Wednesday, 3 November 2021

Toxic Masculinity yang Jarang Kita Sadari #KeributanSosialMedia

Toxic Masculinity jadi topik yang ingin gue bahas di tajuk #KeributanSosialMedia edisi kedua ini. Setelah di edisi pertama kemarin, membahas video wasit sepak bola Indonesia yang gak becus memimpin pertandingan.

Keresahan seputar Toxic Masculinity pertama kali diungkapkan oleh akun @thepan_316 yang langsung mendapat banyak respons dari warganet. Sampai saat ini, tweet tersebut sudah mendapatkan 3.541 retweet, 1.546 quote tweet, dan 18,4 ribu like. 

Mas Thepan bertanya kira-kira apa aja sih Toxic Masculinity yang ada di era sekarang. Ia lalu memberi contoh seperti nyetir mobil matic dibilang banci, minum jus strawberry disebut feminim, suka Power Rangers kayak bocah, suka koleksi toys dianggap autis.

Karena memang tweet itu didasarkan pertanyaan, akhirnya warganet berlomba-lomba memberi contoh lain tentang Toxic Masculinity di zaman sekarang.

Nah mungkin masih ada yang bingung, apa itu Toxic Masculinity? Kenapa istilah tersebut ramai dibahas belakangan ini?

Sebelum nyari tahu tentang Toxic Masculinity, kayaknya kita juga perlu tahu nih tentang maskulinitas itu apa. Yang bilang maskulinitas asalnya dari Jawa gue tampar ya.

Maskulinitas pada dasarnya adalah sebuah stereotipe yang dimiliki oleh seorang pria sesuai standar abstrak yang sudah ditentukan oleh budaya. Dalam arti lain, standar cowok tuh gini loh. Kayak cowok itu kuat, mandiri, gak cengeng, agresif dan sebagainya. Kalau dilihat dari contoh tadi, tentu aja gue jauh sekali dari kriteria cowok maskulin. Bukan maskulin, tapi enak dipukulin.

Sterotipe yang harus melekat dalam diri seorang laki-laki inilah yang berakibat munculnya istilah Toxic Masculinity. Orang yang Toxic Masculinity, bakal menganggap jati diri seorang laki-laki harus sesuai dengan kaidah maskulinitas. Laki-laki yang lemah, bakal mereka sebut banci. Laki-laki yang gampang nangis, bakal mereka sebut cengeng. Laki-laki yang sensitif bakal mereka sebut mirip perempuan.

Seperti nama istilahnya, sifat Toxic Masculinity ini adalah racun yang membuat laki-laki merasa terbebani dengan stereotipe yang harus mereka miliki. Ujung-ujungnya, mereka tidak percaya diri, sulit bergaul, nggak dianggap, dan bahkan bisa sakit mental.

Isu ini lah yang membuat tweet dari mas Mas Thepan mendapat banyak respons. Hampir isi replynya, mayoritas setuju agar Toxic Masculinity harus dihapuskan sehingga laki-laki punya kebebasan untuk bersikap.

Gue pun sebenarnya salah satu korban dari Toxic Masculinity ini. Temen sekolah gue pernah bilang gini, "Cowok kok nulis diary sih". Dih emang kenapa ya kalau gue hobi nulis diary.

Tapi bukan cuma temen gue, guru gue pun sampai bilang kayak gitu, "Cowok kok nulis diary sih!"

Sampai kepala sekolah datengin gue sambil marah-marah, "Cowok kok nulis diary sih!!!!!"

Gue makin heran, kenapa banyak yang nggak suka gue nulis diary. "Memangnya kenapa kalau saya nulis diary pak?" tanya gue ke kepala sekolah.

"Kamu ini cowok, nulis diary........di tembok kelas!!!! Lihat tuh sekeliling kelas kamu!!!"

Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary Diary.

Latest
Next Post

2 comments:

  1. toxic masculinity ini emang bikin empet kok
    aku pernah kenak soalnya aku ga bisa manjat
    ga bisa benerin lampu, genting dan lain lain
    untung aku masih diberi anugrah bisa cari uang jadi bisa bayar tukang kalau lampu rumah rusak
    memang pandangan ini masih terus ada sampe sekarang

    ReplyDelete
  2. Wah, asli sih gue baru tau ada istilah toxic masculinity ya skrg? ada2 aja sebutn skrg dah. meski emg contoh di kehidupan sosialnya gue sering nemu kyak gtu sih, tntang sterotipe cowok tuh hrs kuat lah bablablaa. pdhal ya bner jg ga enak, jd gak bebas bgaimana hrs bersikap dan bkin gak percaya diri. Mau gmn lg sih, biar apa pun yg kita lakukan tuh psti emg gak luput dari org2 yg ngejudge yaak.. Haha. Jd yaudalah biarin aja. Gue jg bhkan sering dibilang suka kartun kayak anak kecil lahh.. padahal yg ngmng kaga tau aja klo anime ceritanya hampir kbnyakan buat 18+ dari cerita yg gore dan macem2 dah... kan gak banget klo ditonton anak kecil yg blm paham apa2 yekann...

    yaudala. wkwk

    ReplyDelete