu ingin membeli buku online berbahasa Inggris atau buku-buku impor, maka periplus.com adalah tempat yang wajib untuk dikunjungi. Berdiri sejak tahun 1985, Periplus kini sudah memiliki kurang lebih 45 outlet yang biasanya ada di pusat perbelanjaan atau bandara.


Toko buku online periplus.com adalah yang terdepan untuk urusan buku-buku impor. Bahkan koleksi buku yang tersedia di sini mencapai *tarik napas…..* 21 juta buku!


Memang sih buku-buku impor itu lebih mahal dibanding buku Indonesia atau terjemahan, tapi jika berbicara kualitasnya sih cukup sebanding dengan harganya.


Untungnya, Periplus juga hobi ngadain diskon atau promo di hari-hari tertentu. Jadi dompetmu yang ingin belanja buku impor, nggak teriak-teriak amat.


3. Mojokstore.com




Selain terkenal dengan website yang isi postingannya bergaya satir, Mojok juga dikenal sebagai tempat terbaik untuk membeli buku online. Bahkan ada beberapa buku yang cuma di jual di mojokstore.com dan sulit dicari di toko buku lain.

Hal yang unik, ketika kamu membeli buku online di mojokstore.com, kamu akan mendapat bonus sebatang permen lolipop. 


4. Mizanstore




Tempat beli buku online selanjutnya adalah mizanstore.com. Yap, sebagai salah satu publisher buku terkenal di Indonesia, sudah tak aneh jika Mizan juga hadir di dunia maya dengan menjual buku-bukunya secara online.

Mizanstore.com menyediakan banyak sekali buku-buku menarik mulai dari komik, novel, ensiklopedia, dan banyak genre lainnya.


Selain membeli buku-buku terbaik, mizanstore.com juga menawarkan self-published dan e-book. Sehingga kamu yang punya cita-cita menerbitkan buku pribadi, bisa langsung berkunjung ke mizanstore.com. 


Untuk harga-harga yang ditawarkan di mizanstore.com juga tergolong murah karena banyak diskon di hari-hari tertentu atau ketika ada rilisan buku baru.


5. Togamas.com




Tampilan website togamas.com memang sedikit kaku dibanding toko buku online lainnya, tapi jika yang kamu pedulikan adalah buku online murah, sudah jelas togamas.com hadir untuk itu.

Di halaman utamanya, pengunjung akan disajikan kategori Buku Terlaris, Buku Baru, dan Buku Promo. Dari situ saja sudah cukup memudahkan pengunjung untuk mencari buku yang ingin dibeli secara tepat.


Selain itu, tentu aja ada search bar di bagian atas bagi kamu yang ingin mencari buku secara spesifik.


Togamas.com juga menawarkan ongkos kirim yang relatif murah. Hanya dengan 8 ribu rupiah saja, buku cantikmu langsung dikirimkan ke rumah.


6. Bukabuku.com




Bukabuku.com memang tidak seterkenal Gramedia atau Periplus, tapi bukabuku.com boleh dibilang toko buku online underrated yang perlu diperhitungkan. Kenapa? Harga yang ditawarkan di sini relatif murah karena banyak diskon atau promo.

Yang menarik dari toko buku bukabuku.com adalah adanya fitur Pojok Pengarang, sehingga pengunjung bisa tahu profil-profil penulis buku yang ada di bukabuku. Wah keren banget sih buat nambah-nambah wawasan.


7. Booksandbeyond.co.id




Selain ada Periplus, alternatif lain jika kamu ingin mencari buku-buku impor, bisa berkunjung ke website booksandbeyond.co.id. Books and Beyond menawarkan banyak buku maupun ebook menarik mancanegara baik itu novel, ilustrasi atau buku teks. Books and Beyond juga menjual buku-buku lokal.

Tak cuma jualan buku, di sini kamu bisa membeli berbagai mainan seperti action figure yang jarang dijual di tempat-tempat lain.


8. Kinokuniya.co.id




Kalau kamu ingin mencari buku online impor yang spesifik, misalnya buku Jepang atau Mandarin, kinokuniya.co.id jadi toko yang wajib kamu kunjungi.

Ya, Kinokuniya memang mengkhususkan menjual buku-buku impor jepang dari yang terbaru sampai langka sekalipun. 


9. Berdikaribook.red




Tempat beli buku online selanjutnya adalah berdikaribook.red. Toko buku online ini cukup berbeda dibanding toko-toko buku lainnya. Pasalnya, berdikaribook.red lebih banyak mengoleksi buku-buku seputar ilmu pengetahuan. Mulai dari agama, filsafat, politik, sosial, hingga sejarah.

Jadi buat kamu yang ingin menambah banyak wawasan seputar apapun, bisa langsung berkunjung dan beli buku di berdikaribook.red.


10. Bukukita.com


Bukukita.com adalah toko buku online selanjutnya yang direkomendasikan. Koleksi buku yang tersedia di sini pun cukup beragam, mulai dari novel, self improvement, agama, dan lain-lain. 


Satu hal menarik dari bukukita.com adalah adanya sistem points rewards setiap melakukan beberapa aktivitas di situs tersebut. Poin yang sudah dikumpulkan, nantinya bisa digunakan sebagai opsi alat pembayaran atau penambah pembayaran pada saat belanja di situs BukuKita.com. Jadi semakin rajin kamu berbelanja di sini, makin banyak poin yang bisa dikumpulkan.


11. Akubaca




Rekomendasi tempat beli buku online selanjutnya adalah akubaca.com. Koleksi buku yang tersedia di sini pun cukup komplit, karena bekerja sama dengan penerbit-penerbit buku di Indonesia.

Menariknya, di sini kamu bisa membeli buku dengan cara bundle/paket beberapa buku. Jadinya, harga yang ditawarkan akan lebih murah, dan kamu pun bisa dapat banyak buku.


12. Ecommerce




Kalau dari tadi membahas tempat beli buku online berbasis website, kini kita bahas juga nih tempat beli buku yang ada di eCommerce besar seperti Tokopedia atau Shopee.

Banyak juga toko-toko di kedua eCommerce tersebut yang menawarkan buku-buku online dengan harga yang terjangkau. Apalagi Shopee atau Tokopedia juga sering mengadakan diskon besar-besaran di hari spesial.


Kamu juga bisa menemukan toko-toko buku yang punya website pribadi, turut membuat akun di Tokopedia dan Shopee sehingga jangkauan penjualan pun semakin luas.


13. Media Sosial





Selain eCommerce dan website, mencari dan membeli buku online juga bisa kamu lakukan melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook loh.


Banyak akun-akun Twitter yang khusus menjual buku-buku menarik yang tak kalah komplit dibanding website-website toko buku besar. 


Apalagi di Twitter juga banyak loh yang jual buku-buku preloved berkualitas sehingga harganya cukup murah.


Nah itu tadi daftar tempat membeli buku online yang aman dan juga murah karena banyak diskon. Kamu tinggal pilih aja deh sesuai selera.


Baca Juga >> Mending Beli Buku Baru Atau Buku Preloved?