Monday, 5 April 2021

Pakai MyValue, Diskonnya Bikin Ngilu!


Gue adalah tipe orang yang beli barang kalau lagi butuh aja. Misalnya, waktu belanja ke Alfamart, dari rumah niat beli shampo, pulangnya ya bawa shampo. Gue jarang tergoda dengan produk-produk lain yang memang nggak butuh-butuh banget gue beli. 


Beda halnya dengan salah satu temen gue dulu. Niatnya beli cemilan, pulang-pulang bawa es krim, mie goreng, sampai sikat gigi. Gue curiga, temen gue ini memang hobi nyemilin sikat gigi.


Selain karena butuh, alasan lain yang bikin gue tertarik untuk membeli suatu produk adalah karena lagi ada promo atau diskon. Ya, jiwa hemat pangkal kaya gue lumayan menggebu-gebu tiap ada tanggal cantik.


Contoh paling baru ketika gue pengin beli buku. Kebetulan, waktu itu Gramedia lagi ulang tahun ke-47. Dalam rangka tersebut, mereka menyelenggarakan diskon besar-besaran berupa potongan harga sampai 100 ribu dengan minimal pembelian 200 ribu. Mata gue langsung berbinar-binar karena diskonnya bisa sampai 50%.


Setelah mencari tahu, ternyata diskon tersebut khusus pengguna aplikasi MyValue. Jujur, waktu itu gue nggak pernah tahu apa itu MyValue. Jangankan tahu, denger aja belum pernah kayaknya.


Nggak perlu waktu panjang bagi gue buat langsung mengetik Aplikasi MyValue di search bar Google untuk menelaah lebih dalam. 


Nah ternyata MyValue adalah aplikasi digital berupa reward program dari Kompas Gramedia Group. Sebelumnya, berbentuk kartu KG Value Card dengan 13 jenis kartu berbeda. Kartu tersebut antara lain Santika Important Person, Gramedia Card, Gramedia Kids, Miiko, Kompas, The Jakarta Post, Bentara Budaya, Klub Bobo, Klub Nova, Kontan, Kompasiana, ELTI dan UMN.


Tentu aja dengan banyaknya kartu untuk setiap pelayanan, malah bikin pusing karena harus mengoleksi beraneka ragam kartu. Belum lagi kalau lagi marah-marah, bisa juga dapet kartu…..merah. Nah dengan MyValue inilah, pelanggan bisa menikmati berbagai kemudahan. 


Seperti sempat gue bilang, MyValue merupakan reward program dari Kompas Gramedia Group, sehingga dengan aplikasi ini pelanggan dimudahkan untuk menikmati aneka promo menarik hanya dengan menukarkan Value Point di aplikasi MyValue. Mulai dari promo harga khusus hotel, buku murah, voucher gratis, diskon makanan, minuman, fashion, hiburan hingga pendidikan.


Jadi, setiap kita membeli produk atau menggunakan layanan dari Kompas Gramedia Group, bakal mendapatkan Value Point, yang nantinya bisa ditukarkan dengan macam-macam promo menarik.


Sekarang, gimana sih cara pakai aplikasi MyValue?


1. Unduh Aplikasi MyValue di Playstore atau Appstore





Langkah pertama untuk memakai aplikasi MyValue tentu aja install dulu dong. Tim android bisa mencari di Playstore. Tim apple, bisa pergi ke App Store. Tim Nokia Symbian, tinggal masuk ke mesin waktu terus pergi ke masa sekarang.


2. Daftar Akun MyValue





Setelah selesai mengunduh, maka tiba waktunya untuk membuat akun baru di aplikasi MyValue. Ada tiga pilihan yang ditawarkan, daftar lewat akun Google sehingga terverifikasi otomatis, daftar dengan Facebook, atau bisa juga daftar menggunakan email.


Kalau gue lebih prefer daftar lewat akun Google supaya terintegrasi dengan berbagai akun yang sudah gue buat.


3. Tunggu Kode Aktivasi




Setelah selesai mengisi data diri, termasuk nomor telepon. Kini giliran kamu menunggu kode aktivasi yang akan dikirim melalui SMS. Nggak perlu nunggu lama sampai akhirnya kode aktivasinya dikirim. Beda halnya sama kode gebetan yang dari dulu udah dikodein tapi masih belum respons-respons ckckc.

4. Nikmati Berbagai Keuntungan dari Aplikasi MyValue




Setelah memasukkan kode aktivasi, artinya kamu sudah sah terdaftar sebagai pengguna aplikasi MyValue. Itu artinya, kamu sudah bisa menikmati promo-promo menarik yang ditawarkan oleh Kompas Gramedia Group.

Dalam kasus gue waktu itu, gue berhasil mendapatkan diskon membeli buku di Gramedia sebesar Rp100.000. Perlu dicatat, pembelian bukunya atau produk lainnya harus dilakukan secara offline. Jadi, kamu wajib menunjukkan voucher yang ada di aplikasi MyValue ke kasir.


Semoga ke depannya, makin banyak lagi nih diskon-diskon yang dikasih Kompas Gramedia Group. Solanya kalau pakai MyValue, diskonnya bikin ngilu!


Saturday, 3 April 2021

Pengalaman Bermain Mini Soccer di Bromelia Sport Center


Tanggal 28 Maret 2021 kemarin, gue diajak temen buat main sepak bola mini atau mini soccer di Bromelia Sport Center. Ajakan itu, tentu langsung gue iyakan tanpa perlu pikir panjang. Alasannya, pertama, karena gue udah lama banget nggak olah raga. Ya, sejak pandemi, gue memang banyak mengurangi aktivitas di luar ruangan. Padahal mah memang mageran aja anaknya. Kedua, ini adalah kali pertama gue berkesempatan buat menjajal lapangan Mini Soccer di Bromelia Sport Center.

Sebagai salah satu atau bahkan satu-satunya lapangan mini soccer yang ada di daerah Bogor, membuat Bromelia Sport Center jadi tempat yang lagi banyak diomongin di scene anak-anak bola Bogor. Tentu aja, hal ini bikin gue penasaran, seperti apa sih lapangan yang letaknya di daerah puncak Bogor ini?

Akes ke Bromelia Sport Center





Meskipun berada lumayan jauh dari pusat kota Bogor, namun akses ke Bromelia Sport Center cukup mudah. Alamat lengkapnya di Jl. Hankam No.51, RT.01/03, Leuwimalang, Kec. Cisarua, Bogor. Gampangnya, kalau berangkat dari Bogor Kota, tinggal melewati jalan yang ke arah Puncak. Atau kalau mau gampangnya lagi, tinggal buka maps dan ketik Bromelia Sport Center. Soalnya, letaknya nggak di pinggir jalan, tapi harus masuk dulu ke dalam gang.

Waktu itu, gue berangkat naik motor sehingga nggak terkena macet di jalan puncak. Padahal itu adalah hari Minggu. Jadi mungkin saran dari gue sih, kalau mau naik mobil, apalagi di waktu weekend, perlu datang sedini mungkin. Amit-amit kalau taunya kena sistem buka tutup juga.

Fasilitas di Bromelia Sport Center



Sebagai tempat olahraga baru di Bogor, Bromelia Sport Center dibekali oleh kualitas lapangan yang sangat bagus. Mulai dari rumput, gawang, sampai jaring pembatas lapangan yang masih terawat dengan baik.

Salah satu keunikan dari Bromelia Sport Center, adalah adanya locker room untuk dua tim yang bertanding. Locker room ini bukan cuma berfungsi sebagai ruang ganti aja, tapi cuma tempat foto-foto yang instagramable. Kalau fotografernya jago, bisa berasa lagi di foto di locker room Old Trafford sebelum tanding

Selain itu, fasilitas penunjang lainnya seperti mushola, kafe, dan bahkan tempat nobar pun tersedia di sini. Jadi cukup nyaman kalau memang mau mengajak pacar atau keluarga nontonin kamu main.

Area parkir yang disediakan juga cukup luas. Jadi jangan khawatir kalau bawa mobil dan bingung mau parkir di mana.

Mungkin salah satu hal yang gue suka dari tempat ini adalah, suasana yang enak banget. Gimana nggak, lokasinya di sekitar puncak, bikin udara masih segar. Apalagi ditambah cuacanya yang lumayan dingin, bawaannya pengen dipeluk kamu. Padahal waktu itu, gue main jam 2 siang!

Nggak kebayang kalau main malem sekitar jam 7 atau 8an, mungkin udah kayak main di Liga Champions alias cuaca eropa banget!

Berapa Harga Sewanya?



Bromelia Sport Center buka dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam. Nah untuk biaya sewa per jamnya sendiri sebenarnya nggak mahal-mahal banget. Apalagi waktu gue main, karena tempat ini baru dibuka, jadi lagi ada promo dari Maret sampai April yang lumayan.

Daftar harga sewa lapangan Bromelia Sport Center (Harga promo Maret-April):

Pukul 08.00 - 11.00 WIB: IDR 300.000 jadi IDR 250.000
Pukul 11.00 - 14.00 WIB: IDR 250.000 jadi IDR 200.000
Pukul 04.00 - 16.00 WIB: IDR 300.000 jadi IDR 250.000
Pukul 16.00 - 23.00 WIB: IDR 350.000 jadi IDR 3000.000

Apa Perbedaan Mini Soccer dan Futsal?




Nah mungkin banyak yang belum tahu, sebenarnya apa sih yang membedakan antara mini soccer dengan futsal? Padahal kan dua-duanya main pakai bola dan tujuannya cetak gol ke gawang lawan.

Perbedaan paling mendasar dari olahraga turunan sepak bola itu adalah dari luas lapangan dan jumlah orang yang bermain. Dalam permainan futsal, luas lapangan biasanya berukuran panjang 25-42 meter dan lebar 15-25 meter. Sedangkan lapangan standar mini soccer adalah 12,5 x 25 meter.

Untuk jumlah pemain tiap tim, futsal terdiri dari lima orang termasuk penjaga gawang. Sedangkan mini soccer dimainkan 7 lawan 7 atau ada juga yang 9 lawan 9. Keduanya nggak punya aturan offside. Tapi di mini soccer, kalau bola keluar lapangan, harus dilempar. Beda halnya dengan futsal.

Perlu diperhatikan juga sepatu apa yang dipakai untuk bermain mini soccer. Pasalnya, waktu gue main di Bromelia Sport Center, gue memakai sepatu futsal. Alhasil, setiap gue berlari terus berhenti tiba-tiba, akan otomatis terpeleset. 

Jadi, kalau kamu pengen main mini soccer di Bromelia Sport Center, harus pakai sepatu bola dengan pull supaya nggak licin. Terutama kalau lapangan habis kehujanan sehingga rumput jadi basah.

Bonus foto-foto waktu main. Karena main bola zaman sekarang tujuan utamanya bukan nyari keringet, tapi nyari pose foto yang bagus buat dipost di Instagram!















Thursday, 1 April 2021

Buku-buku Gue di Bulan Maret 2021



Bulan Maret jadi bulan paling produktif bagi gua dalam hal membaca buku. Kurang lebih ada 9 buku yang berhasil gue tamatkan. Malah beberapa bukunya sempat gue bikin reviewnya di blog ini.

Sebenarnya, gue lagi membangun kebiasaan untuk rajin membaca buku. Hal ini berawal ketika gue lagi berjelajah di Quora, dan menemukan sebuah thread tentang profil Elon Musk. 

Siapa sih yang nggak tahu Elon Musk? Bagi gue Elon Musk adalah Tony Stark in real life. Dia pencipta mobil super canggih yang dinamakan Tesla. Punya roket Starship SpaceX yang diharapkan kelak jadi alat transportasi ke Mars. Juga punya anak yang diberi nama X Æ A-12 Musk yang bikin pegawai kelurahan kebingungan waktu bikin akte kelahiran.


Salah satu fakta yang menarik tentang Elon Musk adalah kebiasaannya membaca buku kurang lebih 10 jam setiap hari. Bayangin, 10 jam loh! Nggak heran kepala Elon Musk isinya ilmu semua bukan info-info gosip dari Lambe Turah.


Menurut gue, membaca itu adalah salah satu kebiasaan yang effortless alias gak perlu membebani tubuh. Kita bisa sambil rebahan, dengerin musik, garuk-garuk punggung. Beda halnya kayak hobi olahraga yang membutuhkan gerak seluruh badan. Duh gak cocok buat anak-anak mageran seperti gue. Apalagi perintah pertama Tuhan kepada umat muslim adalah Iqro a.k.a bacalah. 


Jadi gue mau urutin, daftar buku-buku yang gue baca selama bulan Maret kemarin.


1. Laut Bercerita


Laut Bercerita merupakan buku karangan Leila S. Chudori yang rilis tahun 2017. Jujur, pertama kali lihat cover buku ini, gue pikir bergenre fantasi yang ringan untuk dibaca. Tapi, setelah gue tahu, Laut Bercerita adalah buku yang lumayan dalem, baik itu dari sisi cerita maupun makna yang disampaikan.


Bergenre His-Fi, Laut Bercerita mengangkat kisah para mahasiswa Indonesia yang hilang secara misterius di era orde baru. Perjuangan mereka yang menuntut keadilan atas kepergian 13 orang yang sampai saat ini tidak ada kejelasannya, menjadi pesan penting yang ingin disampaikan oleh Laila.


Laut Bercerita berhasil membawa gue menyelami bagaimana kelamnya sejarah hitam bangsa Indonesia di bawah pimpinan Soeharto.


2. Keajaiban Toko Kelontong Namiya


Mungkin Keajaiban Toko Kelontong Namiya karya Keigo Higashino jadi buku favorit yang gue baca di bulan Maret. Cukup satu kata untuk menggambarkan seluruh isi dari buku ini, Heartwarming. Premisnya unik, ceritanya menyenangkan, dialog antar karakternya juga bikin hati adem kayak lagi tiduran di lantai mushola.


Menceritakan tentang sebuah toko kelontong bernama Namiya yang menjadi tempat curhat orang-orang melalui surat. Tapi siapa sangka, kalau toko itu punya daya magis. Pasalnya, aliran waktu di dalam toko tersebut seolah berhenti. Bahkan mereka yang di dalam, bisa berinteraksi dengan dunia masa lalu melalui surat.


Hal lain yang bikin buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya istimewa adalah adanya keterkaitan dari setiap tokoh diceritakan meskipun mereka berada di lini waktu yang berbeda. Jadi saran gue kalau mau baca buku ini, jangan terlalu buru-buru dan harus ingat setiap karakter yang diceritakan.


3. Tuhan Ada di Hatimu


Alasan kenapa gue membaca buku ini tak lain tak bukan karena sosok Habib Husein Ja'far Al-Hadar. Dijuluki sebagai imam pemuda tersesat, The Light of the Darkness, The Protector level 3.


Habib Husein dikenal sebagai pendakwah yang sedang naik daun di kalangan anak muda. Apalagi dengan kontennya bersama Coki dan Muslim yang diberi tajuk Pemuda Tersesat. Tayangan itu sukses menyita atensi banyak anak muda tersesat, termasuk gue, untuk kembali ke jalan yang lurus. Karena menurut Habib Ja’far, tersesat di jalan yang benar lebih baik daripada benar di jalan yang tersesat.


Di buku Tuhan Ada di Hatimu, Habib Ja’far mencoba memberi banyak perspektif baru terhadap Islam. Banyak kutipan-kutipan menarik yang mungkin bisa mencerahkan isi hati seseorang. Salah satu kutipan favorit gue adalah “Dakwah itu memberikan kabar gembira bukan ketakutan, memudahkan bukan mempersulit, mempersatukan bukan mencerai-beraikan”


Tersesat oh tersesat, Astagfirullah!


4. Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia


Baca buku ini terasa lagi main game Civilization VI. Buku Sapiens karangan Yuval Noah Harari nyeritain tentang proses sejarah manusia yang berasal dari sebuah zat hingga menjadi “Tuhan” di muka bumi.


Ya, meskipun terkesan pelajaran biologi banget, tapi Sapiens menjelaskan banyak bidang keilmuan seperti ekonomi, sosial, budaya, geografi, fisika, kimia. Mungkin hanya satu ilmu yang gak ada di buku ini yaitu:


Ilmu Agama. Chaaaks!!


5. Re:


Judul bukunya memang hanya Re:, tapi jangan harap isinya sesingkat dua hurut tersebut. Re: adalah buku karya Maman Suherman yang diangkat dari hasil skripsinya tentang industri prostitusi di Jakarta. Re: sendiri adalah nama samaran untuk seorang pelajar yang dijadikan objek penelitian oleh Maman.


Maman Suherman menyampaikan keseluruhan buku ini dengan apik. Gue jadi banyak tahu bagaimana dunia esek-esek yang sebenarnya. 


6. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Yes, salah satu buku self-improvement paling populer dalam dua tahun belakangan ini. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat adalah buku motivasi dengan paham “radikal” karangan Mark Manson. Buku ini banyak mengajarkan hal-hal yang malah dilarang oleh buku motivasi lainnya. 


Tengok aja sub judul di buku ini seperti Kebahagiaan Itu Masalah, Anda Tidak Istimewa, Kegagalan Adalah Jalan Untuk Maju, dan Jangan Berusaha! Apa-apaan nih.


Tapi ada maksud terselubung di dalam sub judul tersebut, dan kamu perlu langsung membacanya untuk bisa memahami makna sesungguhnya.


7. The Star and I


The Star and I mungkin jadi buku yang paling gue sesali untuk dibaca bulan Maret ini. Kayaknya buku ini memang bukan gue banget. Ceritanya terlalu menye-menye dan alurnya pun datar-datar aja.


karya pertama Ilana Tan yang gue baca gagal memikat. Mungkin buku ini sangat bagus kalau dibaca pas gue berubah jadi anak cewek baru masuk SMP.


8. Malice: Catatan Pembunuhan sang Novelis


Seolah telah jatuh cinta kepada Keigo Higashino gara-gara Keajaiban Toko Kelontong Namiya, akhirnya gue bertekad untuk membaca buku Higashino lainnya. Pilihan pun jatuh kepada Malice: Catatan Pembunuhan sang Novelis.


Meskipun pengarangnya sama, tapi Malice dan Namiya bak dua sisi mata uang, saling bertolak belakang. Jika Namiya memberi kesan menyentuh, maka Malice malah membuat gue banyak berpikir. Malice memang buku detektif tentang pengungkapan kasus pembunuhan seorang novelis.


Gak seperti buku detektif lain, kisah di Malice bukan fokus untuk mencari siapa pelakunya, tapi motif apa yang membuat pelaku tega membunuh.


9. Persisten


Buku terakhir yang gue baca di bulan Maret adalah buku Persisten karangan Pandji Pragiwaksono dan Muhammad Husnil. Buku ini mengangkat kisah kerja keras seorang Pandji dalam melakukan Stand Up Comedy World Tour ke 5 benua. 


Meskipun pepatah ini klasik, tapi pepatah ini nggak pernah salah yaitu Tekun & kerja keras memang nggak akan pernah mengkhianati hasil. Yap, pesan yang coba disampaikan lewat buku Persisten.


Melihat banyaknya buku yang gue baca selama Maret ini, semoga bisa jadi batas dasar gue untuk membaca buku lebih banyak lagi di bulan berikutnya. Tentu jangan cuma membaca, tapi bisa meresapi apa yang disampaikan sang penulis dalam bukunya.


Ciao!