Trainwreck: Woodstock 99’, Kisah Kacaunya Pertunjukan Festival Musik Terbesar Dunia


Woodstock 99' sejatinya hadir sebagai konser musik terbesar di era 90-an. Sayangnya, apa yang dicita-citakan dengan semangat perdamaian, cinta dan kebahagiaan berakhir bencana. Melalui serial dokumenter Netflix, Trainwreck: Woodstock 99’, kita akan menyaksikan kisah kacaunya pertunjukan konser musik terbesar dunia tersebut.


Sejarah Woodstock




Dalam sebuah daftarnya, majalah Rolling Stone memasukkan festival musik Woodstock sebagai 50 Moments That Changed the History of Rock and Roll. Mengambil tajuk An Aquarian Exposition: 3 Days of Peace & Music, Festival Musik Woodstock yang berlangsung tahun 1969 mengemban semangat tentang perdamaian. 


Ini merupakan bagian dari perlawanan terhadap sejumlah kasus kekerasan yang  terjadi di era tersebut. Mulai dari Martin Luther King terbunuh, senator Robert F. Kennedy yang ditembak mati, hingga konflik Vietnam yang terus berlangsung sengit.


Festival Musik Woodstock 69’ lalu muncul sebagai solusi bagi orang-orang yang menginginkan perdamaian. Sekitar 500 ribu penonton memadati tanah peternakan Max Yasgur yang luasnya 240 hektare di Bethel, New York, selama tiga hari berturut-turut untuk bernyanyi, mabuk, dan melepas segala kekhawatiran tentang kekerasan di Amerika Serikat. 


Festival ini juga disebut sebagai perayaan kaum hippies yang dikenal sebagai kelompok orang dengan dandanan nyentrik yang mendukung kehidupan damai antar makhluk hidup.


Trainwreck: Woodstock 99’




Kesuksesan Woodstock 69’, membuat pihak penyelenggara memutuskan untuk membuat lanjutan festival Woodstock pada tahun 1994 dan 1999. Namun, kedua festival tersebut, tidak sesukses seperti apa yang terjadi pada konser pendahulunya. Malah, Woodstock 99’ bisa dibilang berakhir dengan bencana besar.


Netflix coba kembali mengangkat kisah festival musik Woodstock 99’ sebagai film dokumenter dalam judul Trainwreck: Woodstock 99’. Disutradarai oleh Jamie Crawford, Trainwreck: Woodstock 99’ menampilkan sosok-sosok penting di balik gelaran konser musik tersebut dan juga para penonton yang jadi saksi mata Woodstock 99’.


Kita akan diajak melihat perspektif kekacauan Woodstock 99’ dari berbagai sudut pandang. Misalnya dari Michael Lang, yang merupakan Co Founder Woodstock. Dalam wawancaranya, Lang seperti tak mengakui tentang kekacauan yang terjadi pada konsernya. Lalu ada Ananda Lewis, sebagai presenter dari MTV yang meliput langsung konser Woodstock 99’. Bahkan kita pun bisa melihat dari sudut pandang Chris, sebagai seorang stage security yang terlibat sebagai barikade antara penonton dan panggung.


Lokasi yang Bermasalah




Mimpi buruk Woodstock 99’ harusnya sudah bisa diprediksi sejak pihak penyelenggara memilih lokasi pertunjukan. Tidak seperti Woodstock 69’ yang berlokasi di sebuah peternakan luas, Woodstock 99’ malah mengambil tempat di sebuah pangkalan angkatan udara di Roma, wilayah negara bagian New York. 


Benar saja, konser yang dimulai sejak siang hari, membuat suasana sangat panas. Terik matahari yang langsung tertuju ke beton dan aspal di atas area konser, membuat penonton yang hadir layaknya terpanggang hidup-hidup. Penonton juga harus berjalan sekitar 3 Km untuk berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya.


Harga Makan dan Minuman yang Mahal




Fasilitas yang disediakan pihak penyelenggara tidak sebanding dengan jumlah 300 ribu penonton yang hadir. Misalnya saja, toilet, tempat sampah hingga air bersih. Hal ini membuat area Woodstock sangat kotor dan menjijikan.


Belum lagi ditambah dengan harga makan dan minuman yang dijual sangat mahal. Tidak ada pilihan lain bagi penonton selain membelinya atau pingsan kehausan. Penonton yang merasa diperas habis-habisan oleh pihak penyelenggara mulai menimbulkan kekacauan di mana-mana. Berbagai fasilitas seperti toilet, pancuran air mandi, dan tembok-tembok yang terbuat dari kayu mereka hancurkan.


Pelecehan Seksual di Mana-Mana




Satu hal yang meninggalkan jejak traumatis terhadap festival musik Woodstock 99’ adalah banyaknya kasus pelecehan seksual selama 3 hari konser berlangsung. Di bawah pengaruh alkohol, para pria tak segan untuk memegang bagian-bagian sensitif wanita. 


Menurut laporan, ada lima kasus pemerkosaan di Woodstock 99’. Serta lebih banyak kasus pelecehan dan penyerangan seksual sepanjang acara.


Sayangnya, Michael Lang, yang merupakan Co Founder Woodstock, seolah melepas tanggung jawab atas apa yang terjadi sepanjang Woodstock 99’.


Puncak Amarah




Bak bensin yang sudah menyebar di mana-mana, Woodstock 99’ hanya membutuhkan satu percikan api kecil saja untuk menyulut api besar. Itulah yang terjadi pada hari ketiga konser berlangsung.


Red Hot Chili Paper yang didaulat sebagai band pamungkas, tampil trengginas dengan gaya khasnya. ketika lagu Under The Bridge dinyanyikan, pihak penyelenggara berinisiatif membagikan ribuan lilin ke penonton sebagai simbol perdamaian.


Sayangnya, apa yang diharapkan malah sebaliknya. Ribuan lilin yang menyala malah dimanfaatkan oleh sekelompok penonton mabuk untuk membakar segala hal yang mereka temui di area konser. Titik-titik api besar mulai terlihat yang menimbulkan kepanikan. Berbagai tenant makanan dan ATM jadi target para perusuh dengan niat menjarah isinya. 


Sampai akhirnya, pihak kepolisian setempat turun tangan untuk mencegah kerusuhan tidak melebar ke mana-mana.


Woodstock 99’ pun berakhir dengan semangat yang sama sekali dibenci oleh Woodstock 69’, kekacauan dan kekerasan.



No comments:

Powered by Blogger.