Friday, 19 March 2021

[Review Buku] Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Suatu sore di tahun 2019, gue iseng mampir ke toko buku Gramedia yang letaknya di depan masjid raya Kota Bogor. Gue nggak punya tujuan pasti mau beli buku apa. Cuma pengen mampir aja sambil melihat-lihat siapa tau ada buku diskonan.

Baru beberapa langkah masuk, gue langsung disuguhkan sebuah buku yang sangat eye catching sekali. Bagaimana nggak, buku ini punya cover berwarna oren kayak baju The Jack Mania.

Belum lagi judul bukunya ditulis dengan font super mencolok dan terkesan nyeleneh abis.

Sebuah Seni

Untuk Bersikap

Bodo Amat.

Eh eh buku apa nih????

Sepengetahuan gue, seni itu seperti seni lukis, seni musik, seni sastra, seni teater, dan macam-macam. Tapi kok ini ada sih seni bersikap bodo amat?

Dilanda rasa penasaran, akhirnya gue memutuskan membeli buku ini dengan harga 67 ribu. Kebetulan nggak ada diskon waktu itu huhu.

Buku Self-Improvement dengan Gaya Radikal.

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat adalah buku karya Mark Manson yang terbit pertama kali tanggal 13 September 2016. Buku yang versi Inggrisnya berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck ini kemudian terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di bawah naungan Gramedia Widiasarana Indonesia tahun 2018.

Baik dalam edisi Inggris maupun Indonesia, buku ini memang punya judul yang cukup nyeleneh. Terutama versi Indonesia yang malah gue anggap cukup radikal dengan menyebut seni bodo amat.

Penyampaian pesan yang radikal ini langsung terbukti di bab pertama yang gue baca. Pasalnya bab tersebut diberi judul…...Jangan Berusaha. Apa-apaan nih Mark?? 

Bab-bab selanjutnya pun nggak kalah nyeleneh. Misalnya, Kebahagiaan Itu Masalah, Anda Tidak Istimewa, Kegagalan Adalah Jalan Untuk Maju.

Untugnya, gue nggak seperti kebanyakan netizen pada umumnya yang cuma menelan mentah-mentah sesuatu setelah membaca judulnya saja. Setelah membaca sampai selesai dari setiap bab di buku ini, gue mengerti kenapa Mark Manson memilih menyampaikan teori-teorinya lewat penjelasan yang cukup nyeleneh.

Memilih Apa yang Penting Untuk Kita Pedulikan

Sebuah seni untuk bersikap bodo amat tak serta merta menyuruhmu tak acuh terhadap setiap hal yang ada. Sebaliknya, lewat buku ini Mark Manson berusaha memberi pengertian bagaimana kita, perlu memilih hal-hal yang dirasa penting untuk dipedulikan.

Ketika seseorang tidak memiliki masalah, pikiran secara otomatis akan menemukan cara untuk menciptakan suatu masalah. Menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam hidup kamu, mungkin jadi cara paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga. Karena jika kamu tidak menemukan sesuatu yang berarti, perhatian kamu akan terus tercurah ke hal-hal tak penting.

Pernyataan Mark benar adanya jika gue melihat kondisi di dunia maya sekarang. Bukan mau menyalahkan, tapi secara umum selalu aja ada hal-hal gak penting yang viral terus dibahas banyak orang. Hampir setiap hari selalu ada kasus seperti itu. 

Kalau mau mengambil teori dari Mark Manson di buku ini, berarti mereka-mereka ini (termasuk gue) belum menemukan sesuatu yang sangat penting di hidupnya sehingga perhatian ke hal-hal nggak pentingnya tercurah ke sana.

Makanya gue gak pernah menemukan kisah di mana Anthoni Salim (orang terkaya ke-4 di Indonesia yang punya salim group) ngeributin masalah lagunya Aldi Taher. Karena apa? Karena nggak penting dan dia bodo amat dengan masalah seperti itu. Banyak hal penting lain yang mau dipedulikan oleh Anthoni Salim.

Cerita Analogi Memudahkan Pesan yang Disampaikan

Buku ini banyak memberikan analogi atau kisah-kisah yang pernah terjadi untuk menyampaikan inti dari pesan yang sedang dibicarakan. 

Salah satu kisah paling menarik menurut gue adalah cerita tentang Problem Bintang Rock. Tahun 1983, seorang gitaris muda bertalenta dikeluarkan dari bandnya dengan cara paling buruk. Disebut buruk karena sang gitaris dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum debut rekaman band tersebut.

Diselimuti dendam yang membara, sang gitaris lalu membentuk bandnya sendiri. Merekrut pemusik yang jauh lebih baik dari teman-teman bandnya dulu. Bak dirasuki setan musik, ia berikrar bahwa band barunya ini akan sangat sukses dan band lamanya akan menyesali keputusan mereka selama ini.

Setelah beberapa tahun, band barunya berhasil menandatangani kesepakatan rekaman mereka sendiri, dan setahun setelah itu, rekaman pertama mereka diluncurkan ke pasaran.

Nama sang gitaris adalah Dave Mustaine, dan band baru yang dibentuknya adalah Megadeth. Bagi penggemar musik thrash metal, Megadeth adalah band legendaris dengan penjualan album mencapai lebih 25 juta copi, dan menggelar banyak tur. Dave Mustaine pun dianggap sebagai musisi paling brilian dan berpengaruh dalam sejarah heavy-metal.

Sayangnya, band yang mendepak bokong Dave Mustaine beberapa hari sebelum debut rekaman adalah Metallica, yang telah menjual lebih dari 180 juta album di seluruh dunia. Metallica adalah band rock terbesar sepanjang sejarah.

Kisah lain yang nyaris mirip terjadi tahun 1962. Sebuah band beranggotakan empat orang baru saja memecat sang drummer tiga hari sebelum rekaman pertama mereka dimulai karena dianggap terlalu tampan. Namanya adalah Pete Best. Posisinya di band tersebut lalu digantikan oleh Ringgo Star. Kamu pun sudah bisa menebak band apa yang dimaksud.

Enam bulan setelah peristiwa itu, demam The Beatles meledak di seluruh dunia. Di saat John dan kawan-kawan bermandikan popularitas, nama Pete Best seolah tak pernah ada dalam sejarah.

Meskipun lebih terpuruk dari rekan-rekannya, Best tak terlalu menyesali apa yang telah terjadi. Bahkan dalam sebuah wawancara tahun 1994, Best mengatakan “Saya lebih bahagia sekarang, dibanding jika saya masih bertahan di Beatles”.

Dave Mustain yang merupakan seorang rockstar mengukur kebahagiaan dengan kesuksesan yang diraih oleh Metallica. Ketika diwawancara tahun 2003, Mustaine berlinang air mata mengakui kalau dia masih saja menganggap dirinya sebagai sebuah kegagalan. Di luar semua pencapaiannya yang mengagumkan, dalam benaknya akan selalu terngiang kalau dia cuma orang buangan Metallica.

Lewat kisah tersebut, Mark Manson mencoba menyampaikan pesan jika kita mengukur diri kita dengan ukuran yang berbeda. Kehidupan Pete Best jauh lebih tentram dibanding kehidupan Dave Mustaine karena mereka mengukur kesuksesannya dengan cara berbeda. Toh, kesuksesan hanyalah fatamorgana. Kunci tentang kehidupan yang lebih baik bukan memedulikan lebih banyak hal, tapi peduli hal-hal sederhana yang dirasa mendesak dan penting.

Selain kisah di atas, masih banyak lagi cerita-certia atau analogi menarik yang dibuat oleh Mark Manson di dalam buku ini.

Apa Sih Arti Bahagia?

Pertanyaan seputar kebahagian mungkin jadi salah satu pertanyaan dengan jawaban sejuta makna. Setiap orang memiliki versi kebahagiaannya masing-masing. Dalam buku ini, Mark Manson menyebut jika kebahagian berasal dari memecahkan masalah. 

Masalah adalah konstanta dikehidupan kita. Masalah tidak pernah berhenti, akan datang silih berganti. Kuncinya ada pada memecahkan masalah dan bukan menghindarinya. Ketika kita mampu memecahkan sebuah masalah, di sana lah kebahagian akan muncul. Karena kebahagiaan adalah akibat bukan sebab. 

Jadi, jangan tanya kepada seseorang tentang apa yang kamu inginkan? Tapi rasa sakit dan risiko apa yang ingin kamu lalui?

7,5/10 Untuk Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat Karangan Mark Manson

Data Buku

Judul          : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Pengarang  : Mark Manson


Penerbit      : Gramedia Widiasarana Indonesia


Cetakan      : XVIII/Januari 2019


Halaman     : 246 Halaman


ISBN 13     : 978-602-452-698-6


Baca Juga >> [Review Buku] RE:, Kisah Pelacur Dalam Jeratan Bisnis Esek-Esek


Previous Post
Next Post

7 comments:

  1. Woh, jadi rajin bahas buku lu sekarang, Jeh. Haha.

    Gue akui belum baca buku ini karena lebih fokus ke fiksi dalam dua tahun terakhir. Tapi kayaknya udah banyak ulasan yang gue baca tentang buku ini dan mulai dapat gambaran isi bukunya seperti apa. Betul juga itu analogi kisah band. Dibayang-bayangi band masa lalu yang sama besarnya bikin dia kayak sampah. Satunya lagi cuma orang biasa justru bahagia. Cara pandang hidup yang kontras banget.

    Kayaknya kenapa belakangan ini banyak hal enggak penting yang viral tuh akibat pandemi, sih. Orang-orang yang takut keluar rumah seringnya melarikan diri ke dunia maya, khususnya Twitter, dan di sana mayoritas orang mulai mengekspresikan kegilaannya. Ketika banyak orang pengin bacot tanpa menahan diri, ya jadinya riuh banget gitulah.

    Btw, gue bahkan udah denger tiga versi lagu si Taher. Bangke banget rasanya hidup ini masih sempet-sempetnya tahu hal begituan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya soalnya gue kalau abis baca lupa suka lupa isinya apaan. Makanya dari pada gak dapet ilmunya karena lupa, mending dicatet terus ditulis di blog.

      Hmm bisa juga ya. Karena kita nggak tau lagi mau ngapain di rumah, jadi hal-hal gak penting pun bisa menarik perhatian orang

      lagu aldi taher kalau terus-terusan didengerin jadi enak :(

      Delete
  2. saya sering banget baca review buku ini, tapi baru sekarang jadi pengen banget baca buku ini.

    Btw lucu ya, bab-babnya dikasih judul yang bikin orang jadi kepo maksimal.

    Dan setuju banget tuh, jangan tanya kepada orang lain apa yang kita inginkan, resiko apa yang kita lalui itu lebih penting :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mba, beli bukunya. Lumayan bagus sih menurut gue

      Delete
  3. sekarang dirimu sering riview buku ye jeh, tapi kemaren gw sempet baca ikan cupangnya sih wekekekke...buku ini aku udah baca reviewnya di banyak blogger...sekarang nambah lagi referensinya

    gw fokus di bab terakhir pembahasan...memang benar selama nafas masih ada dalam raga, masalah akan terus datang silih berganti, bedanya di porsiannya apakah masih dalam taraf yang bisa ditangani secara cepat atau butuh waktu penyelesaian yang ga instan...ya dan lagi lagi memang ini ada pada diri aendiri.mampukah kita menghadapinya dan mencoba memberwskannya atau justru melarikan diri darinya dan mencoba denial?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya cita-cita saya mau jadi book blogger wkwk

      Nah bener. cobaan mah gak akan pernah berhenti, jadi gimana kita menyikapinya aja

      Delete
  4. Mau beli buku ini masih maju mundur, takutnya kek yang udah-udah beli buku cuma jadi pajangan aja. Serada ribet ya bun mau baca sambil leyeh-leyeh sementara bocah tiga pada nggak mau diem. hahaha...

    reviewnya menarik, Mas

    ReplyDelete